Isu Taliban Bikin Heran Novel Baswedan - Halaman 2

Round-Up

Isu Taliban Bikin Heran Novel Baswedan

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 10 Okt 2019 06:26 WIB
Novel Baswedan (Foto: Ari Saputra)
Novel Baswedan (Foto: Ari Saputra)


Neta bahkan menuding KPK juga bermain politik. Dia menyebut KPK seolah 'menargetkan' orang-orang yang ada di kubu pasangan capres-cawapres nomor urut 01.

"Sejak Desember sampai bulan ini, sebagian besar target OTT KPK pendukung 01. Alasannya apa? Ya mereka yang tahu," sebut Neta.

"Tapi analisa kami, mereka ini kayanya bermain politik saat masyarakat terpecah antara 01 dan 02. Kemudian mereka ikut-ikutan terbelah. Sebenarnya mereka harusnya independen, tetap pada kerja profesional mereka," imbuhnya.



Isu adanya polisi Taliban ini kemudian menjadi perbincangan sejumlah pihak. Mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas turut angkat bicara mengenai isu tersebut.

Busyro membantah soal isu radikalisme, khususnya 'isu Taliban' di lingkup internal KPK. Dia menduga isu Taliban tersebut dipolitisasi oleh Istana.

Busyro mulanya menjelaskan bahwa Taliban yang selama ini ada dalam tubuh KPK memiliki konteks yang berbeda. Dia mengatakan Taliban yang dimaksud dalam KPK adalah untuk menggambarkan penyidik-penyidik KPK yang militan.

"Waktu saya masuk itu sudah ada Taliban-Taliban. 'Lha, kok Taliban to'. 'Pak ini tidak ada konotasi agama'. 'Lho kenapa?' Ini ikon Taliban itu menggambarkan militansi orang Afganistan, dan penyidik-penyidik KPK itu militan-militan. Ini ada Kristian Kristen, ini ada Kadek Hindu, ada Novel cs Islam. Jadi mereka biasa-biasa saja," kata Busyro kepada wartawan, Minggu (15/9/2019).

"Jadi Taliban itu tidak ada konteksnya radikal. Hanya itu dipolitisasi. Dan politisasi itu ada indikasi dari istana," imbuh dia.



Dia pun menyayangkan isu radikalisme kemudian digoreng sedemikian rupa untuk melemahkan KPK. Busyro menilai isu radikalisme yang bahkan masuk dalam materi psikotes pimpinan KPK kekanak-kanakan.

"Kemudian dikembangkan oleh pansel kan. Mengapa baru kali ini pansel itu nggak punya kerjaan seolah-olah nggak punya konsep. Ada tiga guru besar, (tapi) materi psikotesnya pakai isu-isu radikalisme, tapi pertanyaan-pertanyaannya itu childish banget, misalnya kalau ada bendera Merah-Putih menghormati itu bagaimana. SMP itu," tutur Busyro.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4