Tentang Kerusuhan di Papua hingga Pencopotan Kapolda

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 28 Sep 2019 09:41 WIB
Kapolda Papua Irjen Rudolf A Rodja. (Foto: Dok. Humas Polda Papua/via Antara)


Pemerintah juga membatasi layanan internet dampak kerusuhan itu. Pemerintah menilai banyak berseliweran hoax yang memicu provokasi.

Buntut kasus makian rasial itu terus memanas hingga pertengahan September. Masyarakat Papua yang menuntut ilmu di luar Bumi Cendrawasih memilih pulang kampung sebagai bentuk protes. Ini yang menjadi awal mula kerusuhan pecah lagi di Papua.

Kapolda Papua Irjen Rudolf Alberth Rodja, pada saat itu menyebut, ratusan mahasiswa yang eksodus dari kota studi di luar Papua berniat mendirikan posko di halaman kampus Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura. Polisi menghalau aksi mahasiswa ini.



Rusuh di Papua terjadi lagi, kali ini di Expo Waena, Jayapura. Rusuh terjadi setelah mahasiswa eksodus dipulangkan dari kampus Universitas Cenderawasih (Uncen). Perusuh melempari aparat gabungan TNI-Polri dengan batu.

Anggota TNI/Polri dikabarkan menjadi korban dalam kerusuhan. Prajurit Yonif 751/Raider, Praka Zulkifli, gugur dalam kerusuhan di Waena Expo Jayapura, Papua. Praka Zulkifli gugur karena luka karena luka bacok.

Di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua juga terjadi kerusuhan. Saat rusuh diduga ada kelompok kriminal bersenjata (KKB) terlibat melakukan penembakan.