detikNews
2019/10/13 11:50:09 WIB

Sunan Kuning Mau Tutup

Akhir Nahas Sunan Kuning: Tercerai dari Pasukan Tionghoa, Dibuang VOC

Danu Damarjati - detikNews
Halaman 1 dari 4
Akhir Nahas Sunan Kuning: Tercerai dari Pasukan Tionghoa, Dibuang VOC Foto ilustrasi: Opera HUT ke-273 Solo (Bayu Ardi Isnanto/detikcom)
Semarang - Ini adalah akhir kisah perjuangan Sunan Kuning, pemimpin koalisi Jawa-Tionghoa melawan kompeni.

Raja berusia 16 tahun itu berada dalam bahaya. Baru empat bulan menjabat, keratonnya sudah diserbu oleh tiga kekuatan besar. Kondisi itu memaksanya untuk pergi bergerilya.

Tiga kekuatan besar yang menyerang Sunan Kuning atau Amangkurat V adalah tentara Pakubuwana II yang dia gulingkan, prajurit Pangeran Cakraningrat IV dari Madura, dan pasukan VOC di bawah komando Kapten Van Hohendorff.



"Parentah Betawi nuli nglakokake bala menyang Kartasura (VOC yang berpusat di Batavia memerintahkan untuk menjalankan pasukan ke Kartasura)," demikian tertulis dalam 'Serat Babad Tanah Jawi' yang telah digubah menjadi gancaran (prosa Jawa) oleh Ngabehi Kertaprajda, ditulis atas inisiatif JJ Meinsma tahun 1874.

Laskar Jawa-Tionghoa yang melindungi Sunan Kuning bertahan sekuat tenaga. Namun karena besarnya serangan yang mereka hadapi, banyak prajurit koalisi dua etnis ini yang gugur. Pada 26 November 1742, pasukan Madura mengambil alih Kartasura dari Sunan Kuning. Sang Raja itu harus pergi dari singgasananya untuk menyelamatkan diri.

"Laskar Tionghoa mengawal Sunan Amangkurat V (Sunan Kuning) ke arah selatan," tulis Raden Mas Haryo (KRMH) Daradjadi Gondodiprodjo dalam bukunya, 'Geger Pacinan 1740-1743: Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC'.

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com