Pastikan Flu Burung, Sampel Darah Sarah Diperiksa
Selasa, 08 Nov 2005 14:42 WIB
Jakarta - Hingga kini, kematian Siti Sarah belum bisa dipastikan karena flu burung. Untuk sementara, Sarah meninggal dunia diduga karena pneumonia berat. Namun, sampel darah Sarah sudah diambil untuk diperiksa di laboratorium. dr Heru Sundaru, dokter RS Agung yang menangani Sarah, menggelar jumpa pers terkait meninggalnya siswi SMP itu. Jumpa pers digelar di RS Agung, Manggarai, Jakarta Selatan, Selasa (8/11/2005). Sarah meninggal di RS ini sekitar pukul 10.00 WIB. Menurut Heru, hingga saat ini, pihaknya memprediksi meninggalnya Sarah akibat pneumonia berat. Namun, tidak tertutup kemungkinan, Sarah terkena flu burung. Karena itu, Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan RSPI Sulianti Saroso sudah mengambil sampel darah dan usap tenggorokan Sarah untuk diteliti lebih lanjut. Heru menjelaskan, Sarah datang ke RS Agung pada hari Minggu (6/11/2005) lalu. Saat datang, suhu badan Sarah sangat tinggi mencapai 39 derajat Celcius tanpa ada sesak napas. Tim dokter menduga Sarah terkena DBD. Namun, sekitar pukul 07.00 WIB, Selasa (8/11/2005), Sarah tiba-tiba mengalami sesak napas. "Kami akhirnya melakukan foto rontgen kepada pasien. Setelah dilakukan foto rontgen, baru diketahui ada gejala pneumonia berat di paru-paru pasien," kata Heru. Karena ada radang di paru-parunya, Heru menduga Sarah terkena flu burung. Saat itu juga, pihaknya menelepon RSPI Sulianti Saroso dengan maksud untuk meminta penanganan lebih lanjut terhadap Sarah. Selain itu, pihak RS Agung juga menelepon Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk melaporkan hal ini.Namun, belum sampai pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) dan RSPI tiba di RS Agung, Sarah keburu meninggal dunia. "Akhirnya, Dinkes dan RSPI mengambl sampel darah dan usap tenggorokan untuk diteliti lebih lanjut apakah memang benar pasien terkena flu burung," kata Heru. Sampel ini diteliti di Laboratorium Depkes. Ditanya mengenai kekecewaan pihak keluarga karena merasa perawatan di RS Agung kurang intensif, Heru membantah klaim pihak keluarga. "Pasien datang dengan gejala DBD, karena mengalami panas tinggi tanpa ada sesak napas. Karena itu, kami memperlakukan pasien sesuai prosedur penanganan DBD," kata dia. Setelah ada sesak napas yang tiba-tiba itu, lanjut Heru, pihaknya langsung melakukan perawatan terhadap pasien sesuai prosedur penanganan pasien flu burung. Sejak saat itu, Sarah kemudian diisolasi dari pasien lainnya. Jenazah Sarah telah dibawa keluarganya dari RS Agung pukul 13.00 WIB ke rumah duka di Utan Kayu, Jakarta Timur. Saat dibawa, jenazah tidak dimasukkan ke dalam peti dan tidak dibungkus plastik. Jenazah hanya dimasukkan ke dalam keranda dan ditutupi kain kafan.
(asy/)











































