Suara Warga hingga Pengendara soal Sistem 2-1 di Puncak

Round-Up

Suara Warga hingga Pengendara soal Sistem 2-1 di Puncak

Tim detikcom - detikNews
Senin, 14 Okt 2019 07:45 WIB
Suara Warga hingga Pengendara soal Sistem 2-1 di Puncak
Kawasan Puncak (Foto: Sachril Agustin Berutu/detikcom)
Bogor - Sumpeknya kehidupan di Ibu Kota membuat para penghuninya ingin berakhir pekan untuk melepas penat sejenak. Ke mana lagi jujugan paling dekat bila tak ke Puncak?

Namun seringkali acara bedol desa warga Jakarta ke Puncak malah membuat sesak. Kemacetan berpindah hingga akhirnya membuat para pemegang kewenangan memberlakukan aturan satu jalur atau one way yang selama ini menjadi andalan.

Kini kebijakan itu bakal tergantikan setelah sekian puluh tahun dengan sistem 2-1. Apa itu?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bila sebelumnya setiap Sabtu-Minggu jalur ke Puncak akan dikhususkan satu jalur pada jam-jam tertentu, nantinya setelah sistem baru berlaku maka akan ada 2 lajur dari arah Jakarta ke Puncak dan 1 lajur sebaliknya. Sistem ini akan diuji coba pada 27 Oktober mendatang.
Jika dalam sistem buka tutup kendaraan hanya bisa bergerak satu arah pada waktu tertentu (Simpang Gadog menuju Puncak atau hanya arah sebaliknya), maka pada sistem 2-1 kendaraan dapat bergerak dari dua arah dalam waktu bersamaan. Pada skema sistem 2-1 ini, setiap akhir pekan jalur Puncak akan dioptimalkan menjadi 3 lajur. Pemisahan lajur dilakukan dengan menempatkan traffic cone sepanjang jalur Puncak mulai dari Simpang Gadog hingga Taman Safari Indonesia.

Dari 3 lajur yang ada, nantinya mulai pukul 03.00 - 13.00 WIB, lajur 1 dan 2 akan diperuntukkan bagi kendaraan yang mengarah ke Puncak atau naik, sedangkan lajur 3 untuk kendaraan menuju arah Gadog (turun). Pada pukul 12.30 - 14.00 WIB lajur 1 tetap diperuntukkan bagi kendaraan yang mengarah ke Puncak, namun lajur 2 untuk sementara ditutup dari arah Simpang Gadog (naik) untuk memastikan lajur 2 bersih dari kendaraan yang menuju ke Puncak, sedangkan lajur 3 tetap untuk kendaraan menuju Simpang Gadog (turun).

Selanjutnya setelah lajur 2 steril dari seluruh kendaraan, maka pada pukul 14.00 - 20.00 WIB arus lalu lintas berubah menjadi lajur 1 untuk kendaraan mengarah ke Puncak (naik), sedangkan lajur 2 dan 3 untuk kendaraan mengarah ke Simpang Gadog (turun). Selanjutnya, mulai pukul 20.00 - 03.00 WIB pengaturan lalu lintas kembali normal menjadi dua lajur untuk dua arah.



Lantas apa kata warga sekitar hingga para pengendara?

Salah seorang pengendara asal Bintaro, Jakarta bernama Fatih malah mengaku belum tahu sama sekali soal sistem itu. Fatih pun mengaku tidak melihat satu pun spanduk atau pemberitahuan apapun tentang sistem 2-1 tersebut.

"Dari Gadog sampai Cisarua, saya nggak lihat ada spanduk-spanduk sistem 2-1. Saya nggak tau apa-apa soal sistem ini, kan baru dengar," ucap Fatih.

Pengendara lainnya bernama Fatoni setali tiga uang dengan pendapat Fatih. Fatoni yang berasal dari Pasar Minggu, Jakarta Selatan mengeluhkan soal minimnya sosialisasi sistem 2-1 itu.
"Kalau saya nggak tahu ada sistem 2-1. Memang saya pergi ke Puncak itu kemarin pas malam hari tapi nggak lihat ada spanduk atau pemberitahuan," ucap Fatoni.

Namun demikian Fatoni merasa sepakat dengan sistem 2-1 untuk menggantikan sistem satu arah. Sebab, menurutnya, sistem satu arah mengganggu kepentingan publik.

"Kalau one way itu, hak saya untuk memakai Jalan Raya Puncak terganggu. Misalnya saya ada keperluan mendadak ingin ke Puncak, tapi harus menunggu lama sampai one way selesai. Waktu orang-orang terbuang percuma. Kalau mau diganti one way ini, pemerintah harus lebih gencar mensosialisasikannya," kata Fatoni.



Mirip-mirip dengan pengendara, warga sekitar bahkan hanya tahu selintas soal sistem baru itu. Seperti dikatakan seorang warga RT 2/3 Kampung Sampay Desa Tugu Utara, Cisarua, Kabupaten Bogor bernama Asep Muhammad. Apa kata dia?

"Saya tahu ada sistem 2-1 dari grup di media sosial, bahwa ada 2 jalur ke atas, 1 turun. Itu saja," kata Asep.

Warga lainnya bernama Roni bahkan mengaku tidak tahu sama sekali. Roni hanya tahu soal sistem satu jalur atau buka-tutup.

"Saya malah baru dengar ada sistem 2-1. Kalau yang saya tau, hanya sistem satu arah saja, kendaraan naik atau turun di jam-jam tertentu saja," ujar Roni.

Menangkap keluhan warganya, Ketua RT 2/3 Firda ikut bersuara. Selain dari warga, Firda turut mendengar keluhan dari para sopir angkot.
"Kalau angkot kan pas akhir pekan, susah mau dapat penghasilan. Yang misalnya hari biasa bisa 3-5 kali perjalanan, pas Sabtu atau Minggu hanya 1-2 kali perjalanan saja. Soalnya harus nunggu lama kan," terang Firda.

Sementara itu Staf Pelayanan Desa Tugu Utara, Nana, mengatakan sebenarnya sistem baru itu sedikit banyak memberi solusi bagi warga sekitar. Dia pun sedikit memberikan masukan soal penerapan sistem 2-1 dari Taman Safari Indonesia (TSI) menuju Gunung Mas. Menurutnya, penerapan itu agak sulit dilakukan karena jalurnya yang sempit. Bila tetap dipaksakan, kata Nana, dikhawatirkan terjadi penumpukan kendaraan hingga menyebabkan kemacetan panjang.

"Sistem 2-1 kan kendaraan dari dua arah bisa melaju terus, tapi dari TSI ke Gunung Mas, tidak bisa menurut saya. Jalannya sempit. Kadang juga kan ada bus yang lewat. Malah bisa jadi tersendat kendaraan kalau dipaksakan sistem 2-1," tutur Nana.
Halaman 2 dari 3
(dhn/dnu)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads