Isu Taliban Bikin Heran Novel Baswedan

Round-Up

Isu Taliban Bikin Heran Novel Baswedan

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 10 Okt 2019 06:26 WIB
Novel Baswedan (Foto: Ari Saputra)
Novel Baswedan (Foto: Ari Saputra)
Jakarta - Isu Taliban di tubuh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat penyidik senior Novel Baswedan heran. Novel menepis mentah-mentah isu Taliban tersebut.

Dalam catatan detikcom, isu mengenai perseteruan antara polisi Taliban dan polisi India di KPK awalnya diembuskan oleh Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane. Saat itu Neta meminta pimpinan KPK menjaga soliditas internal.

"Sekarang berkembang isu di internal. (KPK). Katanya ada polisi India dan ada polisi Taliban. Ini kan berbahaya. Taliban siapa? Kubu Novel (penyidik senior KPK, Novel Baswedan). Polisi India siapa? Kubu non-Novel. Perlu ada ketegasan komisioner untuk menata dan menjaga soliditas institusi ini," kata Neta dalam diskusi bertema 'Bersih-bersih Jokowi: Menyoroti Institusi Antikorupsi' di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat, Minggu (5/5/2019).



Neta menyayangkan konflik terjadi di internal KPK. Ia menilai konflik tersebut terjadi karena ketidaktegasan para pimpinan KPK.

"Sejauh ini para komisioner tidak tegas dan cenderung berpihak. Novel kan baru, harusnya mereka bersinergi menjaga soliditas. Jangan karena perkara Novel tidak terungkap, lalu menjadi alasan mereka sangsi terhadap institusi Polri. Novel sendiri kan anggota Polri dulunya," papar Neta.



Neta bahkan menuding KPK juga bermain politik. Dia menyebut KPK seolah 'menargetkan' orang-orang yang ada di kubu pasangan capres-cawapres nomor urut 01.

"Sejak Desember sampai bulan ini, sebagian besar target OTT KPK pendukung 01. Alasannya apa? Ya mereka yang tahu," sebut Neta.

"Tapi analisa kami, mereka ini kayanya bermain politik saat masyarakat terpecah antara 01 dan 02. Kemudian mereka ikut-ikutan terbelah. Sebenarnya mereka harusnya independen, tetap pada kerja profesional mereka," imbuhnya.



Isu adanya polisi Taliban ini kemudian menjadi perbincangan sejumlah pihak. Mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas turut angkat bicara mengenai isu tersebut.

Busyro membantah soal isu radikalisme, khususnya 'isu Taliban' di lingkup internal KPK. Dia menduga isu Taliban tersebut dipolitisasi oleh Istana.

Busyro mulanya menjelaskan bahwa Taliban yang selama ini ada dalam tubuh KPK memiliki konteks yang berbeda. Dia mengatakan Taliban yang dimaksud dalam KPK adalah untuk menggambarkan penyidik-penyidik KPK yang militan.

"Waktu saya masuk itu sudah ada Taliban-Taliban. 'Lha, kok Taliban to'. 'Pak ini tidak ada konotasi agama'. 'Lho kenapa?' Ini ikon Taliban itu menggambarkan militansi orang Afganistan, dan penyidik-penyidik KPK itu militan-militan. Ini ada Kristian Kristen, ini ada Kadek Hindu, ada Novel cs Islam. Jadi mereka biasa-biasa saja," kata Busyro kepada wartawan, Minggu (15/9/2019).

"Jadi Taliban itu tidak ada konteksnya radikal. Hanya itu dipolitisasi. Dan politisasi itu ada indikasi dari istana," imbuh dia.



Dia pun menyayangkan isu radikalisme kemudian digoreng sedemikian rupa untuk melemahkan KPK. Busyro menilai isu radikalisme yang bahkan masuk dalam materi psikotes pimpinan KPK kekanak-kanakan.

"Kemudian dikembangkan oleh pansel kan. Mengapa baru kali ini pansel itu nggak punya kerjaan seolah-olah nggak punya konsep. Ada tiga guru besar, (tapi) materi psikotesnya pakai isu-isu radikalisme, tapi pertanyaan-pertanyaannya itu childish banget, misalnya kalau ada bendera Merah-Putih menghormati itu bagaimana. SMP itu," tutur Busyro.



Pernyataan Busyro itu kemudian dibantah Istana. Tenaga Ahli Kedeputian IV KSP Ali Mochtar Ngabalin menyangkal itu Taliban tersebut dipolitisasi pihak istana.

"Tidak benar, nggak ada urusan. Cari isu lain dong, tidak usah itu begitu kemudian menyerahkan semua haluan kesalahan ke pemerintah," kata Ngabalin saat dihubungi, Minggu (15/9/2019).



Ngabalin juga mempertanyakan tujuan Busyro bicara isu tersebut di tengah polemik revisi UU KPK. Dia juga mempertanyakan siapa orang yang dimaksud Busyro melakukan politisasi itu.

"Apa urusannya Pak Busyro harus mengemukanan itu ke publik dalam situasi seperti begini. Istana siapa yang bicarakan isu Taliban itu? Kalau Pak Busyro ingin membuat isu baru terkait dengan langkah yang dilakukan pimpinan KPK yang ceroboh hari ini, melakukan press conference kemudian memainkan isu politik seperti hari ini, jadi jangan Pak Busyro main politik," ujarnya.



Isu Taliban ini sampai ke telinga Novel Baswedan. Novel menilai hoax tersebut sudah keterlaluan.

"Ya hoax, hoax keterlaluan, masak Pak Christian disebut Taliban gitu kan. Nggak lah," kata Novel Baswedan setelah menjadi saksi sidang perkara e-KTP di Pengadilan Tipikor, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta, Rabu (9/10).



Novel menilai isu Taliban sengaja untuk menyerang KPK agar dianggap buruk. Dia menegaskan tidak ada 'kelompok Taliban' di KPK.

"Saya kira pola-pola itu sengaja membuat persepsi seolah-olah KPK-nya jelek, sehingga undang-undangnya diubah mungkin kan. He-he-he... saya kira intinya nggak begitulah KPK," ujar Novel.


Simak Video "Beranggotakan 120 Orang, Tim Teknis Kasus Novel Baswedan Mulai Bekerja"

[Gambas:Video 20detik]

(knv/idh)