Mantap Jadi Oposisi, PKS Hormati Partai yang Berkeringat Menangkan Jokowi

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Minggu, 13 Okt 2019 14:43 WIB
Jazuli Juwaini (Foto: Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Kabar akan merapatnya Gerindra ke pemerintah semakin santer setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan Ketum Gerindra Prabowo Subianto. Sebagai mantan koalisi pada Pilpres 2019, PKS mengaku tak mempermasalahkan jika Gerindra bergabung ke koalisi Jokowi.

PKS sendiri sudah memantapkan sikap untuk menjadi oposisi. Menurut PKS, akan lebih leluasa dan terhormat untuk berada di luar pemerintahan.

"Berbeda dengan Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mantap bersikap tidak tergoda masuk pemerintahan. PKS akan lebih leluasa, terhormat, bermartabat, dan objektif dalam menawarkan perspektif dan alternatif solusi kebangsaan jika tetap berada di luar pemerintahan. Oleh karena itu, insya Allah PKS komitmen tetap berada di luar pemerintahan," kata Ketua Fraksi PKS, Jazuli Juwaini dalam keterangannya, Minggu (13//10/2019).



Jazuli menjelaskan, sikap tersebut diambil untuk menghormati parpol-parpol koalisi Jokowi. Sebab, pada Pilpres 2019, mereka telah berkeringat untuk memenangkan Jokowi-Ma'ruf Amin.

"PKS tidak ingin masuk kabinet karena ingin menghormati partai-partai yang berkeringat memenangkan Jokowi-Maruf Amin. PKS ingin memaksimalkan peran parlemen dalam hal check and balances sesuai konstitusi. Lagipula, kami merasa tetap di Pemerintahan Republik Indonesia karena PKS punya kader-kader terbaik yang menjadi gubernur dan bupati/wali kota. Di situ PKS hadir dan meberikan cinta dan pengabdian untuk Indonesia," tuturnya.



Kendati demikian, Jazuli mengingatkan, komunikasi politik tak seharusnya melulu berujung pada bagi-bagi kekuasaan. Dia mengatakan, komunikasi politik haruslah membahas hal yang lebih fundamental yaitu solusi atas permasalahan bangsa yang ada saat ini.

"Komunikasi atau silaturahim antar elit politik tidak lantas harus dimaknai atau dilihat sebagai bagi-bagi kekuasaan. Sehingga pimpinan negara dan elit politik diharapkan bicara solusi-solusi dan optimisme di hadapan rakyat yang menyaksikan pertemuan tersebut," ujar Jazuli.



Seperti diketahui, Jokowi dan Prabowo bertemu di Istana Negara, Jakarta pada Jumat (11/10). Keduanya membahas kemungkinan Gerindra

"Berkaitan dengan koalisi, belum final, tapi kami tadi sudah berbicara banyak kemungkinan Partai Gerindra masuk ke koalisi kita," ujar Jokowi.


Simak Video "Prabowo di Antara Kabinet dan Penyeimbang, Bukan Oposisi"

[Gambas:Video 20detik]

(mae/imk)