Depdagri: Gubernur & Bupati Poso Jangan Cuma Jadi Pejabat
Selasa, 01 Nov 2005 00:27 WIB
Jakarta -
Departemen Dalam Negeri (Depdagri) mengkritik kerja Gubernur Sulawesi Tengah Aminuddin Ponulele dan Bupati Poso Piet Ingkiriwang dalam menangani konflik. "Gubernur dan Bupati diminta jangan menjadi pejabat saja, tetapi jadilah pemimpin dengan sering turun ke lapangan melihat masyarakatnya. Para pemimpin sekarang ini harus lebih proaktif menenangkan keadaan." Demikian kata Sekjen Depdagri Progo Nurdjaman kepada wartawan usai berbuka puasa di sebuah rumah makan di bilangan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (31/10/2005) malam.Kedua pejabat itu diminta lebih proaktif menenangkan keadaan menyusul terjadinya pembunuhan 3 siswi SMU Kristen Poso dan kasus bentrokan antara aparat kepolisian dengan pengikut dukun Mahdi yang mengakibatkan empat orang tewas. Selain itu, kedua pimpinan lembaga eksekutif ini juga diminta aktif mencegah melebarnya kasus Poso ke wilayah tetangganya seperti Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Agar, pelaku kerusuhan tersebut tidak lari ke daerah lain karena penanganan yang lemah. "Para kepala daerah itu diminta untuk menenangkan masyarakatnya supaya tidak terhasut dengan kasus yang terjadi di Poso," tegasnya.Menurut Progo, pihaknya telah mengirimkan tim sehubungan meningkatnya aksi kekerasan di Poso. Pengiriman tim kecil ini bertujuan untuk membantu Pemda setempat untuk memantau maupun memberdayakan aparat pemerintah setempat.Mengenai kemungikinan digalakkannya pertemuan RT/RW untuk mencegah terjadinya aksi-aksi kekerasan maupun aksi terorisme, ia mengatakan Mendagri M Ma'ruf telah memerintahkan para kepala daerah untuk meningkatkan pengamanan lingkungan di daerahnya masing- masing.Sekedar diketahui, tiga siswa SMA Kristen Poso, yakni Teresia Morangki (siswi kelas 3), Ida Sambua (kelas 1) dan Alfitha Poliwo (kelas 1) pada Sabtu pekan lalu (29/10) ditemukan tewas dalam keadaan mengenaskan. Ketiga gadis belia ini diduga kuat dihabisi pelakunya saat dalam perjalanan menuju sekolah yang berjarak sekitar 9 kilometer dari rumah mereka. Tubuh ketiga korban yang masih mengenakan seragam pramuka itu ditemukan di Jalan Bumboyo, Kelurahan Bukit Bambu, dengan kondisi kepala terpisah dari tubuh. Selain korban tewas, tiga siswa sekolah ini juga warga Kelurahan Bukit Bambu menderita luka bacok serius, seorang di antaranya bernama Noviani.
(ton/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































