detikNews
Senin 21 Oktober 2019, 22:16 WIB

Laboratorium Perdamaian Dunia Itu Bernama Pesantren

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Laboratorium Perdamaian Dunia Itu Bernama Pesantren Foto: Alfi Kholisdinuka
Jakarta -

Pesantren kini tidak hanya sebagai tempat untuk mendidik insan akademis. Tetapi menjadi salah satu sarana mendorong perdamaian dunia. Karenanya, pesantren pantas disematkan sebagai laboratorium perdamaian karena menjadi tempat menyemai ajaran islam rahmatanlilalamin.

Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin, sebagai laboratorium perdamaian pesantren memiliki andil yang besar dalam mendidik santri-santri masa kini agar memiliki karakter baik dalam membawa pesan perdamaian.

"Pesantren juga menjadi tempat di mana daya saing bangsa ditingkatkan, ketahanan nasional dipertahankan, dan perdamaian dunia diharapkan. Karenanya, ketulusan, kesederhanaan diajarkan dan diteladankan di pesantren ini," kata Kamaruddin saat Renungan Hari Santri Nasional, di Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (21/10/2019).

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, M. Nur Kholis Setiawan mengatakan malam puncak Hari Santri 2019 yang bertajuk syiar dan syair perdamaian ini merupakan upaya Kementerian Agama untuk menggelorakan pesan pesan perdamaian melalui syair-syair indah malam ini.

"Kita sepatutnya bersyukur karena ada kado istimewa yakni telah dikeluarkannya UU No 18 tahun 2019 tentang pesantren, di mana dengan undang-undang ini pesantren memiliki tiga fungsi sekaligus bukan hanya di apresiasi tapi juga diaplikasikan oleh negara," sebutnya.

"Pertama fungsi pendidikan, kedua fungsi dakwah dan ketiga fungsi pemberdayaan umat. Saat ini penting bagi umat islam Indonesia untuk menggaungkan syiar dan damai dalam setiap dakwah dan kegiatan lainnya," imbuhnya.

Dia menuturkan Islam sebagai inspirasi bukan semata mata aspirasi. Islam sebagai sumber rahmat bukan untuk melaknat. Islam sebagai spirit kemajuan bukan batu sandungan kemunduran, sekaligus islam sebagai wadah persatuan bukan ajang pembuat permusuhan.

"Syiar tanpa syair tentulah belum lengkap, oleh karenanya melalui syair perdamaian hari ini kita lantunkan nada nada dan sholawat yang dapat mendamaikan jiwa dan lubuk hati kita agar kita senantiasi menjaga diri, menjaga jari, menjaga lisan, menjaga prilaku dan tindakan," tuturnya.

Lebih lanjut dia mengajak pada malam puncak hari santri ini mari kita teguhkan bahwa bangsa kita bangsa yang cinta damai, kaum santri sebagai bagian dari indonesia yang mengedepankan sikap santri menghargai perbedaan tidak sepakat dengan tindak kekerasan dan permusuhan atas nama apapun.

"Melalui ikhtiar ini diharapkan Indonesia yang di representasikan kaum santri dapat memberikan inspirasi perdamaian, tidak saja bagi sesama umat manusia atau sesama bangsa namun juga pada masyarakat dunia. Selamat hari santri 2019, santri Indonesia untuk perdamaian dunia," tandasnya.




(mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com