Beredar Foto Lama Bersama Tommy Soeharto, Najwa: Saya Di-framing Antek Orba

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Sabtu, 28 Sep 2019 21:27 WIB
Najwa Shihab (Muhammad Ridho/detikcom)


Menurut Najwa, penyebaran foto dirinya bersama Tommy merupakan serangan personal yang jahat. Dia menegaskan tuduhan antek Orba yang disematkan kepadanya juga tidak berdasar.

"Tuduhan 'antek Orde Baru' sama sekali tidak berdasar karena sikap saya jelas dalam menyangkut warisan-warisan Orde Baru. Tidak terbilang produk-produk jurnalistik 'Mata Najwa' yang berisi sikap kritis terhadap Orde Baru dan itu juga tecermin dalam episode 'Siapa Rindu Soeharto?' Saya sangat keberatan sikap personal saya sebagai jurnalis dikait-kaitkan dengan keluarga saya. Selain personal, disinformasi ini juga merupakan serangan terhadap kerja-kerja jurnalistik. Tidak terbilang cacian terhadap media yang memberitakan topik mengenai revisi UU KPK dan demonstrasi mahasiswa minggu lalu. Saya, 'Mata Najwa', dan Narasi TV tidak sendirian dalam hal ini," tuturnya.

"Kritik kepada pers jelas diperbolehkan, bahkan penting, bagi demokrasi, juga bagi pers. Tidak ada pers yang sempurna. Tetapi jika yang dilakukan adalah serangan personal, ad hominem, apalagi hingga membawa-bawa keluarga, persoalannya menjadi sangat berbeda," sambung Najwa.

Najwa mengatakan selama ini menghargai semua pendapat yang seakan menyerang dirinya. Namun dia menyayangkan jika pendapat tersebut diiringi dengan disinformasi dan pembunuhan karakter kepadanya.

"Seseorang menulis serangan kepada saya sebagai kill the messenger. Saya menghargai pendapat tersebut, kendati sejujurnya saya tidak berpikir sejauh itu karena toh saya masih bisa bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Saya menganggap hal ini sebagai sesuatu yang kontraproduktif bagi usaha merawat ruang publik yang sehat, yang menghargai perbedaan pendapat, yang tidak dicemari oleh doxing, disinformasi, dan pembunuhan karakter," ujar Najwa.

Lebih lanjut, Najwa mengatakan, belakangan ini Indonesia memang sedang dilanda kompleksitas persoalan. Namun, menurut dia, hendaknya hal itu disikapi dengan memperbanyak dialog antara para elite dan warga, antara warga dan warga, di antara sesama kita.

"Dalam episode 'Mata Najwa' terakhir, bahkan saya membuka topik tentang perlunya pemerintah berdialog dengan para mahasiswa yang saat itu saya undang. Bahwa pertemuan itu batal adalah persoalan lain. Saat itu saya hanya membuka kemungkinan hadirnya percakapan yang setara karena saya percaya pers punya tanggung jawab merawat ruang publik sebagai arena yang terbuka bagi perdebatan, aneka pikiran, ragam kegelisahan, hingga kekecewaan," pungkasnya.



(mae/jbr)