Round-Up

Wamena Membara Diwarnai Kelompok Separatis Berbaju Pelajar SMA

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 24 Sep 2019 08:35 WIB
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -
Papua kembali membara. Dua aksi di Jayapura dan Wamena berujung kerusuhan.
Kerusuhan di Wamena diduga berawal dari hoax ucapan rasisme guru. Masyarakat yang terprovokasi, menggelar aksi lalu berujung kerusuhan.
"Pada tanggal 18 September 2019 lalu di Wamena ada isu seorang guru mengeluarkan kata rasis. Setelah dilakukan pengecekan, isu itu tidak benar. Akibat provokasi tersebut, para pelajar maupun masyarakat melakukan unjuk rasa dan terjadi pembakaran beberapa kantor pemerintah, seperti kantor Bappeda, ruko-ruko milik masyarakat dan beberapa motor juga dibakar," kata Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal, Senin (23/9/2019).
Kerusuhan diawali dari aksi demonstrasi pelajar PGRI. Ternyata, aksi ini disusupi massa dari Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dengan menggunakan seragam SMA.



"Itu (aksi pelajar) dari PGRI yang disusupi KNPB dan mahasiswa. Mereka pakai baju seragam SMA. Jadi bukan pelajar semuanya, tapi aksi itu sudah disusupi," ujar Kapolres Jayawijaya AKBP Tonny Ananda Swadaya memberi keterangan terpisah.
Aksi massa yang menyusup ke barisan pelajar PGRI sempat bentrok dengan pelajar sekolah Yayasan Yapis. Penyebabnya, pelajar Yapis menolak ikut berdemonstrasi dengan massa tersebut.
Akibat rusuh di Wamena, tujuh orang polisi mengalami luka. terkena panah.
"Ya, 7 orang luka-luka. Dia pakai panah busur," kata Tonny.




Sedangkan Kapendam Cenderawasih Letkol Cpl Eko Daryanto menyebut ada 16 orang warga tewas akibat kerusuhan di Wamena.
"Sementara lagi didata, dapat dilaporkan 16 orang meninggal warga masyarakat," katanya.

Selanjutnya
Halaman
1 2