Militer AS Kelebihan Beban

Indocase Den Haag:

Militer AS Kelebihan Beban

- detikNews
Rabu, 09 Nov 2005 23:01 WIB
Den Haag - Militer AS saat ini kelebihan beban. Selain kedodoran menghadapi perang asimetris, mereka juga dibelit problem internal.Direktur Indonesian Centre for Actual Information and Studies on Europe (Indocase) Den Haag, Gunaryadi, mengemukakan hal itu kepada detikcom (9/11/2005).Menurut Gunaryadi, kelebihan beban militer AS tadi bisa diukur menurut 3 indikator, yaitu dari aspek kapabilitas gelar pasukan dan rekrutmen, anggaran, serta psikologis dan politis. Indikator pertama, pasukan AS mengalami kesulitan dalam pengerahan pasukan di Eropa, Korea Selatan, Irak dan Afghanistan. Hal ini, kata Gunaryadi, diakui oleh Menhan AS, D. Rumsfeld dan mantan Kastaf Gabungan R. Myers. Kesulitan itu pula yang memicu program penutupan separuh pangkalan militer AS di Eropa dan penarikan 70.000 tentara beserta 100.000 anggota keluarganya dari Eropa dan Asia.Pengerahan pasukan, tutur Gunaryadi, secara normal memerlukan tiga kali jumlah pasukan yang digelar, sebab rotasi itu dilakukan dalam 3 tahap. Tahap pertama, pasukan yang digelar di lapangan. Tahap kedua, pasukan yang selesai bertugas dan pemulihan. Tahap ketiga, pasukan yang dilatih untuk mengganti pasukan yang sedang bertugas. Saat ini ada 411.000 tentara AS yang ditempatkan di hampir 130 negara, dari total 1,4 juta tentaranya. Konsekuensinya, secara teoritis berarti AS harus menyediakan sekitar 1,2 juta tentara. "Tidak aneh jika muncul usulan agar jumlah pasukan ditambah 500.000 orang untuk menutupi kekurangan tersebut, di samping memperpanjang masa tugas pasukan di Irak dan Afghanistan," kata alumnus University of Portsmouth ini.Dan ternyata, sebagian besar dari personil itu tidak mendapat latihan memadai untuk menjalankan misinya di medan War on Terror. Mengutip N. Confessore dari The Washington Monthly, Gunaryadi mengatakan bahwa pasukan yang 1,4 juta itu bukan seluruhnya trigger-pullers (personil tempur). Contohnya, dari 460.000 personil Aangkatan Darat (AD), hanya 120.000 yang merupakan bagian dari 10 divisi tempur. Hanya 5.000 dari 15.000 personil satu divisi yang merupakan pasukan tempur. Selebihnya adalah personil pendukung; dari mekanik hingga staf administrasi.Dijelaskan, gejala kelebihan beban tersebut sebenarnya sudah berawal ketika Perang Dingin berakhir, di mana ancaman dan jenis tugas tempur juga berubah. Postur, struktur, dan doktrin militer AS, yang disiapkan menghadapi Blok Komunis untuk deterrence dan perang skala besar, sudah tidak cocok lagi menghadapi ancaman serangan asimetris yang sering dialamatkan pada Al-Qaida, yang menerapkan cara-cara non-konvensional, hit-and-run. Skalanya kecil, tetapi bisa menimbulkan ketakutan massal.Dampak operasi di Irak juga menambah kuat indikasi militer AS mengalami overburdened (kelebihan beban) dan overstretched (kelebihan tekanan). Hingga 7/11/2005, menurut laporan resmi sudah 2.053 orang tentara AS tewas dan 15.353 luka-luka. "Angka sesungguhnya diperkirakan lebih besar, berkisar antara 15.000 dan 48.100 orang," kata Gunaryadi.Tingginya angka kematian tentara --khususnya AD-- yang bertugas di Irak, telah menjadi momok terhadap rekrutmen pasukan baru. Terbukti tahun ini AD AS kekurangan 6.600 orang untuk mencapai target 80.000 orang rekrutmen dan telah meminta izin Kongres untuk meningkatkan bonus maksimum bagi calon taruna dari 19.080 dolar AS menjadi 38.163 dolar AS. Sejak Juli 2005, AD AS juga menawarkan assignment incentive pay (tunjangan bulanan ekstra) sebesar 380,86 dolar AS selama 36 bulan, jika bersedia ditempatkan di Divisi I Kavaleri atau Divisi XXV Infantri yang akan dikerahkan di Irak atau Afghanistan. Ternyata, iming-iming tersebut hanya bisa menarik minat pemuda dari pelosok-pelosok di mana lapangan kerja sulit. Menurut Pentagon, jumlah mereka mencapai 44% dari rekrutmen baru dan hanya 14% saja berasal dari kota besar. Secara regional, 40% mereka berasal dari bagian selatan dan 20% dari bagian barat AS. Dari aspek anggaran, tekanan juga bertambah. Dalam Tahun Fiskal 2004, anggaran militer AS mencapai 382,84 miliar dolar AS (terbesar di dunia, atau 309 kali lebih besar daripada anggaran TNI dalam tahun yang sama). Angka itu tidak termasuk supplemental appropriation (anggaran tambahan) untuk operasi tempur 61,73 miliar dolar AS.Sedangkan dalam Tahun Fiskal 2005, Gedung Putih meminta 401,35 miliar dolar AS atau naik 7,9%. Dalam hitungan tersebut, alokasi untuk kategori National Defence mencapai 51,4% dari seluruh anggaran. Padahal Congressional Budget Office (CBO) menghitung anggaran federal 2004 mengalami defisit 455,05 miliar dolar AS. Dan untuk 2005, CBO memperkirakan defisit anggaran sebesar 345,35 miliar dolar AS. Alasan anggaran ini pula yang menyebabkan Pentagon terpaksa membatalkan proyek helikopter Comanche dengan nilai 38,18 miliar dolar AS.Bagaimana dengan indikator psikologis? Menurut Gunaryadi, secara manusiawi seorang prajurit akan berpikir ulang kalau ditugaskan di kawasan yang berbahaya dan dalam masa waktu lama. Kebijakan Pentagon memperpanjang masa tugas di Irak menimbulkan beban psikologis bagi prajurit. "Tentara yang dikerahkan melawan nuraninya dan rotasi yang hampir kontinyu tidak akan efektif serta berbahaya terhadap kondisi moral," demikian Gunaryadi. Belum lagi akibat bagi personil National Guards (NG). Penugasan dalam waktu lama akan mengganggu karir dan profesi yang mereka tinggalkan, ketika mendapat panggilan mobilisasi. Sekitar 40% pasukan AS yang bertugas di Irak dan 67% dari Pasukan Khusus yang bertugas di Afghanistan adalah anggota NG. Jumlah mereka merupakan dua pertiga dari kekuatan AD.Adapun secara politis, militer AS juga mendapat tekanan tidak langsung. Kritikan dan perdebatan tentang legitimasi invasi ke Irak terus menguat. Situasi yang mendua ini tidak saja berdampak terhadap moral prajurit di lapangan, tetapi juga secara politis. Dukungan publik AS terhadap kebijakan Presiden Bush di Irak menurun drastis hingga ke ambang kritis: 38%. (es/)


Berita Terkait