Atalia Kamil Imbau Kaum Ibu Jadi Garda Terdepan Cegah Hoax

Akfa Nasrulhak - detikNews
Senin, 30 Sep 2019 20:35 WIB
Foto: Pemprov Jabar
Jakarta - Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat Atalia Praratya Kamil mengimbau kepada seluruh masyarakat Jabar, khususnya perempuan, untuk menjadi garda terdepan mencegah berita bohong atau hoax. Pasalnya, perempuan merupakan sumber informasi dalam keluarga.

"Karena perempuan adalah sumber informasi dalam keluarga. Anak-anak menanyakan satu dan hal lainnya kepada orang tua, termasuk ibu. Sehingga informasi terbaik itu harus dari orang tuanya," kata Atalia, dalam keterangan tertulis, Senin (30/9/2019).

Saat memberikan kuliah umum 'Hoaks, Sosial Media, dan Perempuan dalam Revolusi Industri 4.0' di Universitas Widyatama, Kota Bandung itu, Atalia menilai, perempuan, khususnya kaum ibu berperan penting dalam pemberian informasi yang akurat bagi anak-anak. Salah satu peranannya adalah meningkatkan literasi keluarga. Peran itulah yang akan menjadi tembok penghalang hoax dalam keluarga.


Menurut Atalia, perempuan harus ikut andil menyaring hoax. Dengan begitu, informasi yang beredar dalam keluarga sudah dikonfirmasi kebenarannya.

"Kita harus banyak membuka literasi seluas-luasnya karena literasi itu bukan hanya membaca dan menulis, tapi bagaimana kita mendengar, bagaimana kita memaknai sebuah kata, bagaimana kita mencerna juga itu adalah bagian dari literasi," ucapnya.

"Untuk itu, saya berharap literasi di Indonesia khususnya di Jawa Barat ini terus ditingkatkan supaya kita betul-betul bisa menjadi generasi pembelajar. Generasi pembelajar tentu bisa tahan terkait hoax," tambahnya.


Pada kesempatan yang sama, Atalia pun membagikan tips mengidentifikasi hoax. Di antaranya seperti berhati-hati dengan judul provokatif, cermati alamat isu, periksa fakta, dan mengecek keaslian foto yang terdapat dalam berita. Apalagi, di era industri 4.0, masyarakat harus waspada terhadap penyebaran informasi yang masif.

"Hari ini, informasi yang masuk itu direspons terlalu cepat, sehingga tidak sempat untuk dikonfirmasi. Untuk itu, sebelum kita tahu itu benar atau tidak kita harus tahu itu bermanfaat atau tidak, kita juga diharapkan tidak terlalu cepat untuk menyimpulkan, apalagi menyebarkan," tutupnya. (akn/prf)