detikNews
Sabtu 05 Oktober 2019, 14:52 WIB

Palagan Intelektualitas Si Baju Loreng

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Palagan Intelektualitas Si Baju Loreng Ilustrasi (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta - Tak hanya mahir membidik sasaran dengan senjata, menerbangkan pesawat tempur canggih seharga ratusan miliar rupiah di angkasa atau mengendalikan kapal perang dengan panjang ratusan meter membelah samudra. Sejumlah prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga mampu 'bertarung' di palagan intelektual. Istimewanya, mereka pun sanggup menuangkan buah-buah pikiran dalam sejumlah buku.

Amarulla Octavian, seorang perwira tinggi TNI Angkatan Laut, salah satu yang masuk dalam jajaran itu. Perwira tinggi (pati) bintang dua itu baru saja menyelesaikan buku kelimanya yang diberi judul 'Indonesian Navy, Global Maritime Fulcrum and ASEAN' dan menyiapkan buku keenam 'Indonesia Maritime Geopolitics in The Indo-Pacific Region'. "Ini kumpulan makalah saya di berbagai seminar internasional," ujar Octavian, yang kini menjabat Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), kepada detikcom, Jumat (4/10/2019).

Minatnya pada tulis-menulis tak datang dalam sekejap. Sewaktu masih remaja, alumni Akabri Laut 1988 itu sudah rajin menuliskan cerita pendek. "Buat dibaca teman-teman, ditempel di majalah dinding sekolah," ujar Octavian. Setelah masuk Angkatan Laut, topik tulisannya berubah jadi lebih serius. "Selama dinas saya sering membuat kajian strategis. Kemampuan menulis saya itu akhirnya tetap terjaga."


Sepanjang masa tugasnya, Octavian pernah dipercaya menjadi komandan beberapa kapal perang di jajaran TNI Angkatan Laut, seperti Komandan KRI Tjiptadi-881 tahun 2003, KRI Karel Satsuitubun-356 sekaligus Komandan Flotila II Satuan Kapal Eskorta Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) tahun 2006. Puncaknya perwira tinggi yang pernah menempuh pendidikan di Le Groupe Ecole d'application des officiers de marine (GEAOM) P.H.Jeanne d'Arc di Prancis tahun 1991-1992 itu menjadi Komandan Satuan Kapal Cepat Rudal pada 2007.

Semasa bertugas di kapal perang itu juga, pati yang juga punya spesialisasi senjata bawah air itu juga pernah menjabat Komandan Gugus Gladi Yudha dan Komandan Pusat Latihan Operasi Laut pada Komando Latihan Koarmatim pada 2003 sebelum akhirnya menjabat Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) di Sangatta, Kalimantan Timur, pada 2004.

Setelah menjabat Ajudan Presiden RI pada 2009-2012, Octavian kemudian mendapat promosi menjadi perwira tinggi bintang satu sebagai Komandan Gugus Tempur Laut Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) pada 2013. Pada tahun yang sama pula, Octavian menyelesaikan studi tingkat doktoral di bidang sosiologi militer di Universitas Indonesia (UI), Jakarta.

Pelengkap disertasinya kemudian menjadi buku pertamanya. Buku itu kemudian diberi judul 'Militer dan Globalisasi' yang diterbitkan UI Press, Jakarta. "Isinya kajian sosiologi militer. Saya orang Indonesia pertama yang membuat kajian tersebut," kata Octavian. "Saya susun cukup lama juga kira-kira setahun di sela-sela kesibukan utama sebagai tentara." Buku itu kemudian diterjemahkan dalam empat bahasa yakni Inggris, Prancis, Arab, dan China.

Menyandang gelar doktor sekaligus calon guru besar di Universitas Pertahanan Indonesia membuat Octavian semakin produktif menulis karya ilmiah. Ide-ide untuk menulis diperolehnya dari membaca buku serta artikel militer. "Setiap hari saya mengalokasikan waktu khusus untuk membaca," kata penyandang gelar Master of Science dari Universite Paris 2 Pantheon Assas, Prancis, itu.


Octavian pun kerap menghadiri sejumlah pertemuan ilmiah internasional di berbagai negara baik sebagai peserta maupun pembicara. "Mendengarkan paparan akademisi atau petinggi militer dari berbagai negara memunculkan ide-ide baru," katanya. "Atau paper yang kita presentasikan mendapat tanggapan dari peserta dan pembicara lain bisa berkembang lagi jadi ide-ide baru." Buku-buku selanjutnya kemudian lahir dengan judul 'Transformasi Pendidikan Militer', 'Budaya, Identitas, dan Masalah Keamanan Maritim' serta 'Bajak Laut antara Aden dan Malaka'.

Aktif di berbagai seminar ilmiah baik di dalam dan luar negeri tak membuat mantan Kepala Staf Koarmabar itu melupakan tugas utamanya sebagai prajurit TNI AL. "Bagi seorang perwira, memimpin pasukan itu tetap profesi utama. Menulis itu merupakan keterampilan tambahan. Biasanya bagi prajurit menulis itu untuk membuat laporan tugas. Tapi tidak semua prajurit terlatih untuk menuangkan ide gagasannya," ujar pati yang pernah mengikuti Combined Force Maritime Component Commander Flag Officer Course di Amerika Serikat pada 2014 itu.

Keterampilan menulis bagi Octavian juga krusial sebagai latihan berpikir secara terstruktur dan sistematis. Karena itu, menurut mantan Komandan Satgas Western Fleet Quick Response (WFQR) dengan tugas memberantas berbagai aksi perompakan di Selat Malaka dan Laut Natuna medan pertempuran dan aktivitas menulis punya filosofi yang hampir serupa. "Bertempur pun butuh berpikir terstruktur dan sistematis. Bagaimana mengeluarkan tembakan pendahuluan dan seterusnya."

Karena tahu tugas utamanya sebagai prajurit dan keterampilan menulis sama-sama penting, Octavian berusaha menyeimbangkan keduanya. "Sebagai prajurit, saya minimal istirahat enam jam sehari biar fisik tetap prima," katanya. Namun di akhir pekan, Octavian sanggup berlama-lama di depan komputer menyelesaikan tulisannya. "Bahkan, kalau lagi mood, saya bisa enam jam menulis. Biasanya saya mulai jam 10 malam biar fokus."

Bukan hanya Octavian, untuk generasi yang lebih senior ada nama mantan Kepala Staf Angkatan Udara, Marsekal (Purn) Chappy Hakim. Chappy sampai saat ini masih aktif menulis artikel di bidang yang menjadi keahlian dan minatnya yaitu kedirgantaraan. Purnawirawan bintang empat yang lahir di Yogyakarta, 71 tahun yang lalu, ini bahkan baru saja meluncurkan dua buku baru dalam waktu berdekatan. Judulnya 'Penegakan Kedaulatan Negara di Udara: Airways di Atas Alur Laut Kepulauan Indonesia' dan 'Menata Ulang Penerbangan Nasional'.

Nama Abdul Haris Nasution sebagai seorang prajurit intelektual dan pemikir ulung juga tak boleh dilupakan. Nasution menerbitkan sejumlah buku referensi berjudul 'Sekitar Perang Kemerdekaan' sebanyak sebelas jilid dibantu Moela Marboen dosen UI dan sejumlah perwira Dinas Sejarah TNI AD. Setelah pensiun pada 1972, mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara itu menuliskan memoarnya dengan judul 'Memenuhi Panggilan Tugas' sebanyak tujuh jilid.

Frits August Kakiailatu, seorang anggota tim dokter kepresidenan, dalam buku 'Pak Harto, Pak Nas, dan Saya' menuturkan semangat Nasution menulis tak padam bahkan di masa-masa tuanya. Saat menjalani operasi katup jantung di RSAD Pusat Walter Reed di Washington DC, Amerika Serikat, pada 1986, Nasution masih bersemangat merampungkan buku terakhirnya. "Pak Nas menjadi sulit berkomunikasi. Masalahnya, meski berada di rumah sakit, beliau sedang merampungkan bukunya yang terakhir," kata Frits dalam bukunya itu.

Seorang juru catat dengan setia berada di samping jenderal penggagas Dwifungsi ABRI itu untuk menuliskan ucapan-ucapannya. "Tampaknya orang tersebut sulit dan bingung menangkap ucapan dan pikiran Pak Nas," kata Frits. "Apa yang didiktekan Pak Nas sering kacau atau berulang-ulang. Selain itu, pekerjaannya ini sering terhalang kalau kepada pasien harus dilakukan tindakan bius."

Untungnya Menteri Pertahanan dan Keamanan di akhir era Orde Lama itu bisa membaik. Penulisan buku bisa dilanjutkan. Buku tersebut baru diterbitkan setelah Nasution wafat pada 5 September 2000. Yayasan Kasih Adik bekerja sama dengan Dinas Pembinaan Mental Angkatan Darat menerbitkannya dengan judul besar 'Mengawal Nurani Bangsa Jenderal A.H. Nasution'. Tiga jilid buku itu masing-masing diberi judul 'Kenangan Masa Purnawirawan', 'Kepemimpinan Nasional dan Pemimpin Bangsa', serta 'Bersama Mahasiswa, Aset Utama Pejuang Nurani'.

Pengamat militer Susaningtyas Kertopati menyebut prajurit TNI memang perlu meningkatkan kemampuan akademik, baik di bidang metodologi cara berpikir maupun di bidang komunikasi. "Kualitas metodologi cara berpikir secara ilmiah sangat dibutuhkan para prajurit TNI untuk senantiasa menggunakan perspektif yang ilmiah di dalam menyelenggarakan operasi militer," ujar Susaningtyas pada detikcom.
(pal/hri)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com