detikNews
Senin 30 September 2019, 22:41 WIB

Jadi Sumber Rezeki Nelayan, Begini Kondisi Laut di Pulau Miangas

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Jadi Sumber Rezeki Nelayan, Begini Kondisi Laut di Pulau Miangas Foto: Hasan Habshy
Kepulauan Talaud - Berada di bibir Samudera Pasifik, Pulau Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud memiliki keelokan alam yang tak ada duanya. Berselimut pasir putih, laut biru, riak ombak, dan nyiur yang melambai, membuat pulau mungil seluas 3,2 kilometer persegi ini bak surga kecil yang muncul di belahan utara bumi pertiwi.

Tapi siapa sangka, ada senyum getir dari para penghuninya. Terutama kala angin barat datang menerjang. Para nelayan Miangas tak punya pilihan lain, selain menyandarkan perahu mereka di pantai ketimbang harus terseret gulungan ombak.

Ombak besar, artinya tak ada ikan untuk ditangkap. Sebab, perahu kecil mereka tak akan bisa menahan hempasan ombak yang ganas. Camat Khusus Miangas, Sepno Lantaa mengatakan bahwa Miangas hanya mengenal 3 bulan musim teduh, yakni pada Mei hingga Juli.


"Saat musim teduh, kita bisa memasok makanan 2 minggu sekali, tapi jika tidak kapal datang hanya sebulan sekali," ungkapnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Jika kapal besar saja tak berani berlayar ke Miangas, bisa dibayangkan hidup para nelayan yang bergantung pada perahu kecil mereka. Kamurahan Hama, seorang nelayan yang tinggal di selatan pulau mengatakan bahwa ia tak berani menentang alam.

"Kalau cuaca sedang angin begini, kita enggak berani melaut, karena kan kita punya pump boat (perahu kecil) kecil, kalau ombak besar bisa terbalik," ucapnya.

Jika sedang tidak bisa melaut, ia hanya mengonsumsi bahan pangan yang ada dan stok ikan tangkapan yang ia sisihkan. Hal ini akan berpengaruh pada penghasilannya sebagai seorang nelayan.

"Dukanya ya itu, pas tidak bisa melaut, kapal Perintis juga tidak datang bawa bensin untuk melaut, kita cuma bisa makan bahan-bahan yang tersisa saja," tutur lelaki 45 tahun ini.


Nelayan-nelayan di Miangas memang tak ada yang memiliki kapal berukuran besar. Mereka hanya memakai perahu berukuran kecil yang hanya bisa dinaiki oleh maksimal 2 orang saja.

Saat ditelusuri lebih lanjut oleh tim ekspedisi detikcom bersama Bank BRI, kesulitan utama nelayan di sini yaitu tidak adanya tambatan untuk kapal para nelayan. Tambatan berfungsi sebagai sandaran kapal agar tak terbawa ombak.

"Kalau ada tambatan, kita enggak perlu angkat-angkat kapal lagi ke pantai," pungkasnya.

detikcom bersama Bank BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan. Untuk mengetahui informasi dari program ini, ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!


Simak Video "Rumah Kreatif BUMN Bantu UMKM di Miangas Melek Digital"

[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com