detikNews
Minggu 13 Oktober 2019, 21:24 WIB

Di Semarang, Tjahjo Kumolo Bicara Radikalisme dan Terorisme

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Di Semarang, Tjahjo Kumolo Bicara Radikalisme dan Terorisme Foto: Dok Pemkot Semarang
Semarang - Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi melakukan pertemuan dengan sejumlah tokoh yang pernah menjadi bagian dari pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Jawa Tengah.

Selain Wali Kota Semarang yang akrab disapa Hendi tersebut, hadir juga Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo di acara bertajuk Temu Kangen Alumni KNPI Jawa Tengah tersebut.

Tjahjo hadir sebagai pengurus KNPI Jawa Tengah periode 1985-1996, kemudian menjadi Sekretaris Jenderal KNPI pusat pada 1988-1991, dan akhirnya menjadi Ketua KNPI pusat sejak 1990-1993.


Hendi yang pernah menjadi Ketua KNPI Jawa Tengah dua periode itu pun mengawali menyambut seluruh tamu yang hadir dengan memekikkan yel-yel KNPI yang diikuti seiisi ruangan.

"Beberapa tahun lalu kita juga pernah mengadakan temu alumni, tetapi tahun ini yang hadir saya rasa jauh lebih komplit," kata Hendi dalam keterangan tertulis, Minggu (13/10/2019).

Sementara itu, Tjahjo Kumolo dalam kesempatan tersebut berbicara tentang persoalan kebangsaan. Khususnya tentang keprihatinannya terhadap masalah yang sekarang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia, dari kaca matanya sebagai Menteri Dalam Negeri.

"Kalau kita cermati, perkembangan dan dinamika rasa persatuan dan kesatuan bangsa cukup memprihatinkan. Hari ini orang saling mengenal atau dekat, tidak melihat prestasinya atau posisinya, tapi dari asli mana, daerah mana suku mana agama apa," ungkapnya.

Menurutnya, ada empat tantangan terbesar bangsa Indonesia. Pertama yaitu radikalisme, kedua terorisme, yang ketiga yaitu narkoba dan keempat adalah kesenjangan sosial yang masih ditemui di Indonesia.

"Setelah 74 tahun Indonesia merdeka tantangan yang paling berat, yaitu masalah terorisme dan radikalisme. Terorisme dan radikalisme merupakan ancaman," ujar Tjahjo.

Salah satu contohnya yaitu ketika dirinya dalam kapasitas sebagai Menteri Dalam Negeri harus mengeluarkan ijin organisasi masyarakat. Dirinya menceritakan ada ormas yang jelas-jelas anti-Pancasila.

"Ada 427 lebih organisasi masyarakat yang sebagian besar ormas keagamaan yang mendaftar. Di situ ada ormas yang AD ART-nya jelas mencantumkan anti-Pancasila. Langsung distop dan tidak dikeluarkan izin karena jelas-jelas melanggar ideologi negara," urainya.

Lebih lanjut ia menuturkan agenda strategis nasional untuk beberapa waktu ke depan harus kembali memperkuat rasa cinta tanah air, cinta bangsa dan cinta negara. Menurutnya, cinta kepada bangsa ini harus dibangun. Masyarakat harus sadar bahwa Indonesia ini terdiri atas beragam suku, budaya bahasa agama dipersatukan oleh Pancasila.


Di akhir sambutannya, Tjahjo menitipkan pesan kepada KNPI agar dapat memperkuat rasa persatuan dan kesatuan bangsa, saling menghargai memberi kesempatan untuk saling berserikat, menghargai orang lain untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaan.

"Harus tegas, siapa kawan dan siapa lawan, pada perorangan, kelompok atau golongan yang berniat untuk memecah belah NKRI. Itu bukan cuma lawannya TNI tapi musuhnya kita alumni KNPI," pungkasnya.
(ega/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com