Pengalaman Berburu Tiket KA 1 November Lewat Calo
Senin, 31 Okt 2005 12:33 WIB
Jakarta - Puncak mudik dipastikan jatuh pada Selasa (1/11/2005). Maklum, para pegawai -- utamanya PNS -- harus menunggu gajian di awal bulan dulu sebelum mudik. Saking padatnya arus mudik pada Selasa besok, para calo pun kehabisan stok tiket.Yanti, warga Solo, berusaha mencari tiket untuk 1 November pada Sabtu (29/10/2005) malam lalu. Perburuan tiket jurusan Solo itu dilakukan mendadak gara-gara jadwal pulangnya juga mendadak dipercepat. Dia mencari di Stasiun Gambir, Senen, Jatinegara, tapi terpaksa pulang dengan tangan hampa. Petugas reservasi menegaskan, tidak ada tiket satu pun untuk H-2.Akhirnya hari Minggu (30/10/2005) perempuan 23 tahun itu mengadu untung ke Stasiun Jatinegara lagi. Wajah bingungnya menarik hati pegawai KA yang mengenakan seragam warna biru.Petugas itu menghampiri karyawati swasta tersebut. Yanti menceritakan bahwa dia butuh tiket untuk tanggal 1 November tujuan Solo. Ada dua KA yang diincarnya, yaitu Senja Utama Solo (malam) atau Fajar Utama (pagi).Petugas itu mengaku tak punya stok. "Tujuan Solo untuk tanggal 1 November paling cepat habis," katanya. Petugas itu menawari Yanti dua tiket untuk 31 Oktober. Transaksi pun gagal.Tak lama kemudian, Yanti didatangi petugas angkat barang (porter). Dia bersedia mencarikan tiket pesanan Yanti. Namun setelah mengontak temannya, petugas itu gagal mendapakan apa yang dicari Yanti. "Sudah laku semua," katanya.Lalu dia menyarankan Yanti agar pergi ke Stasiun Senen. "Di sana ada teman saya yang modalnya gede, jadi tiketnya banyak," katanya.Yanti pun melaju ke Senen. Dia lalu mendekati petugas porter, tak jauh dari panggung dangdut yang digelar di stasiun kelas menengah-bawah itu. Transaksi dilakukan dengan berbisik-bisik. "Saya nggak berani jual di dalam, banyak reserse," kata petugas itu.Petugas itu tidak langsung menyerahkan tiket. "Tiket dikasihkan kalau ada duitnya. Saya kan harus nyari ke bos dulu," ungkap calo itu.Yanti setuju. Calo menawari tiket Senja Utama Yogya 1 November -- hanya itu yang tersisa -- seharga Rp 180 ribu, naik Rp 70 ribu dari harga normal. Yanti menawarnya sehingga disepati harga Rp 160 ribu. Yanti menyerahkan uangnya dan calo itu segera berlalu mencari 'bos'. Tak lama kemudian calo balik lagi dengan tiket di tangan."Buruan simpan, Mbak, biar nggak ketahuan. Saya takut ditangkap," kata calo itu. Yanti pun buru-buru menyimpan 'barang berharga' itu ke tasnya."Pokoknya pasang wajah bingung, pasti didekati calo. Nggak ada yang jualan dengan terbuka," ceritanya kepada detikcom, Senin (31/11/2005).
(nrl/)











































