Loyalis Ngotot Bamsoet Calon Ketum Golkar

Loyalis Ngotot Bamsoet Calon Ketum Golkar

Pasti Liberti Mappapa, Ibad Durohman - detikNews
Selasa, 08 Okt 2019 11:58 WIB
Loyalis Ngotot Bamsoet Calon Ketum Golkar
Foto ilustrasi: Bambang Soesatyo (Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Usai terpilih sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Kamis (3/10) lalu, Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyatakan dirinya memilih mendinginkan suasana dan menyampingkan kontestasi untuk kepentingan konsolidasi di tengah memanasnya tensi politik. "Saya ingin mengatakan bahwa tidak ada lagi persaingan, kita sudah bersatu, tidak ada persaingan," ujar Bamsoet dalam konferensi pers di ruang Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar).

Politikus senior Partai Golkar yang juga tim sukses Bamsoet untuk Musyawarah Nasional Freddy Latumahina menilai pernyataan Bamsoet usai pemilihan itu tersebut sekaligus langkah untuk menurunkan tensi politik yang memanas jelang pelantikan Presiden Joko Widodo. "Kalau Golkar berada dalam konflik akan berakibat pada keguncangan nasional," ujar Freddy pada detikcom, Senin (8/10/2019). "Karena itu upaya mempersatukan Golkar itu perlu."



Ketika Presiden sudah selesai dilantik dan mengumumkan kabinetnya, menurut Freddy, Bamsoet punya tugas tak kalah penting. Khususnya dalam perhelatan Munas Golkar yang sedianya akan digelar awal bulan Desember 2019 mendatang. Bamsoet menurut Freddy, merupakan satu-satunya kader yang punya peluang besar untuk memimpin Golkar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bahwa untuk menjaga persatuan dan kesatuan beliau mendukung Pak Airlangga sebagai ketum, itu sampai masa jabatannya (Airlangga) selesai. Maksudnya itu," ujarnya



Freddy menyebut dengan berbagai kompromi agar situasi politik nasional tetap stabil, tim sukses Bamsoet akan kembali bergerilya menyiapkan Ketua MPR itu untuk berkompetisi setelah pelantikan Jokowi mendatang. "Sesuai schedule itu Oktober harus dituntaskan dulu pelantikan (Jokowi) dengan damai dan nanti kemudian kita bertarung satu bulan penuh sampai Desember untuk mempersiapkan Munas," kata Freddy. "Dan Pak Bamsoet mempunyai hak untuk maju."

Wakil Sekjen Golkar di era '90-an itu pun tak sepakat jika naiknya Bamsoet sebagai Ketua MPR untuk mengamankan tiket Airlangga sebagai Ketum Partai Golkar. "Tidak begitu. Dan tidak ada satupun dokumen tertulis yang mengatakan begitu. Itu kan deal politik saja," kata Freddy. "Komitmen itu tidak ada sesuatupun yang mengikat untuk Munas. Karena waktunya saja masih lama sampai Desember jadi Bamsoet dukung lah supaya tidak ribut-ribut."

Freddy mengakui Bamsoet memang tidak pernah membuka kesepakatannya dengan Airlangga pada loyalisnya. "Dia hanya mengatakan sudah kita siap semua sampai tanggal 20 Oktober, sampai kabinet baru selesai. Baru setelah itu kita memulai ke depan," ujar Freddy. Permintaan tersebut diikuti agar tensi politik internal Golkar bisa menurun. "Bukan berarti Bamsoet mau mundur dari calon ketum, ya mungkin dari sana (kubu Airlangga) mengartikan begitu tapi bagi kami tidak. Karena tidak ada sesuatu tertulis dan tidak ada bukti sesuatu bagi kita."



Loyalis Bamsoet lainnya Nofel Soleh Hilabi mengatakan terpilihnya Bamsoet tidak serta merta bisa membatalkan haknya jadi Ketum Golkar. "Tidak pernah ada yang menyatakan seorang calon entah itu Azis Syamsudin atau Bamsoet, mentang-mentang Azis jadi wakil ketua DPR terus Aziz gak bisa maju? Gak juga. Azis bisa juga maju. Bisa juga Bamsoet maju, bisa juga Airlangga maju. Jadi siapapun bisa maju gak ada yang bisa membatasi," kata Nofel

Wakil Ketua Umum Angkatan Muda Partai Golkar itu menyebut Bamsoet memang agak mengendorkan niatnya itu dengan alasan mendukung Ketum Golkar sampai masa jabatan selesai. Namun menurut Nofel, Bamsoet tetap punya tanggung jawab pada Golkar. "Namun secara politik dia (Bamsoet) punya tanggung jawab untuk membesarkan partai Golkar dengan menjadi ketum," ujar Nofel.



Pengamat politik Ray Rangkuti adalah salah satu yang meyakini Bamsoet tetap akan maju mencalonkan diri sebagai Ketum Golkar. "Mungkin memang ada perjanjian atau apa, ada semacam skenario kalau Bamsoet jadi ketua MPR dan didukung semua organ di Golkar dia tidak akan mencalonkan diri, mungkin begitu komitmennya," kata Ray. Namun komitmen itu akan tergantung situasi jelang Munas. "Kalau ada arah atau suasana, ada peluang saya kira tidak menutup kemungkinan Bamsoet kembali mencalonkan diri," katanya.

Menurut Ray, peluang tersebut terbuka lebar karena Bamsoet salah satu figur yang paling tinggi elektabilitasnya di internal Golkar. Apalagi dengan jabatannya sekarang sebagai Ketua MPR justru lebih memudahkan Bamsoet berkomunikasi dengan berbagai pihak baik di dalam maupun di Golkar. "Sebagai ketua MPR Bamsoet justru akan lebih mudah untuk menjadi ketum golkar dibandingkan dia tidak menjadi apa-apa atau hanya menjabat di institusi Golkar," ujar Ray.tidak yakin itu akan dijalankan karena itu situasional juga.



Sementara pengamat politik dari Sinergi Data Indonesia, Barkah Pattimahu menyebut tak tertutup kemungkinan Bamsoet bisa muncul dalam panggung Munas mendatang. Dukungan beberapa Dewan Pimpinan Daerah jadi pemicunya. "Bamsoet bisa beralasan sederhana saja, ini bukan keinginan saya tapi permintaan dari DPD," ujar Barkah. Apalagi Bamsoet tak pernah secara eksplisit menyatakan bergabung dengan Airlangga.

Namun Barkah menghitung peluang Bamsoet menang tipis. "Alih-alih meraih dukungan, yang terjadi back fire effect untuk Bamsoet," katanya. Kemungkinan lainnya, akan dimunculkan figur lain baik dari poros Bamsoet atau faksi lainnnya. "Kalaupun muncul peluang menangnya kecil. Karena membelokkan dukungan ke tokoh yang belum teruji tidak mudah. Airlangga jauh lebih siap," ujar Barkah.
Halaman 2 dari 3
(pal/dnu)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads