ADVERTISEMENT

Saat Pangan Warga Miangas Bergantung pada Kedatangan Kapal Perintis

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Rabu, 02 Okt 2019 16:26 WIB
Foto: Muhammad Ridho/detikcom
Kepulauan Talaud -

Bagi warga Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, tak ada yang lebih membahagiakan selain kedatangan Kapal Perintis. Sebab, segala kebutuhan hidup mereka dalam satu bulan ada di dalamnya.

Setiap hari, masyarakat selalu menanti Kapal Perintis berlabuh di dermaga, Femi salah satunya. Ia kerap khawatir dan resah saat kapal tak kunjung datang sedangkan stok bahan pangan sudah mulai berkurang.

"Di sini kapal datang 2 minggu sekali kalau cuaca bagus, tapi pernah kapal enggak datang sampai sebulan, dua bulan, paling lama 3 bulan itu pernah. Mama di sini cuma makan laluga," ungkapnya kepada detikcom, Rabu (11/9/2019).

Laluga merupakan makanan sejenis talas khas warga Miangas. Selain laluga, ada gedi, tumbuhan yang daunnya berbentuk seperti daun singkong dan bisa dimakan. Lewat dua bahan inilah warga Miangas bertahan hidup saat kapal tak jua bersandar di pelabuhan.

Syahbandar Miangas, Alfred Welo, mengatakan ada 3 kapal yang berlabuh di pulau yang terletak di ujung utara Indonesia ini. Dua merupakan Kapal Perintis, dan satu kapal jenis feri. Ketiga kapal ini, jelasnya, merupakan kapal-kapal yang dioperasikan di bawah kendali Pelni.

Kapal Perintis pada mulanya merupakan kapal penumpang yang menghubungkan pulau-pulau di Kepulauan Talaud. Namun, karena keterbatasan transportasi yang singgah di Miangas, akhirnya Kapal Perintis ini juga difungsikan sebagai kapal barang.

"Berbicara tentang jumlah penumpang yang turun maupun penumpang yang naik itu relatif. Kadang kala ia bisa mencapai 100 lebih kadang kala hanya 30-an," ucap Alfred.

Ia menambahkan, lama waktu yang harus ditempuh kapal dari dari Talaud ke Miangas itu normalnya satu hari. Namun, jika cuaca sedang tidak mendukung, kapal akan berhenti lebih lama di pulau lain.

"Di sini cuacanya terbilang relatif, tidak bisa diprediksi, terkadang tiap jam, tiap menit bisa berubah dan kondisi keadaan gelombang yang ada di Pulau Miangas, yakni ketika kecepatan angin berada di kecepatan 20-30 knot, otomatis akan berpengaruh pada ketinggian gelombang antara 2,5-5 meter," jelasnya.

Masyarakat berharap akan ada penambahan jadwal Kapal Perintis untuk penumpang menjadi 3 kapal, dan juga penambahan kapal jenis feri untuk membawa bahan bakar minyak dan gas LPG yang sangat sulit menembus Miangas.



(mul/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT