ADVERTISEMENT

Sunan Kuning Mau Tutup

Sunan Kuning: Usia 16 Tahun Memimpin Koalisi Jawa-Tionghoa Melawan Raja

Danu Damarjati - detikNews
Minggu, 13 Okt 2019 11:26 WIB
Foto ilustrasi: Patung monumen Laskar Tionghoa di TMII (Rachman Haryanto)


Pada 30 Juni 1742, pasukan Sunan Kuning menjebol Keraton Kartasura, menjebol dalam arti sebenarnya. Jebolan tembok Istana itu bahkan bisa dilihat sampai sekarang. Konon, tembok Istana itu berhasil dilubangi karena pasukan Sunan Kuning menggunakan meriam, orang Tionghoa merupakan ahli dalam urusan mesiu.

Suasana Keraton Kartasura mendadak kacau dan luluh lantak karena digeruduk pasukan Jawa-Tionghoa. Pakubuwana II dan keluarganya melarikan diri dari keraton lewat pintu belakang. Mereka semua dievakuasi oleh Kapten Van Hohendorff bersama pasukan VOC. Mereka mengungsi ke arah Magetan via Gunung Lawu.

"1 Juli 1742, Sunan Amangkurat V alias Sunan Kuning bertakhta di Kartasura," demikian ditulis Daradjadi.


Ada candrasengkala (kata-kata penanda waktu dalam tradisi Jawa) berbunyi 'Pandito enem angoyog jagad'. Maknanya, seorang Raja Mataram telah kehilangan keratonnya. Namun bisa juga diartikan 'Pemimpin muda mengguncang dunia/jagat'.

Kabinet Sunan Kuning dibentuk. Mangunoneng diangkat menjadi Patih. Martapuro diangkat menjadi pelaksana harian komando pertempuran dengan nama Sujonopuro. Raden Mas Said Suryokusumo alias Pangeran Prangwadana (di kemudian hari dijuluki sebagai Pangeran Samber Nyawa) diangkat sebagai Panglima Perang. Raden Mas Said sudah menerima pelatihan perang dari Kapitan Sepanjang.

Namun kekuasaan Sunan Kuning sebagai Raja Mataram tak berlangsung lama. 26 November 1742, Sunan Kuning harus beranjak dari kursi Raja karena digempur oleh tiga pihak sekaligus: pasukan Pakubuwana II, pasukan VOC, dan pasukan Cakraningrat IV dari Madura.
(dnu/mae)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT