detikNews
Selasa 08 Oktober 2019, 06:13 WIB

Round-Up

Temuan Mencengangkan dari Kasus Penyekapan Ninoy

Tim detikcom - detikNews
Temuan Mencengangkan dari Kasus Penyekapan Ninoy Ninoy Karundeng di Polda Metro Jaya (Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta - Polisi kembali mengamankan tersangka baru dalam kasus penyekapan relawan Jokowi, Ninoy Karundeng. Total tersangka ada 11, tapi hanya 10 yang ditahan.

Polisi menghadirkan Ninoy Karundeng dalam konferensi Pers di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (7/10/2019). Kepada wartawan, polisi dan Ninoy mengungkapkan banyak keterangan mencengangkan terkait penganiayaan yang terjadi pada Selasa (1/10) dini hari. Ninoy diduga dipukuli dan hendak dibunuh.

Di antaranya adalah diperiksanya Sekjen PA 212 Bernard Abdul Jabbar. Serta disebutnya nama Sekretaris Umum Munarman yang diduga punya jejak dalam kasus tersebut.


Polisi mengatakan Bernard Abdul Jabbar berada di lokasi kejadian saat Ninoy Karundeng dianiaya. Bernard disebut ikut mengintimidasi Ninoy.

"Itu ada di lokasi ikut mengintimidasi dan saat ini sedang dilakukan pemeriksaan. Itu adalah Sekjen PA 212," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono.

Argo juga menjelaskan ada Munarman dalam kasus penganiayaan-penculikan Ninoy Karundeng. Menurutnya, Munarman memerintahkan pengurus Masjid Al-Falah, tempat kejadian perkara penganiayaan Ninoy, untuk menghapus rekaman CCTV.

"Kemudian ada juga insinyur S ya. Dia ini sekretaris daripada DKM ya. Dia perannya adalah dia ada di lokasi kejadian kemudian yang bersangkutan memerintahkan menyalin data daripada data yang ada di laptop," tutur Argo.



Menurut Argo, insinyur S melaporkan semua hal kepada Munarman. S lalu disebut mendapat perintah untuk menghapus rekaman CCTV.

"Kemudian dia melaporkan semuanya kepada Pak Munarman. Selanjutnya dia juga dapat perintah untuk hapus CCTV dan kemudian juga untuk tidak menyerahkan semua data kepada pihak kepolisian," sebut Argo.
Temuan Mencengangkan dari Kasus Penyekapan NinoyFoto: Rifkianto Nugroho

Munarman sendiri telah menyanggah pernyataan polisi. Dia pun memberikan klarifikasi.

"Ngawur dia... emang suka ngawur dia kalau ngasih keterangan pers. Yang saya minta rekaman CCTV masjid... karena saya pengin lihat situasi masjid saat tanggal 30 malam sampai pagi," kata Munarman saat dimintai konfirmasi.


Kembali ke temuan polisi, Argo mengatakan sudah ada 11 orang yang ditetapkan menjadi tersangka yang mempunyai tugas masing-masing. Dia menuturkan tersangka AA, ARS, dan YY diduga menyebarkan video dan membuat konten hate speech di grup WhatsApp (WA).

"Sebelas tersangka itu yang pertama inisialnya AA, kemudian ARS, YY. Ini adalah perannya menyebarkan videonya dan kemudian juga membuat konten-konten berkaitan dengan hate speech di WA group di sana," ujar Argo.



Polisi juga menetapkan tersangka RF dan Baros. Kedua tersangka ini diduga berperan mencuri data dari laptop Ninoy.

"Yang bersangkutan meng-copy atau mencuri atau mengambil data laptop milik korban. Dia juga mengintervensi korban dia juga menghapus semua data-data yang ada di HP," jelas Argo.

Berikutnya, ada tersangka Insinyur S. Menurut Argo, S diduga berperan memerintahkan menyalin data yang ada di laptop.

"Kemudian ada juga insinyur S ya. Dia ini sekretaris daripada DKM ya. Dia perannya, dia ada di lokasi kejadian kemudian yang bersangkutan memerintahkan menyalin data daripada data yang ada di laptop," tuturnya.

Ada juga tersangka berinisial TR. Argo menyebut TR diduga berada di lokasi dan memanggil pihak lainnya, F, untuk memeriksa HP Ninoy.
Temuan Mencengangkan dari Kasus Penyekapan NinoyFoto: Kabid Humas Polda Metro Kombes Argo Yuwono (Samsuduha)

Berikutnya, ada tersangka SU. Argo mengatakan SU diduga mendapat perintah dari S untuk memperbanyak copy-an data yang dicuri dari laptop Ninoy.

"Yang berikutnya adalah tersangka SU. Ini adalah mendapat perintah dari tersangka S untuk memperbanyak copy-an daripada yang hasil curian di laptop milik korban," jelas Argo.

Tersangka selanjutnya adalah ABK. Tugasnya diduga membuat video dan menyebarkannya kemudian memukuli Ninoy dan mendukung skenario agar Ninoy dibunuh.

"Kemudian yang berikutnya tersangka ABK ini perannya merekam video dan menyebarkan kemudian memukuli, menganiaya korban, dan mendukung perencanaan skenario akan dibunuh di situ," tutur Argo.

Argo menjelaskan tersangka berikutnya adalah IA. Dia diduga ikut menganiaya dan mengusulkan pembunuhan dengan kapak.

"Kemudian yang berikutnya tersangka R. Ini anggota DKM dia ada di lokasi kejadian dan ikut menganiaya korban dan juga ikut mengintimidasi korban. Itu yang 11 tersangka," jelas Argo.



Sementara itu, Ninoy juga mengungkapkan sosok habib yang diduga sempat merancang pembunuhan kepadanya. Sosok tersebut adalah tersangka yang berinisial IA. IA disebut-sebut ingin kepala Ninoy dikapak saja.

"Ini saya tidak bisa membayangkan seandainya ambulans datang karena setelah demo itu surut, tidak banyak lagi korban yang dibawa ke masjid. Ada seorang yang dipanggil habib itu memberi ultimatum kepada saya bahwa waktu saya pendek karena saya akan dibelah kepala saya," kata Ninoy dalam kesempatan yang sama.

Menurutnya, pria yang dipanggil 'habib' itu menginterogasi dan memukulinya. Dia mengaku dipukul berkali-kali setiap sedang diinterogasi.

"Saya bermohon untuk tetap hidup karena saya punya anak, istri, dan seterusnya, tapi tetap saja saya tidak diperbolehkan pulang, tetap harus ada di situ. Habib ini terakhir menanyakan juga apakah sudah datang ambulans dan dijawab ambulansnya belum datang," jelas Ninoy.


"Disuruh nunggu dan seterusnya sampai menjelang waktu yang dikatakan sebelum subuh saya harus dieksekusi dan mayat saya nanti diangkut untuk dibuang ke arah kerusuhan. Itu sejak demo reda sekitar pukul 2, habib itu yang merancang untuk membunuh saya di situ bersama dengan penyedia ambulans yang mengaku sebagai tim medis," imbuhnya.



Terkait hal itu, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) atau pengurus Masjid Al Falah Iskandar membantah informasi terjadinya penganiayaan di dalam masjid. Iskandar menegaskan DKM Masjid Al Falah menyelamatkan Ninoy, bukan menyekap seperti narasi yang beredar. Di dalam masjid, kata Iskandar, Ninoy dirawat.

"Di sini mah dikerumunin, sampe sini (depan gerbang masjid). Pokoknya masuk area masjid sudah nggak dipukuli sampai dalam, di luar saja," kata Iskandar kepada wartawan di Masjid Al Falah, Pejompongan, Jakpus, Minggu (6/10).

Namun memang, menurut Iskandar, dia meninggalkan masjid pukul 23.00 WIB. Kejadian setelahnya dia tak mengetahui lagi detailnya. Iskandar tak tahu sosok 'habib' yang disebut Jack Lapian meminta ambulans untuk mengangkut jenazah Ninoy. Dia juga mengaku tak tahu soal pihak yang merekam Ninoy hingga videonya akhirnya viral.

Setelahnya, Iskandar kembali lagi ke masjid pukul 04.00 WIB, untuk salat subuh. Ninoy masih ada, termasuk beberapa orang yang merawatnya.


(fdu/gbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com