detikNews
Rabu 02 Oktober 2019, 17:57 WIB

Silang Keterangan soal Uang e-KTP untuk Markus Nari

Zunita Putri - detikNews
Silang Keterangan soal Uang e-KTP untuk Markus Nari Keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, semasa menjalani persidangan (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Terjadi perbedaan keterangan tentang aliran uang dari proyek e-KTP untuk mantan anggota DPR Markus Nari yang duduk sebagai terdakwa dalam persidangan. Beda keterangan itu muncul dari 2 orang saksi yang dihadirkan jaksa KPK.

Dua saksi itu adalah Andi Agustinus alias Andi Narogong dan Irvanto Hendra Pambudi Cahyo. Andi merupakan pihak swasta dalam pusaran kasus itu, sedangkan Irvanto adalah keponakan Setya Novanto yang berperan sebagai perantara aliran uang. Dua-duanya pun sudah berstatus sebagai terpidana.

"Saudara pernah nggak menyerahkan duit ke Pak Markus?" tanya salah seorang pengacara Markus ke Andi yang duduk di kursi saksi dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (2/10/2019).


Silang Keterangan soal Uang e-KTP untuk Markus NariAndi Narogong (Foto: Ari Saputra/detikcom)



"Tidak pernah," jawab Andi.

Selain itu Andi juga mengaku tidak mengenal Markus. Satu-satunya penyerahan uang yang diakui Andi yaitu kepada Irman selaku mantan Dirjen Dukcapil Kemendagri sebesar USD 2,2 juta.

"Itu pun hanya untuk operasional pribadi Irman," kata Andi.

Pertanyaan yang sama dilontarkan pengacara itu pada Irvanto yang juga duduk di kursi saksi. Keterangan berbeda disampaikan Irvanto.

"'Kasihkan ke Pak Mekeng dan Markus Nari di lantai 12'," kata Irvanto menirukan ucapan Andi yang memerintahkannya memberikan USD 1 juta pada 2 orang itu.

"Terus saya bilang ke Pak Markus, 'Pak, ini ada titipan dari Pak Andi'. Dia bilang, 'Ya sudah, terima kasih'," imbuhnya.

"Jadi saudara sampaikan itu berapa kali? Saudara sampaikan ke DPR?" tanya hakim anggota Anwar mengambil alih pertanyaan.

"Sekali, USD 1 juta," kata Irvanto.



Irvanto mengingat uang yang diberikannya ke Markus dalam pecahan dolar. Dia tahu jumlah pasti uang itu karena menurutnya Andi menyampaikan jumlahnya saat memerintahkannya.

"Ya kalau Pak Andi bilang, 'Mas Irvan nih satu juta ya', saya percaya aja," ucap Irvanto.

Dalam persidangan ini, yang duduk sebagai terdakwa adalah Markus Nari. Markus didakwa memperkaya diri sendiri USD 1.400.000 dari proyek e-KTP. Perbuatan Markus Nari juga memperkaya orang lain dan korporasi, akibatnya, negara mengalami kerugian Rp 2,3 miliar dari perbuatan Markus.


(zap/dhn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com