Tentang Kerusuhan di Papua hingga Pencopotan Kapolda

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 28 Sep 2019 09:41 WIB
Kapolda Papua Irjen Rudolf A Rodja. (Foto: Dok. Humas Polda Papua/via Antara)
Jakarta - Irjen Rudolf A Rodja dicopot dari jabatannya sebagai Kapolda Papua. Papua memang menjadi sorotan dalam dua bulan belakangan lantaran kerusuhan yang banyak menyebabkan korban jiwa.

Rusuh di bumi Cendrawasih itu pertama kali pecah setelah adanya pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya, Jumat (16/8) lalu. Pernyataan rasialisme di Surabaya itu merembet ke Papua.



Masyarakat Papua mengecam makian rasial itu. Masyarakat Papua membakar sejumlah fasilitas umum di Papua. Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, berdasarkan hasil intelijen, ada keterlibatan pihak asing dalam serangkaian peristiwa kerusuhan di Papua.

"Kita tahulah kelompok-kelompok ini ada hubungannya dengan network di internasional. Jadi kita harus menanganinya memang di dalam negeri maupun di luar negeri. Kerja sama kita dengan Ibu Menlu dan jaringan intelijen," kata Tito seusai acara HUT Polwan ke-71 di Polda Metro Jaya, Jakarta, Minggu (1/9).

Dalam kasus itu, polisi menetapkan 46 orang tersangka dalam kerusuhan di sejumlah wilayah di Papua dan Papua Barat. Menko Polhukam Wiranto pada Senin (2/9), menyebut rincian jumlah tersangka di wilayah yang rusuh. Ada 28 orang tersangka di Jayapura, 10 orang di Manokwari, 7 orang di Sorong, dan 1 orang tersangka di Fakfak, Papua Barat. Para tersangka dijerat dengan Pasal 170 ayat 1 KUHP jo Pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan.





Pemerintah juga membatasi layanan internet dampak kerusuhan itu. Pemerintah menilai banyak berseliweran hoax yang memicu provokasi.

Buntut kasus makian rasial itu terus memanas hingga pertengahan September. Masyarakat Papua yang menuntut ilmu di luar Bumi Cendrawasih memilih pulang kampung sebagai bentuk protes. Ini yang menjadi awal mula kerusuhan pecah lagi di Papua.

Kapolda Papua Irjen Rudolf Alberth Rodja, pada saat itu menyebut, ratusan mahasiswa yang eksodus dari kota studi di luar Papua berniat mendirikan posko di halaman kampus Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura. Polisi menghalau aksi mahasiswa ini.



Rusuh di Papua terjadi lagi, kali ini di Expo Waena, Jayapura. Rusuh terjadi setelah mahasiswa eksodus dipulangkan dari kampus Universitas Cenderawasih (Uncen). Perusuh melempari aparat gabungan TNI-Polri dengan batu.

Anggota TNI/Polri dikabarkan menjadi korban dalam kerusuhan. Prajurit Yonif 751/Raider, Praka Zulkifli, gugur dalam kerusuhan di Waena Expo Jayapura, Papua. Praka Zulkifli gugur karena luka karena luka bacok.

Di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua juga terjadi kerusuhan. Saat rusuh diduga ada kelompok kriminal bersenjata (KKB) terlibat melakukan penembakan.





Gubernur Papua Lukas Enembe mengatakan, total korban tewas akibat demo berujung anarkis di Wamena, Jayawijaya, Papua, berjumlah 30 orang. Lukas, yang mewakili pemerintah, juga menyampaikan dukacita kepada keluarga korban. Lukas mengatakan aksi anarkistis itu terjadi tiba-tiba tanpa diketahui pemerintah.

Kapolres Jayawijaya AKBP Tonny Ananda Swadaya mengatakan tidak ada mayat pada penyisiran hari ketiga. Kapolres mengatakan sudah ada beberapa orang yang ditangkap untuk mendalami aksi kriminal kemarin.

"Sementara kita pendalaman jadi saya belum publikasi. Nanti, setelah jelas arahnya, siapa aktornya baru kita publikasi. Yang diamankan sementara 7 orang," ucap Tonny terpisah.



Sebelumnya, Kapolri Jenderal Tito Karnavian merotasi sejumlah pejabat kapolda. Salah satunya Kapolda Papua. Irjen Rudolf A Rodja dimutasi jadi Analisa Kebijakan Utama Bidang Sabhara Baharkam Polri. Posisinya diganti oleh Irjen Paulus Waterpau.

Mutasi itu tertuang dalam surat telegram Kapolri Nomor: ST/2569/IX/KEP/2019 ter tanggal Jumat (27/9/2019). Surat itu ditandatangani AS SDM Kapolri Irjen Eko Indra Heri S. (idn/idh)