Tewasnya Azahari Belum Cukup, Idenya yang Harus Dimatikan
Kamis, 10 Nov 2005 14:30 WIB
Jakarta -
Gugur satu tumbuh seribu. Jika ide kekerasan yang diusung Azahari tidak dimatikan, maka tewasnya buronan kakap teroris itu belumlah cukup. Sebab akan muncul lagi teroris lainnya."Kalau ide tersebut sudah ditularkan kepada yang lain, saya khawatir kasus teror akan tetap terjadi," kata Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Andrean Yewanggoe di Hotel Aryaduta, Jalan Prapatan, Jakarta, Kamis (10/11/2005).Jadi yang paling penting, lanjut dia, adalah mematikan ide kekerasan yang diusung Azahari. Karena itu, dia mengimbau agar masyarakat tetap waspada. Sebab tewasnya Azahari belum tentu mematikan ide kekerasan yang diusungnya.Menurut dia, tewasnya Azahari dalam penyergapan di Batu, Malang, Jawa Timur, juga tidak menyurutkan rasa khawatir sejumlah pihak dengan aksi terorisme. Sebab hingga kini belum ada uji laboratorium yang menyatakan mayat yang hancur itu benar-benar Azahari."Dengan tewasnya Azahari, masyarakat memang bisa sedikit terbebaskan dari ancaman ketakutan karena teror bom. Tapi karena belum pasti itu mayat siapa, saya mendukung dilakukannya tes DNA untuk memastikan apakah itu mayat Azahari agar kredibel," kata Andrean. Seperti diberitakan, untuk memastikan Azahari termasuk yang tewas dalam penyergapan di sebuah vila di Jalan Flamboyan Raya Blok A Nomor 7, Perumahan Flamboyan Indah, Batu, Malang, Jatim, Rabu kemarin, polisi akan melakukan tes DNA dan mencocokkan sidik jari teroris kakap tersebut. Dalam peristiwa penyergapan itu, tubuh Azahari disebut-sebut hancur lebur.
(umi/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































