Penyebab Jatuhnya Lion Air PK-LQP Diungkap, Ini Kilas Balik Peristiwanya

ADVERTISEMENT

Penyebab Jatuhnya Lion Air PK-LQP Diungkap, Ini Kilas Balik Peristiwanya

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 25 Okt 2019 18:13 WIB
Ilustrasi Pesawat Lion Air (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta - Hampir genap setahun sejak tragedi jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP di Karawang, Jawa Barat. Penyebab jatuhnya pesawat pun telah terungkap.

Pada Jumat (25/10/2019) detikcom merangkum kembali rangkaian peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP. Begini rangkaian kilas balik peristiwanya:

Pesawat Jatuh di Karawang

Pada 29 Oktober 2018, Pesawat Lion Air PK-LQP terjatuh di Laut Jawa sebelah utara Karawang, Jawa Barat. Pesawat ini diterbangkan oleh Pilot Bhavye Suneja dan kopilot Harvino dengan nomor penerbangan JT 610 dari Bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Depati Amir, Pangkalpinang.


Pesawat lepas landas pada pukul 06.20 WIB dan membawa 189 orang, termasuk pilot, kopilot, lima pramugari, dan para penumpang. Di antara para penumpang, ada 20 orang pegawai Kementerian Keuangan, 6 anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung, 3 jaksa, dan 1 orang staf tata usaha Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung. Ada pula bapak-anak, suporter sepakbola, dan orang-orang yang sudah dirindukan kehadirannya oleh keluarganya.

Penyebab Jatuhnya Lion Air PK-LQP Diungkap, Ini Kilas Balik PeristiwanyaLion Air PK LQP yang jatuh. (Dok. Lion Air)

Namun takdir nahas itu tak bisa dihindari. Pukul 06.22 WIB, pesawat menginformasikan ada masalah kontrol pesawat (flight control).

Pesawat ini sempat meminta balik lagi ke bandara semula alias return to base. Lembaga pelayanan navigasi penerbangan AirNav membukakan jalan. Namun, pada pukul 06.32 WIB, pesawat itu hilang kontak di perairan Karawang dan jatuh dari ketinggian 3.000 kaki di perairan Karawang. Tim SAR bergerak, tak ada korban selamat

Mencari Kotak Hitam

Kemudian, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengerahkan Kapal Riset (KR) Baruna Jaya I. Kapal ini memiliki alat untuk mencari kotak hitam, baik CVR (cockpit voice recorder) maupun FDR (flight data recorder). Kotak hitam inilah yang akan jadi diselidiki untuk mengetahui penyebab jatuhnya pesawat.


Ada Multi-Beam Echo Sounder yang berfungsi melakukan pemetaan biometri dalam laut. Kedua adalah Side Scan Sonar. Prinsip alat ini serupa dengan Multi Beam Echo Sonar, namun memiliki jangkauan dan berfungsi untuk melakukan pemetaan yang lebih tajam. Ketiga adalah Megato Meter atau alat deteksi logam.

Penyebab Jatuhnya Lion Air PK-LQP Diungkap, Ini Kilas Balik PeristiwanyaBima Endaryono (Dok. Pribadi)

Keempat adalah Remote Operated Vehicle (ROV). Alat ini berupa kendaraan bawah laut yang dikendalikan dari jarak jauh, untuk menampilkan gambar video secara langsung dari dasar laut. Dengan alat ini, pencarian sebuah objek di dasar laut akan lebih cepat dilakukan.

Pada 30 Oktober, pencarian diperluas hingga ke Indramayu karena arus air laut bergerak ke timur. Sebanyak 854 personel gabungan dari Basarnas, TNI/Polri, dan sukarelawan masyarakat yang dikerahkan dari Posko Pantai Tanjungpakis, Karawang.

FDR ditemukan

Pada 1 November 2018 sekitar pukul 10.30 WIB, ping detector berhasil menangkap sinyal kotak hitam di sekitar 400 meter dari kontak terakhir pesawat pada koordinat 05 derajat 46 menit 15 detik selatan-107 derajat 07 menit 16 detik timur dengan kedalaman 32 meter. FDR ditemukan. Alat ROV diturunkan untuk memastikan objek di dasar laut itu.


Selanjutnya, Tim Penyelam Batalion Intai Amfibi TNI AL Sertu Hendra memastikan FDR telah ditemukan. Alat berisi rekaman data penerbangan itu diangkut penyelam dan dipindahkan ke KR Baruna Jaya milik BPPT untuk dibawa ke Tanjung Priok.

Hingga hari ke-7, yakni 4 November 2018, badan utama (main body) pesawat belum juga ditemukan. Yang ada hanyalah serpihan, roda, dua turbin pesawat, dan bagian-bagian lainnya yang tercerai berai.

Penyelam gugur saat bantu evakuasi

Namun, dalam perjalanannya, proses pencarian ini juga memakan korban. Seorang penyelam gugur dalam proses pencarian Lion Air. Penyelam itu bernama Syachrul Anto, meninggal pada 2 November 2018. Nyawa Syachrul tak tertolong saat dilarikan ke RSUD Koja. Dia meninggal karena terkena dekompresi.

Sabtu, 10 November 2018, Basarnas menghentikan pencarian. Total ada 196 kantong jenazah yang dievakuasi. Meski begitu, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) masih melanjutkan pencarian CVR. Tim Disaster and Victim Identification (DVI) Polri juga terus melakukan identifikasi jenazah korban, hingga 23 November dipastikan yang bisa diidentifikasi ada 125 jenazah korban.

CVR ditemukan

Pada 14 Januari 2019, Cockpit voice recorder (CVR) Lion Air PK-LQP ditemukan di perairan Karawang, Jawa Barat, dalam pencarian oleh tim Satgas KNKT bersama TNI AL. CVR Lion Air ditemukan setelah pencarian selama sepekan.

"Satgas pencarian ini kan memang pimpinannya KNKT. Sudah dibentuk atau diterjunkan dari 8 Januari. Ini hari keenam dan alhamdulillah dari tim penyelaman Angkatan Laut, dalam hal ini Koarmada I, yang terdiri atas Dislambair dan Kopaska berhasil menemukan tadi pagi pukul 9.10 WIB," ujar Kadispen Koarmada I Letkol Laut (P) Agung Nugroho, Senin (14/1/2019).


Agung menyebutkan CVR Lion Air ditemukan di kedalaman 38 meter. Sebab, dasar laut perairan Karawang, menurutnya, tertutup lumpur 8 meter. Tapi saat ini CVR Lion Air sudah diangkat ke permukaan. CVR ini kemudian diselidiki oleh KNKT.

Penyebab Jatuhnya Lion Air PK-LQP Diungkap, Ini Kilas Balik PeristiwanyaCVR Lion Air PK LQP (Dok. Pushidrosal)


Hasil investigasi faktor kecelakaan terungkap

Pada 25 Oktober 2019, KNKT harinya merilis hasil investigasi terkait faktor kontribusi jatuhnya Lion Air PK-LQP. Disebutkan, ada 9 faktor yang berkontribusi terhadap tragedi itu. Ini 9 faktor tersebut:

1. Asumsi terkait reaksi pilot yang dibuat pada saat proses desain dan sertifikasi pesawat Boeing 737-8 (MAX), meskipun sesuai dengan referensi yang ada ternyata tidak tepat.

2. Mengacu asumsi yang telah dibuat atas reaksi pilot dan kurang lengkapnya kajian terkait efek-efek yang dapat terjadi di kokpit, sensor tunggal yang diandalkan untuk MCAS dianggap cukup dan memenuhi ketentuan sertifikasi.

3. Desain MCAS yang mengandalkan satu sensor rentan terhadap kesalahan.

4. Pilot mengalami kesulitan melakukan respons yang tepat terhadap pergerakan MCAS yang tidak seharusnya karena tidak ada petunjuk dalam buku panduan dan pelatihan.

5. Indikator AOA DISAGREE tidak tersedia di pesawat Boeing 737-8 (MAX) PK-LQP, berakibat informasi ini tidak muncul pada saat penerbangan dengan penunjukan sudut AOA yang berbeda antara kiri dan kanan sehingga perbedaan ini tidak dapat dicatatkan oleh pilot dan teknisi tidak dapat mengidentifikasi kerusakan AOA sensor.

6. AOA sensor pengganti mengalami kesalahan kalibrasi yang tidak terdeteksi pada saat perbaikan sebelumnya.

7. Investigasi tidak dapat menentukan pengujian AOA sensor setelah terpasang pada pesawat yang mengalami kecelakaan dilakukan dengan benar, sehingga kesalahan kalibrasi tidak terdeteksi.

8. Informasi mengenai stick shaker dan penggunaan prosedur non-formal Runaway Stabilizer pada penerbangan sebelumnya tidak tercatat pada buku catatan penerbangan dan perawatan pesawat mengakibatkan pilot ataupun teknisi tidak dapat mengambil tindakan yang tepat.

9. Beberapa peringatan, berulangnya aktivasi MCAS dan padatnya komunikasi dengan ATC tidak terkelola dengan efektif. Hal ini diakibatkan oleh situasi-kondisi yang sulit dan kemampuan mengendalikan pesawat, pelaksanaan prosedur non-normal dan komunikasi antarpilot, berdampak pada ketidakefektifan koordinasi antarpilot dan pengelolaan beban kerja. Kondisi ini telah teridentifikasi pada saat pelatihan dan muncul kembali pada penerbangan ini. (rdp/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT