Kisah Sahabat Nabi: Umar bin Khattab yang Keras Tapi Lembut

Erwin Dariyanto - detikNews
Jumat, 11 Okt 2019 18:46 WIB
Foto: Mindra P/detikcom
Foto: Mindra P/detikcom
Jakarta -

Kisah sahabat Nabi, Umar bin Khattab, khalifah ke-2 setelah Abu Bakar Ash Shiddiq dikenal mempunyai watak keras dan tegas. Selama untuk membela Islam dan kebenaran tak ada yang dia takuti di dunia ini.



Sifat keras itu bahkan sejak masih mendampingi Rasulullah SAW. Seperti apa kisah sahabat nabi tentang Umar bin Khattab yang dikenal keras ini?

Setelah Abu Bakar Ash Shidiq wafat pada 21 Jumadilakhir tahun ke-13 hijrah atau 22 Agustus 634 Masehi, Umar bin Khattab diangkat menjadi khalifah ke-2.



Muncul kekhawatiran dari masyarakat Mekah saat Umar naik menjadi Khalifah menggantikan Abu Bakar Ashidiq. Mereka khawatir Umar akan lebih keras kepada mereka.

Hal itu bisa dirasakan oleh Umar. Kisah sahabat nabi berikutnya di hari ke-3 setelah dibaiat sebagai khalifah saat menyampaikan pidato pertamanya, dia pun meluruskan anggapan itu.

"Ketahuilah saudara-saudaraku, bahwa sikap keras itu sekarang sudah mencair. Sikap itu (keras) hanya terhadap orang yang berlaku zalim dan memusuhi kaum Muslimin," kata Umar seperti dikutip dari buku, Biografi Umar bin Khattab karya Muhammad Husain Haekal.



"Tetapi buat orang yang jujur, orang yang berpegang teguh pada agama dan berlaku adil saya lebih lembut dari mereka semua," Umar melanjutkan.

Dia berjanji tak akan membiarkan orang berbuat zalim atau melanggar hak orang lain. Kepada orang yang berbuat zalim, Umar akan meletakkan pipi sebelah mereka di tanah dan pipi satunya akan dia injak. Sebaliknya bagi orang yang bersih dan mau hidup sederhana, Umar akan meletakkan pipinya di tanah.

Umar juga meminta rakyat tak ragu untuk menegur dia kalau salah. Bahkan menuntut jika rakyat Makkah terjebak bencana atau tentaranya jatuh ke perangkap musuh.

"Bantulah saya dalam tugas saya menjalankan amar makruf naih munkar dan bekalilah saya dengan nasihat-nasihat saudara-saudara," kata Umar menutup pidatonya.

Selesai pidato, Umar turun dari mimbar dan memimpin sholat. Selesai sholat dia pun pulang ke rumah. Kisah sahabat nabi itu pun kemudian dikenal sebagai pemimpin yang adil dengan segala kekerasan watak dan kekasarannya.

(erd/nwy)