Kala Rahardi Ramelan Mengenang Habibie hingga Saddam Hussein

Blak-blakan Mantan Menperindag/Kabulog

Kala Rahardi Ramelan Mengenang Habibie hingga Saddam Hussein

Sudrajat - detikNews
Jumat, 18 Okt 2019 06:45 WIB
Prof Rahardi Ramelan (Foto: Screenshoot 20detik)
Prof Rahardi Ramelan (Foto: Screenshoot 20detik)
Jakarta -

Pertemanan Prof Rahardi Ramelan dengan BJ Habibie terjalin sejak 1961. Kala itu, Habibie menjadi inisiator dan ketua konferensi pembangunan para mahasiswa Indonesia di Eropa. Sementara Rahardi yang tengah menimba ilmu bidang teknik mesin di Praha, Cekoslowakia menjadi sekretaris umum yang banyak bekerja di belakang layar.

Sejak itu, Habibie hampir selalu melibatkan Rahardi untuk berbagai proyek berteknologi tinggi. Sebut saja pembuatan Airbus A300B pada 1969-1974, Helikopter BO-105, hingga kapal tanker LNG milik Pertamina. Rahardi pula yang dipercaya menjadi salah satu direktur di IPTN dan Pindad, hingga menjadi Kepala BPPT saat Habibie menjadi wakil presiden. Tak heran bila dia dianggap sebagai 'tangan kanan' Habibie. Ketika Habibie menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto, dia dipercaya menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan, merangkap Kepala Bulog.

Rahardi Ramelan saat berjumpa Presiden Irak Saddam HusseinRahardi Ramelan saat berjumpa Presiden Irak Saddam Hussein Foto: Screenshoot 20detik

Tapi ketika Habibie wafat pada 11 September lalu, Rahardi tak terlihat melayat. Ada yang mengira dia masih sakit hati dan dendam kepada karena pernah dibiarkan masuk LP Cipinang selama 13 bulan, sejak 16 Agustus 2005 - 20 September 2006. Rupanya saat mendapatkan kabar Habibie wafat, lelaki kelahiran Sukabumi, 12 September 1939 itu sedang di Kolombo. Tumbu Tri Iswari Astianni, istri yang ikut mendampinginya sempat menawari untuk pulang ke Jakarta. Tapi dia memutuskan untuk mendo'akan dari jauh saja, dan menyampaikan duka cita kepada keluarga Habibie melalui telepon.

"Saya dan istri tidak ada dendam, kami tetap bersahabat. Bagaimana pun dia senior dan sudah saya anggap seperti kakak. Istri saya juga bersahabat dengan Ibu Ainun. Sepulang dari Kolombo kami langsung ke pemakaman dan tahlilan di sana," kata Rahardi kepada Tim Blak-blakan detikcom.


[Gambas:Video 20detik]


Untuk diketahui, PN Jakarta Selatan pada Desember 2004 menghukum Rahardi dua tahun karena dianggap terbukti bersalah dalam kasus Bulog. Habibie sebagai mantan Presiden pernah memberikan kesaksian lewat teleconference dari Jerman. Rahardi mengaggap kesaksian Habibie soal pencairan dana Bulog tidak akurat sehingga merugikan dirinya. Dia mengajukan banding hingga kasasi. Tapi Mahkamah Agung tetap menghukumnya 2 tahun. Rahardi dengan kesatria mendatangi Kejaksaan untuk menjalani eksekusi.

Selain membicarakan sosok Habibie, Rahardi yang masih tampak bugar dan enerjik di usia 80 tahun juga mengisahkan pengalamannya bertemu Presiden Irak Saddam Hussein. Kala itu, sebagai Menperindag / Kabulog dia mendapat tugas dari Habibie untuk mengirim obat-obatan, alat komunikasi, dan berbagai produk pangan untuk rakyat Irak. Imbalannya, Indonesia boleh membeli minyak dan mendapatkan lopkasi pengeboran bagi pengusaha Indonesia.

"Kami disambut meriah di sebuah hotel, tapi sebelum masuk harus menginjak keset bergambar Presiden AS George W. Bush," ujarnya diringi tawa kecil.

Pada bagian lain, Rahardi juga mercerita soal macam-macam koleksinya, mulai Mercedes, lukisan, hingga gamelan. Juga mengungkapkan rahasianya tetap bugar di usia 80 tahun. Selengkapnya, saksikan Blak-blakan Rahardi Ramelan "Mengenang Habibie hingga Saddam Hussein" di detik.com, Jumat (18/10/2019).



(jat/jat)