Polri Jawab Temuan Ombudsman-Komnas HAM soal Pengamanan Demo 22 Mei

Audrey Santoso - detikNews
Sabtu, 12 Okt 2019 11:15 WIB
Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adisaputra (Audrey/detikcom)


Asep kemudian menuturkan, jika yang dimaksud kekerasan berlebihan oleh aparat, itu serupa kasusnya dengan pemukulan Andri Bibir oleh beberapa oknum Brimob. Hal tersebut pun sudah ditindak secara internal. Dia pun mengulas Perkap 01/2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian.

"Kita sudah berbicara banyak kasus di 21-22 Mei, ada oknum Brimob yang mukulin di depan masjid, sudah kami tindak, Itu salah satu di antaranya. Sebenarnya kami ada Perkap tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian yang diatur mulai dari level 1 sampai 6," terang Asep.

Pada level 1, digambarkan Asep, polisi hadir di tengah massa. Lalu di level 2, polisi mengimbau massa untuk menjaga ketertiban agar tak mengganggu aktivitas masyarakat lainnya. Selanjutnya di level 3, polisi dapat menyentuh massa jika dinilai akan melakukan tindakan berlebih, seperti menepuk pundak dan mengajak bicara.

"Di level empat, andaikan massa melakukan tindakan-tindakan berlebih, kita bisa menggunakan istilahnya tindakan tangan lunak, artinya kita bisa melakukan bela diri kalau dia melakukan perlawanan. Yang kelima, kalau dia sudah anarkistis, kita menggunakan tameng, gas air mata, tongkat," papar Asep.

"Kalau kemudian mereka menyerang dengan batu, anak panah, dengan benda-benda yang membahayakan petugas dan masyarakat, itu sebenarnya polisi bisa melakukan tindakan tegas dengan tembakan. Tolong di-review peristiwa 21 sampai 23 Mei. Semestinya, kalau kita lihat secara keseluruhan, Polri mengambil tindakan di level 6," tutur Asep.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3