detikNews
2019/10/04 09:13:18 WIB

Analis Drone Emprit Sebut Buzzer Buat Pemerintah Tak Bisa Dengarkan Kritik

Mochamad Zhacky - detikNews
Halaman 1 dari 2
Analis Drone Emprit Sebut Buzzer Buat Pemerintah Tak Bisa Dengarkan Kritik Foto: Ilustrasi buzzer (Tim Infografis Fuad Hasim)
Jakarta - Analis media sosial Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi menilai buzzer membuat pemerintah menjadi tak bisa mendengarkan kritik yang disampaikan masyarakat di media sosial. Sebab, menurut Ismail, para buzzer pendukung Joko Widodo (Jokowi) langsung 'menghajar' ketika ada kritik.

Ismail awalnya menjelaskan soal buzzer yang dipelihara. Dia menyebut buzzer negara memelihara buzzer semenjak tahun 2014.



"Sekarang, semenjak tahun 2014, dalam menghadapi media sosial itu, negara bukan memberikan berita positif, tetapi negara malah menaruh buzzer untuk menghadapi opini. Itulah yang kemudian apa, menyebabkan buntu. Mereka yang mengkritik jadinya seperti buzzer," kata Ismail kepada wartawan, Kamis (3/10/2019).

"Akibatnya apa? Karena tidak mendapatkan tanggapan dari pemerintah, dan pemerintah juga mendengar. Jadi buzzer membereskan aja, ketika ada ini, diberesin ini. Ketika ada sesuatu yang bikin ramai, ditangkal isu lain. Kemudian ada satu isu yang pemerintah mau angkat, dia bikin kampanye luar biasa, yang menghalangi langsung dihajar oleh buzzer itu," imbuhnya.



Menurut Ismail, buzzer di media sosial membuat pemerintah tidak bisa mengetahui aspirasi apa yang disampaikan masyarakat melalui media sosial. Dia menilai pemerintah seharusnya membuat sistem yang bisa menampung kritikan masyarakat di media sosial.

"Seharusnya tidak ada buzzer di Istana, tidak ada buzzer di oposisi, yang ada adalah rakyat, yang ada adalah publik yang menyampaikan suara di media sosial, menyampaikan kritikan. Kemudian pemerintah mendengarkan big data, mendengarkan sinyal itu," ucapnya.



Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com