detikNews
Minggu 29 September 2019, 11:50 WIB

Dear Pak Jokowi, Ini Suara Hati Masyarakat Miangas

Faidah Umu Sofuroh - detikNews
Dear Pak Jokowi, Ini Suara Hati Masyarakat Miangas Mengenal Lebih Dekat Warga di Pulau Miangas (Foto: Muhammad Ridho/detikcom)
Kepulauan Talaud -

Menjadi penduduk pulau terdepan di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Setidaknya inilah yang dialami oleh warga Miangas, pulau kecil di ujung utara NKRI yang justru lebih dekat dengan Filipina ketimbang Pulau Marampit--satu di antara sekian pulau berpenghuni di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.

Seperti namanya, yang berarti 'menangis', Miangas menggambarkan hidup yang penuh nestapa. Tak mudah untuk bisa sampai ke pulau ini. Akses transportasi amat terbatas karena hanya ada dua kapal perintis dan satu kapal feri yang singgah sebulan sekali.

Bandara Miangas, yang diresmikan pada 2016, juga belum banyak membawa perubahan. Selain tiket pesawat yang mahal, hanya ada satu pesawat yang datang dan pergi tiap Minggu siang.

Tak ada pasar besar serta pelabuhan khusus penampung ikan membuat warga Miangas sering kekurangan bahan pangan jika kapal tak kunjung datang.

"Pernah kapal tak datang sampai 3 bulan, kita cuma makan laluga (tanaman sejenis umbi-umbian)," kata Femi, salah seorang warga Miangas, kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Bahan bakar minyak (BBM) dan LPG juga jadi barang langka. Ana Maria Jordan Pade, seorang pedagang toko kelontong di Miangas, mengutarakan bagaimana susahnya mencari pasokan untuk dua barang tersebut.

 Mengenal Lebih Dekat Warga di Pulau Miangas Mengenal Lebih Dekat Warga di Pulau Miangas (Foto: Muhammad Ridho/detikcom)

Jika stok LPG di warungnya habis, misalnya, ia harus pergi ke Kabupaten Talaud yang bisa memakan waktu hingga satu minggu.

Harga LPG 3 kg di Kabupaten Talaud sudah di kisaran Rp 50 ribu. Sementara Bunda Beti--sapaan akrab Ana Maria--masih harus menambah ongkos kirim, ongkos penjaga di kapal dan ongkos buruh angkut sekitar Rp 40 ribu agar barang itu sampai di Miangas.

"Harga gas ini (3 kg) bunda jual Rp 100 ribu per tabung di Miangas. Itu pun bunda cuma ambil untung sedikit," ungkap wanita keturunan Filipina ini.

Hal serupa dialami Rosalis Umbase, seorang warga penjual BBM eceran untuk berbagai kebutuhan di Miangas. Kepada detikcom, ia mengungkapkan bahwa BBM yang ia pasok sebanyak 18 galon bisa ludes dalam sekejap.

Sulitnya memperoleh bensin membuat harga menjulang tinggi hingga berkisar Rp 20-30 ribu per liter.

"Pertama mama jual Rp 20 ribu, kalau sudah mulai sedikit, naikkan harganya, karena memang sulit dapat BBM ini. Di kapal Perintis tak boleh naik, cuma kapal feri saja, dan enggak bisa angkut terlalu banyak," terangnya.

Menurut Camat Khusus Miangas, Sepno Lantaa, seretnya pasokan BBM dan LPG yang masuk ke Miangas memang menjadi permasalahan yang menahun.

Salah satu penyebabnya, ungkapnya, adalah regulasi yang tidak memperbolehkan sejumlah kapal perintis mengangkut BBM dan gas LPG di dalam kapal menuju Miangas.

"Padahal BBM ini merupakan barang yang sangat penting bagi penduduk Miangas. BBM jadi bahan bakar utama para nelayan sini untuk melaut, jika tidak ada BBM mereka tidak bisa melaut," ucap Sepno.

Ia berharap ada solusi-solusi yang diberikan pemerintah atas permasalahan ini, seperti penyediaan kapal-kapal khusus yang bisa mengangkut BBM dan gas LPG ke Miangas sehingga warga pulau terluar ini dapat merasakan BBM satu harga yang sering didengung-dengungkan pemerintah.

Di samping bahan bakar, tidak adanya tambatan perahu juga menjadi salah satu masalah yang dikeluhkan warga Miangas yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Padahal fasilitas ini sangat diperlukan agar pump boat (perahu kecil) nelayan aman dari ombak dan tidak perlu lagi diangkat ke tepi pantai.

"Tambatan ini juga memungkinkan nelayan bisa menggunakan kapal dengan GT (gross tonage) yang lebih besar, sehingga hasil tangkapan ikan jadi lebih banyak. Kami berharap pemerintah memperhatikan ini," imbuhnya.

Di tengah segala permasalahan yang ada, kehadiran Bank BRI di Miangas sedikit banyak membantu warga Miangas dalam meningkatkan roda perekonomian. Banyak warga Miangas yang beralih profesi menjadi pedagang sembako.

Setelah berjualan, para pedagang Miangas ini tentu membutuhkan suntikan modal untuk mengembangkan usaha mereka. BRI pun hadir memberikan bantuan dalam bentuk kredit usaha rakyat (KUR).

 Mengenal Lebih Dekat Warga di Pulau Miangas Mengenal Lebih Dekat Warga di Pulau Miangas (Foto: Muhammad Ridho/detikcom)

Mantri BRI Kepulauan Talaud, Guitarexky Bawelle mengatakan kini ada 20 orang di Miangas yang sudah melakukan KUR dengan BRI. Mayoritas dari nasabah tersebut merupakan pedagang toko kelontong.

Tak ada nelayan atau pun petani kelapa yang mengajukan KUR. Meskipun ada, imbuh Guitarexky, pihak BRI akan menganalisis lebih lanjut karena mayoritas nelayan hanya menangkap ikan untuk konsumsi sendiri, bukan untuk usaha.

"Harga kopra di Miangas yang rendah, sekitar Rp 3.000 per kilo juga menjadi alasan kita belum bisa memberikan KUR untuk mereka jika ada yang mengajukan. Tapi kalau penghasilan dari usaha mereka sudah memenuhi syarat dan standar kita, pasti kita kasih pinjam," jelasnya.

detikcom bersama Bank BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan. Untuk mengetahui informasi dari program ini, ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!


(ega/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com