detikNews
2019/10/12 20:56:53 WIB

Mungkinkah PDIP dan Demokrat Satu Gerbong?

Ibad Durohman - detikNews
Halaman 1 dari 2
Mungkinkah PDIP dan Demokrat Satu Gerbong? Pertemuan Jokowi dengan SBY (Foto: dok. Biro Pers Setpres)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menerima Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Kepresidenan, Kamis (10/10). Pertemuan empat mata di Ruang Jepara berlangsung kurang-lebih satu jam.

Rencana pertemuan Jokowi dengan Presiden ke-6 RI itu sebenarnya sudah digaungkan sejak akhir Juni lalu setelah berakhirnya semua tahapan Pemilihan Umum 2019. Namun, saat itu, SBY hanya mengutus putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono, yang belakangan ditunjuk jadi Wakil Ketua Umum Partai Demokrat.

Jokowi tidak membantah pertemuan tersebut juga membahas kemungkinan Partai Demokrat bergabung dengan kabinet, yang akan diumumkannya seusai pelantikan 20 Oktober mendatang. "Silakan ditanyakan ke Pak SBY langsung. Kami bicara itu, tapi belum sampai sebuah keputusan," ujar Jokowi.

Sehari setelah pertemuan tersebut, Jokowi mengatakan tak menutup peluang mengganti susunan kabinet yang telah selesai dibentuk. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengaku salah satu alasan perubahan itu adalah pertemuan dengan SBY.



Partai Demokrat menganggap sinyal yang diberikan Jokowi tersebut jadi ukuran masuknya kader partai dalam kabinet. "Bisa keliru kita kalau membaca sinyal," ujar Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan kepada detikcom, Jumat (11/10).

"Sekali lagi ini kan hak prerogatif Presiden, kita lihat saja nanti bagaimana. Tetapi jelas sinyal positifnya bagus," imbuhnya.

Syarief pun menyatakan komunikasi dengan parpol koalisi pendukung pemerintah lainnya, terutama PDI Perjuangan, berjalan baik. Mantan Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah itu tak pernah berpikir Megawati Soekarnoputri akan menjegal peluang partainya. "Saya pikir sih (Megawati) nggak akan jadi batu sandungan," katanya.

Partai Demokrat, menurut Syarief, sudah punya pengalaman panjang berkoalisi dengan PDIP. "Dalam pilkada-pilkada kami sudah biasa berkoalisi," kata Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat periode 2019-2024 itu. Meski demikian, Syarief mengakui koalisi pada level nasional belum pernah terjadi.

Seperti diketahui, hubungan dua pucuk pimpinan PDIP dan Partai Demokrat memanas setelah SBY memutuskan mencalonkan diri sebagai presiden pada Pilpres 2004. Saat SBY memenangi pertarungan itu, Megawati dan PDIP memutuskan berada di luar pemerintahan.

Dua dasawarsa PDIP setia jadi oposisi. Situasi berbalik ketika Joko Widodo, yang diusung PDIP, memenangi Pilpres 2014. Meski tak jadi oposisi, SBY memutuskan berada di luar pemerintahan. SBY memberi istilah partai penyeimbang atas posisi Partai Demokrat saat itu.

Namun, untuk saat ini, menurut Syarief, bekunya hubungan Megawati dan SBY perlahan mencair. Bahkan kondisinya untuk saat ini sangat baik. "Kita lihat saja dari setiap pertemuan Bu Mega dan Pak SBY saling senyum dan sangat bersahabat dan itu bagus buat rakyat," katanya.

"Jadi saya pikir tidak akan ada suatu resistensi," sambungnya.



PDIP sendiri menilai pertemuan antara Jokowi dan SBY tersebut lebih banyak dalam rangka membangun kebersamaan dan sinergi.

"(Pertemuan) membangun kebersamaan dan sinergi nasional. Adakah yang menilai hal ini sebagai sesuatu yang kontraproduktif," ujar politikus PDIP Hendrawan Supratikno, Kamis (10/10).

Namun Hendrawan enggan memastikan pertemuan tersebut terkait koalisi atau tidak. Dia menuturkan hanya SBY dan Jokowi yang mengetahui pembicaraan di Istana itu. "Sudah cukup dijelaskan oleh Presiden, dan tentu pada waktunya oleh Pak SBY. Materi pembicaraan sangat strategis dan spesifik, sehingga hanya beliau berdua yang tahu isinya," katanya.

Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio, menilai niat Partai Demokrat bergabung dalam kabinet akan membentur persetujuan PDIP. "Kans Demokrat masuk pemerintahan selalu ada. Tapi memang tidak terlalu besar," ujarnya kepada detikcom.

"Kerja sama antara Demokrat dan PDIP ini selalu ada hambatan sehingga tidak pernah terjadi," terang Hendri.



Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com