Pencalonan Gibran Munculkan Bayang-bayang Dinasti Jokowi

Round-Up

Pencalonan Gibran Munculkan Bayang-bayang Dinasti Jokowi

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 10 Okt 2019 09:53 WIB
Pencalonan Gibran Munculkan Bayang-bayang Dinasti Jokowi
Gibran Rakabuming (Foto: Angga Aliya/detikFinance)
Jakarta - Pencalonan Gibran Rakabuming Raka dalam Pilwakot Solo 2020 memunculkan bayang-bayang dinasti Joko Widodo (Jokowi). Gibran dianggap membuka pintu bagi dinasti politik di keluarga Jokowi.

Pencalonan Gibran sendiri menguat setelah dirinya mendaftarkan diri menjadi kader PDIP. Langkah putra sulung Jokowi itu pun mendapat sorotan. Pencalonan Gibran dinilai bakal riuh terbaca sebagai dinasti politik sang presiden.

"Mau nggak mau orang akan membaca seperti itu karena dinasti politik terdefinisi di mana keluarga menjadi penerus atau menjadi suksesor untuk jabatan publik, terutama kepala daerah dan kepala pemerintahan," kata Qodari kepada wartawan, Rabu (9/10).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Qodari mengatakan sebagai putra dari Jokowi, Gibran harus siap menghadapi tudingan dinasti politik. Gibran, kata dia, juga harus siap membuktikan bahwa dia layak maju dalam pertarungan politik yang ada.

"Siapa pun yang menjadi keluarga besar politik harus menghadapi tudingan itu. Menurut saya, ujungnya hanya satu, sang calon harus membuktikan bahwa dia layak dengan cara menunjukkan program, tampil bagus di debat dan semuanya kembali ke masyarakat," ujarnya.



Qodari memandang dinasti politik memang selalu menjadi pro dan kontra. Yang pro maupun kontra punya argumen sendiri-sendiri. Namun, menurut Qodari, dinasti politik pada akhirnya menuntut bukti.

"Yang pro mengatakan ya namanya minat orang ya wajar dong bapaknya jadi pengusaha anaknya pengin jadi pengusaha, bapaknya wali kota anaknya juga ingin jadi wali kota. Yang kontra mengatakan harus kasih kesempatan dengan orang lain. Biasanya dianggap anak atau keluarga itu mendapatkan dukungan atau insentif politik lebih dengan politisi di luar itu. Itu kontranya," jelas Qodari.



Senada dengan Qodari, pakar politik yang juga founder Media Survei Nasional (Median), Rico Marbun, menyebut pencalonan Gibran jelas terbaca sebagai dinasti politik Jokowi. Namun, baginya, dinasti politik tak masalah selama tak melanggar aturan.

Dinasti politik, menurut Rico, baru jadi masalah kalau ada penyalahgunaan jabatan dan fasilitas negara dalam pertarungan pilkada. Sepanjang tidak ada pelanggaran aturan, menurut Rico, dinasti politik sah-sah saja.

"Dinasti politik yang tidak melanggar aturan tidak masalah. Gibran anak muda berpengalaman harus masuk dunia politik untuk faham seluk-beluknya. Maju terus Gibran," kata Rico kepada wartawan, Rabu (9/10).



Rico lantas mengungkap sejumlah tokoh di Indonesia, bahkan dunia, yang melestarikan dinasti politik keluarganya. "AHY dan Ibas penyambung trah SBY di PD, Puan dan Prananda di PDIP, Hanafi Rais di PAN, di luar negeri pun jamak, Bush, Kennedy, dan lain-lain," kata Rico.

Sementara, pakar politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio justru menyebut pencalonan Gibran akan menorehkan tinta negatif bagi Jokowi. Sebab, Gibran akan menjadi anak presiden pertama yang maju dalam Pilkada.

"Yang paling penting Gibran ini akan mencatatkan Jokowi menjadi presiden pertama yang pada saat menjabat anaknya maju ke perhelatan kompetisi daerah. Jadi tinta negatif itu yang akan dicoretkan oleh Gibran," kata Hendri.



Majunya Gibran dalam Pilwakot Solo pun dinilai tak akan menguntungkan Jokowi sebagai presiden. Mengingat, menang kalahnya Gibra dalam pertarungan tetap akan menuai cibiran.

"Kalau menang dicibir, jelas lah anak Presiden. Kalau kalah juga dicibir, masa anak Presiden kalah," ujarnya.


Simak Video "Bakal Nyalon Wali Kota Solo, Gibran Titipkan Bisnis ke Kaesang"

[Gambas:Video 20detik]

Halaman 2 dari 3
(mae/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads