Wamenlu Serahkan Buku Dasawarsa Diplomasi Batik Indonesia ke Jokowi

Herianto Batubara - detikNews
Rabu, 02 Okt 2019 20:38 WIB
Foto: Wamenlu AM Fachir menyerahkan secara simbolis buku Dasawarsa Diplomasi Batik Indonesia kepada Presiden Jokowi (dok Kemlu)
Foto: Wamenlu AM Fachir menyerahkan secara simbolis buku 'Dasawarsa Diplomasi Batik Indonesia' kepada Presiden Jokowi (dok Kemlu)
Solo - Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) AM Fachir menyerahkan secara simbolis buku 'Dasawarsa Diplomasi Batik Indonesia' kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

AM Fachir menyerahkan secara simbolis buku ini kepada Jokowi di acara Peringatan Hari Batik Nasional (HBN) 2019 di Keraton Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Rabu (2/10/2019). Buku 'Dasawarsa Diplomasi Batik Indonesia' yang disusun Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kemlu bersama Yayasan Tjanting Batik Nusantara ini merupakan bagian dari peringatan sepuluh tahun ditetapkannya batik Indonesia sebagai Warisan Takbenda United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).

Menurut AM Fachir, buku ini cukup spesial. Buku ini merekam hal-hal yang telah dilakukan oleh Kemlu, baik di tanah air maupun di perwakilan Republik Indonesia di luar negeri dalam upaya mendorong pengakuan dan lebih jauh memperkuat batik sebagai identitas diplomasi Indonesia di dunia.


Wamenlu Serahkan Buku Dasawarsa Diplomasi Batik Indonesia ke JokowiFoto: Perayaan Hari Batik Nasional 2019 (dok Kemlu)

Acara Perayaan HBN 2019 sendiri mengambil tema 'Membatik untuk Negeri'. Agenda ini diselenggarakan Yayasan Batik Indonesia (YBI) bekerja sama dengan Kemlu, Kementerian Perindustrian, dan BEKRAF serta sejumlah pemangku kepentingan terkait batik dari pengusaha dan media.

Di acara peringatan HBN 2019, Presiden Jokowi beserta Ibu Iriana Joko Widodo juga berkesempatan mengunjungi booth 'Diplomasi Batik Indonesia' yang digagas BPPK Kemlu. Booth Diplomasi Batik Indonesia berdesain 4 pilar sebagai representasi simbol prioritas kebijakan luar negeri Republik Indonesia dalam motif kain batik. Motif parang melambangkan penjagaan kedaulatan NKRI, motif truntum melambangkan perlindungan WNI, motif sidomukti melambangkan diplomasi ekonomi, dan motif sekar jagad melambangkan peran aktif Indonesia di Kawasan dan dunia.

Dalam kaitan ini, setiap pilar pada booth menampilkan showcase dokumentasi kegiatan diplomasi batik Indonesia di seluruh dunia, dimulai semenjak kampanye pencalonan hingga dimasukkannya batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, serta kegiatan promosi batik oleh Perwakilan RI di seluruh dunia.


Sebagai bagian dari rangkaian peringatan HBN 2019 di Keraton Mangkunegaraan, Solo, BPPK Kemlu bekerja sama dengan Yayasan Batik Indonesia juga menyelenggarakan diskusi dengan tema 'Napak Tilas 10 Tahun Pengakuan UNESCO untuk Batik Indonesia'. Hadir sebagai nara sumber Ketua Dewan Pakar Yayasan Batik Indonesia dan Mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Prof. Dr. Rahardi Ramelan, M.sc, Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Multilateral Kemlu Dindin Wahyudin serta pakar dari Universitas Gadjah Mada, Dewan Ahli Paguyuban Pecinta Batik Indonesia, Yayasan Sekar Jagad Dr. Ir. Laretna T. Adishakti M.Arch.

Diskusi membahas sudut pandang historis pencalonan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada tahun 2009 serta upaya-upaya yang dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan untuk lebih lanjut memperkuat citra batik Indonesia di dunia. Dalam diskusi tersebut,juga diingatkan bahwa batik membawa berbagai prestasi diplomasi, antara lain ditetapkannya Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia 2014 oleh World Craft Council, dan Pekalongan sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network tahun 2014.

Wamenlu Serahkan Buku Dasawarsa Diplomasi Batik Indonesia ke JokowiFoto: Perayaan Hari Batik Nasional 2019 (dok Kemlu)

Diskusi tersebut juga melihat pentingnya batik Indonesia terhadap perekonomian masyarakat di tanah air, khususnya di daerah pedesaan, termasuk dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Diskusi tersebut menyimpulkan bahwa pengakuan UNESCO merupakan awal dari proses, dan untuk ke depan masih diperlukan sinergi dari pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk terus melindungi, mempromosikan dan menjadikan batik Indonesia sebagai warisan budaya yang benar-benar adiluhur.

Diakuinya batik Indonesia oleh UNESCO sebagai Warisan Takbenda pada 2 Oktober 2009 menunjukkan pengakuan dunia atas kekayaan budaya dan komitmen Indonesia dalam melindungi batik Indonesia. Ini sekaligus menjadikan batik Indonesia sebagai salah satu alat penting dalam melakukan soft power diplomacy Indonesia. (hri/imk)