WNI Korban Bom Yordan Simpang Siur, Dubes Diminta Cek RS

WNI Korban Bom Yordan Simpang Siur, Dubes Diminta Cek RS

- detikNews
Kamis, 10 Nov 2005 16:54 WIB
Jakarta - Bom bunuh diri di Yordania dipastikan memakan korban WNI. Namun berapa jumlah korban dan identitas korban, masih simpang siur. Menteri Luar Negeri (Menlu) Hassan Wirajuda memerintahkan Duta Besar RI di Yordania mengecek semua rumah sakit (RS) terdekat dengan lokasi bom. "Hingga saat ini proses identifikasi masih terus dilakukan. Kita telah instruksikan Dubes untuk mengunjungi RS secara intensif untuk mencari informasi mengenai jumlah dan identitas WNI akibat bom tersebut," kata Menlu.Menlu menyampaikan hal itu usai mendampingi Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla memberikan pengarahan kepada 20 calon dubes yang bakal dilantik Jumat besok, di Gedung Deplu, Jalan Pejambon, Jakarta Pusat, Kamis (10/11/2005). Informasi sementara yang diterima Menlu hingga pukul 14.00 WIB, WNI yang menjadi korban bom Yordania berjumlah dua orang. Dari jumlah itu, satu orang dilaporkan tewas dan satu lagi luka. Meski begitu hingga kini Menlu mengaku belum mengetahui nama serta alamat korban.Keterangan Menlu itu berbeda dengan keterangan Juru Bicara Deplu Marty Natalegawa. Marty sebelumnya menyebut jumlah WNI yang menjadi korban bom itu 3 orang. Rinciannya 2 orang luka dan satu orang tewas. Sebelumnya disebut-sebut nama korban tewas Pinky (sebelumnya tertulis Pinki) Safira . Namun informasi yang diterima detikcom, Pinky selamat dan hanya mengalami cidera kaki. Teman dekat keluarga Pinky menyatakan, keluarga perempuan 35 tahun yang bekerja sebagai penyanyi itu menerima telepon yang mengabarkan Pinky selamat. Deplu kini terus berkoordinasi dengan KBRI dan keluarga korban untuk membicarakan penyelesaian pengiriman jenazah ke Indonesia.Al FarouqHassan menambahkan, sulit membuat generalisasi ledakan bom di Yordania terkait dengan kaburnya Omar Al Farouq dari penjara Bagram Afganistan. Menurut Hassan, kasus itu bisa saja dikaitkan tapi harus melalui penyelidikan terlebih dulu."Gejala terorisme ada di mana-mana dan harus dilihat kasus per kasus. Kita tak tahu apa yang terjadi di Inggris, tidak serta merta terkait tempat lain. Namun bisa saja terkait tapi harus diselidiki lebih dulu," kata Hassan. (iy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads