detikNews
Selasa 01 Oktober 2019, 11:50 WIB

Pengabdian Dokter di Lamteuba Aceh: Ditodong Pistol hingga Granat

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Pengabdian Dokter di Lamteuba Aceh: Ditodong Pistol hingga Granat Foto: Alfi Kholisdinuka/detikcom
Aceh Besar - Bagi sebagian warga Aceh, Lamteuba disebut sebagai sebuah permukiman yang terbelakang. Terletak di lembah kaki Gunung Seulawah Agam, menjadikannya sebagai salah satu daerah basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saat masa konflik.

Apalagi kawasan yang memiliki delapan gampong (desa) ini, tumbuh subur ratusan hektare tanaman ganja yang sempat menjadi sumber mata pencaharian warga setempat. Hal ini semakin mempertegas stigma negatif terhadap daerah ini. Tak ayal, banyak pihak menyebutnya sebagai daerah hitam.

Namun demikian, hal itu belum terlintas di benak Natalina Christanto (42) saat pertama kali ke Lamteuba, Kabupaten Aceh Besar. Dia adalah dokter pertama yang ditugaskan untuk menangani kesehatan warga pasca tsunami aceh 16 tahun lalu.

"Sepanjang jalan saya hanya berpikir ini saya akan membantu dan berhadapan dengan korban-korban tsunami dengan anak-anak yang kehilangan keluarga. Jadi dalam bayangan saya udah banyak hal-hal yang akan saya buat di sana," ujarnya saat ditemui detikcom belum lama ini.

"Tapi ketika saya sampai di Aceh, saya ditempatkan di Aceh Besar Lamteuba. Saya sendiri tidak tahu Lamteuba, tapi ketika dikasih tahu oleh dinas kesehatan, semua memberi ekspresi wajah yang berubah, wah ini berarti ada sesuatu dengan Lamteuba," katanya.


Saat pertama kali terjun ke lokasi bersama sejumlah kader setempat, dia melihat masyarakat Lamteuba sedang terkena wabah penyakit malaria. Kebiasaan masyarakat yang bekerja di pegunungan membuat mereka rentan terkena penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Anopheles tersebut.

"Pertama, (pekerjaan mereka) adalah ilegal logging, kedua adalah menanam tanaman-tanaman yang kita bilang tidak bagus (ganja)," sebutnya.

Pengabdian pertamanya pun dimulai. Tahun 2006 ia menjalankan program pemberantasan malaria. Dia bekerja sama dengan masyarakat, dinas kesehatan setempat, dan dibantu oleh organisasi nonpemerintah dari Thailand.

"Di situ kita mulai mengobati masyarakat yang positif terkena malaria. Jadi kita bekali obat-obatan dengan promosi-promosi kesehatan dan prefensi pencegahan pencegahannya lainnya," terangnya.

Tindakan konsisten yang dilakukannya pun membuahkan hasil, pada 2008 dia berhasil menekan angka malaria menjadi nol di pemukiman Lamteuba. Hingga pada tahun 2010, dicanangkan bahwa Lamteuba menjadi daerah yang terbebas dari malaria.

"Dan keberhasilan ini menjadi pilot project pertama di Indonesia untuk pemberantasan malaria," ungkapnya.

Suka Duka Mengabdi di Lamteuba

Mengabdi di Lamteuba tidak semulus yang di bayangkan. Banyak rintangan dan cobaan yang dihadapi Natalina. Terlebih kondisi mencekam saat malam hari di lokasi tempatnya mengabdi.

"Saya tinggal di puskesmas yang dibangun NGO, memang udah bagus, tapi tidak ada lampu, tidak ada listrik. Waktu tiga bulan pertama tiap malam saya cuma bisa menangis saja," kenangnya.

Pada suatu malam, kata Natalina, ada puluhan sepeda motor yang datang ke puskesmas. Mereka beriringan membunyikan klakson yang membangunkan para penghuni puskesmas di gelap gulitanya Lamteuba.

Logat Aceh yang khas membuatnya tidak mengerti maksud kedatangan puluhan orang tersebut. Beruntung ada kader yang memahami maksud dari ucapannya. "Itu bu ada orang luka," kata salah satu kader.


Dia langsung bergegas membawanya masuk ke dalam puskesmas. Para gerombolan itu pun membawa satu orang yang luka dengan kondisi kaki bengkak besar, setelah ditanya, korban baru saja kena duri sehabis turun dari gunung.

Dalam kondisi gelap tidak ada listrik, hanya dengan penerangan lampu senter seadanya, Natalina mulai mengobati korban tersebut. Namun bukan dukungan yang seharusnya ia dapat, melainkan ancaman keras yang diterima oleh puluhan orang itu.

Berkali-kali ia di serang pertanyaan terkait program pemerintah dalam membatasi kelahiran (KB) hingga para kombatan itu pun mengeluarkan pistol dan langsung menodongkan tepat di belakang kepala Natalina.

"Di sini ada KB ya, jangan lagi pakai KB, jangan lagi bunuh orang-orang Aceh. Hati-hati ya, teman saya mati kamu juga mati," katanya.

Salah seorang komnbatan tersebut juga sempat menaruh granat di depan meja Natalina. Meski ada rasa takut luar biasa, Natalina tetap fokus menjalankan tugasnya. Perlahan-lahan dia membersihkan dan mengobati luka dengan memberikan obat pereda nyeri.

Berkat kinerjanya dalam mengabdi di Lamteuba ini, Natalina pun berhasil menyandang gelar Dokter Teladan Aceh besar dan Dokter Teladan Aceh pada tahun 2008 dari pemerintah setempat. Kerja ekstra yang selama ini dilakukannya dalam menekan wabah penyakit malaria ini pun mendapat apresiasi dan kepercayaan dari masyarakat.

Untuk mengetahui informasi lainnya dari Kemendes PDTT, klik di sini.
(prf/ega)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com