ADVERTISEMENT

Sekondan Soeharto di Pusaran G30S/PKI

Pasti Liberti Mappapa - detikNews
Senin, 30 Sep 2019 19:15 WIB
Foto ilustrasi: potret Soeharto (Repro. buku Basoeki Abdullah, Sang Hanoman Keloyongan)

Tak hanya soal kerjaan, Latief juga mengaku hubungan antar keluarga dengan Soeharto sangat akrab. Saat anak Latief bernama Agung Prabowo disunat, Soeharto dan Tien datang ke acara syukuran. "Malahan Agung sempat dipangku Ibu Tien," kata Latief. "Begitu juga ketika Sigit disunat, saya dan istri sowan ke sana."

Pertengahan tahun 1965, Latief dijadwalkan mutasi ke Sumatera Utara. Ia rencananya dipromosikan untuk memegang jabatan Panglima Komando Tempur I menggantikan Brigadir Jenderal Kemal Idris. Namun proses kepindahannya berlarut-larut. Garis tangannya kemudian berubah setelah bersama-sama dengan Letkol Untung dan Panglima Komando Tempur II Brigjen Mustafa Sjarif Soepardjo merancang G30S.



Sebanyak enam jenderal dan satu perwira pertama Angkatan Darat diculik dan tewas dalam peristiwa G30S tersebut. Setelah malam penculikan itu, pagi 1 Oktober 1965 Letkol Untung mengumumkan pembentukan Dewan Revolusi lewat corong Radio Republik Indonesia (RRI). Dalam pengumuman disebutkan bahwa Dewan Revolusi adalah tindak lanjut dari G30S menyusul adanya rencana kudeta Angkatan Darat pada Presiden Sukarno yang akan dilaksanakan pada 5 Oktober 1965.

Latief secara terbuka mengaku ikut gerakan tersebut untuk menyingkirkan jenderal anti Sukarno. Ia berkilah keterlibatannya itu bukan untuk mencari pangkat atau kedudukan. "Saya ingin ikut membersihkan Angkatan Darat dari jenderal-jenderal yang nggak bener.
Saya tidak mau pasrah, hanya diam saja menunggu sampai mereka lebih dulu bergerak," ujar perwira menengah kelahiran Surabaya itu.



"Sudah menjadi suatu rahasia umum, khususnya di kalangan Angkatan Darat, ada sekelompok Jenderal berkata ya di depan Bung Karno, tetapi bilang tidak di belakangnya. Sejumlah Jenderal bilang setuju di depan Bung Karno, tetapi mereka itu lantas menjegal, mensabot, menteror seluruh kebijakan presiden." Latief juga menuding kelompok jenderal itu kerja sama dengan Amerika Serikat menyusun kekuatan militer untuk menentang dan ambil alih kekuasaan Bung Karno.

Dalam persidangan Letkol Untung di Mahkamah Militer Luar Biasa, oditur menyebut rumah Latief menjadi tempat tiga rapat penting terkait tragedi 1965. Pertama, rapat berlangsung pada 22 Agustus 1965. Kedua, rapat pada 29 Agustus 1965 dan terakhir rapat pada 6 September 1965. "Kesemuanya pada malam hari," ujar Oditur militer Letkol Iskandar seperti tercatat dalam buku Gerakan 30 September di Hadapan Mahmilub: Perkara Untung.



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT