Incar Komisi XI, Puteri Komarudin Ingin Dorong RUU Soal Rentenir

Incar Komisi XI, Puteri Komarudin Ingin Dorong RUU Soal Rentenir

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Jumat, 04 Okt 2019 11:38 WIB
Puteri Komarudin (Foto: Marlinda Oktavia/detikcom)
Puteri Komarudin (Foto: Marlinda Oktavia/detikcom)
Jakarta - Anggota DPR dari Fraksi Golkar, Puteri Komarudin, bicara tentang komisi yang ingin diincarnya. Anggota dewan berusia 26 tahun ini mengaku ingin mendapat tugas di Komisi XI.

Puteri awalnya bicara tentang perjuangannya melenggang ke Senayan. Dia mengatakan sebagai perempuan, perjuangan menjadi politikus lebih berat sehingga dirinya tak ingin menyia-nyiakan kepercayaan rakyat yang diberikan padanya.

"Aku sudah perempuan, muda, dipandangnya lebih dua kali lipat lebih rendah lagi, karena itu kita-kita bekerja lebih keras, bekerja dua kali lipat, jadi kita mengambil segmen yang selama ini terluput dari kandidat lain karena mereka banyak yang senior," kata Puteri saat berbincang dengan detikcom di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (4/10/2019).



Salah satu yang ingin dilakukan Puteri setelah duduk di DPR adalah mengimplementasikan ilmu keuangan yang dikuasainya. Oleh sebab itu, dia mengaku ingin duduk di Komisi XI.

"Aku ingin di Komisi XI. Karena aku kan dulu di OJK. Terus aku bidang studinya dulu di ekonomi keuangan di Melbourne University," ujarnya.

Di Komisi XI, Puteri mengatakan ingin mendorong RUU yang mengatur soal rentenir. Sebab, selama ini belum ada peraturan perundang-undangan yang mengatur soal praktik rentenir.

Padahal, kata dia, rentenir merupakan masalah yang ada di setiap daerah yang kerap menyasar masyarakat terutama perempuan. Dia membuat orang-orang yang menggunakan jasa rentenir kerap tidak bisa membayar bahkan hingga diusir dari rumah.



"Itu masalah yang ada di setiap daerah, aku yakin di seluruh Indonesia ada cuma memang belum ada jalur hukumnya. Karena mereka belum punya banyak akses ke produk keuangan yang legal, mereka tidak punya agunan untuk dijual ke bank yang legal, akhirnya mereka ambil jalan pintas. Sementara rentenir itu charge-nya 30 persen per minggu jadi banyak warga yang tidak bisa bayar, diusir dari rumah sama suaminya gitu," tutur Puteri.

"Jadi hal-hal seperti itu ingin aku dorong di Komisi XI supaya Komisi XI juga lebih sensitif terhadap gender, karena yang disasar oleh Bank rentenir itu adalah perempuan, karena perempuan itu korban paling empuk lah. Karena selain mereka pengetahuannya rendah, mereka juga gampang tergiur dengan tawaran seperti itu, dan biasanya rentenir sistemnya jemput bola jadi mereka tidak menunggu didatangin, mereka datangin sampai ke desa-desa yang paling terpencil sekalipun," sambung dia.

Selanjutnya
Halaman
1 2