detikNews
Senin 23 September 2019, 11:27 WIB

Gejayan Memanggil dan Aksi Pergerakan Mahasiswa di Yogyakarta

Rizky Wika Shintya Devi - detikNews
Gejayan Memanggil dan Aksi Pergerakan Mahasiswa di Yogyakarta Ilustrasi Foto: Edi Wahyono/detikcom
Jakarta -

Gejayan Memanggil. Demikian nama seruan aksi damai yang dilakukan oleh para mahasiswa dari beberapa kampus di Daerah Istimewa Yogyakarta pada Senin (23/9/2019) siang ini. Rencananya aksi Gejayan memanggil di Yogyakarta ini akan dimulai pukul 13.00 WIB.



Aksi mahasiwa ini tengah menjadi perbincangan hangat warganet hingga masuk daftar trending media sosial seperti Twitter dengan tagar #GejayanMemanggil. Isu yang akan disuarakan terkait kondisi politik-hukum di Indonesia saat ini seperti RKUHP, UU KPK, RUU ketenagakerjaan serta RUU Pertahanan.

Dalam seruan aksi tersebut, wilayah di Jalan Gejayan dipilih menjadi titik lokasi karena adanya sejarah pergerakan mahasiswa Yoyakarta. Berikut ini ulasan peristiwa Gejayan yang dirangkum oleh detikNews:

1. Aksi Demo Gejayan tahun 1998

Gejayan demo disebabkan karena menolak terpilihnya kembali Soeharto sebagai presiden pada Mei 1998 dan perekonomian Indonesia semakin kacau. Aksi tersebut berujung ricuh dan dikenal dengan 'Peristiwa Gejayan atau Tragedi Yogyakarta hingga memakan ratusan mahasiswa luka-luka dan satu orang tewas yang bernama Moses Gatutkaca dari mahasiswa MIPA, Universitas Sanata Dharma (USD).

Faktanya, aksi bentrok ini juga dilakukan oleh mahasiswa Yogja lainnya, seperti mahasiswa Universitas Gadjah Mada dan IKIP Negeri Yoyakarta (UNY). Tak hanya mahasiswa, masyarakat juga melawan para aparat kepolisian dengan menggunakan batu hingga bom molotov. Dengan terjadinya Peristiwa Gejayan tersebut membuat Jalan Kolombo di Universitas Sanata Dharma diubah menjadi Jalan Moses Gatutukaca.

2. Aksi Demo Gejayan tahun 2004

Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) cabang Yogyakarta dan Front Perjuangan Rakyat Miskin (FPRM) melakukan aksi demo untuk mengkritisi peringatan Hari Kebangkitan Nasional karena hanya menjadi seremonial belaka dan mengkritik para elit politik yang menjadi calon presiden (capres) terkait kekuatan kelompok status quo.



Aksi yang dilakukan di sekitar Kantor Pos Besar Yogyakarta ini juga meminta para rakyat selektif dalam memilih pimpinan mereka agar tidak terjebak kembali dengan kekuasaan lama.

3. Aksi Demo Gejayan tahun 2005

Aliansi mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam Mahasiswa Penyelamat Organisasi (HMI PMO) Jogja dan Badan Eksekutif Mahasiswa-Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM-KM UGM) melakukan aksi untuk menentang rencana pemerintah RI tentang kenaikan harga BBM yang akan dilakukan per 1 Oktober 2005 dan perombakan tim ekonomi di dalam kabinet pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.



Kedua aliansi tersebut beraksi secara bergantian di Kantor Pertamina Cabang Yogyakarta tepatnya di Jalan Mangkubumi. Meskipun aksi tersebut diwarnai dengan aksi saling dorong antara masa mahasiswa dengan petugas kepolisian, tapi aksi mahasiswa masih berlangsung dengan tertib dan aman.

4. Aksi Demo Gejayan tahun 2019

Gejayen Memanggil hari ini rencananya akan terjadi kembali aksi mahasiswa dan elemen masyarakat yang akan dijadwalkan berkumpul pukul 11.00 WIB dan dimulai pada pukul 13.00 WIB. Ada tiga titik kumpul untuk aksi tersebut antara lain gerbang utama Kampus Sanata Dharma, pertigaan revolusi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, dan Bunderan Universitas Gadjah Mada.

Lalu, apa saja isu yang akan disuarakan dalam aksi demo Gejayan Memanggil ini? Berikut ini 7 tuntutan yang akan disuarakan:

1. Mendesak adanya penundaan untuk melakukan pembahasan ulang terhadap pasal-pasal yang bermasalah dalam RKUHP.

2. Mendesak pemerintah dan DPR untuk merivisi UU KPK yang baru saja disahkan dan menolak segala bentuk pelemahan terhadap upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

3. Menuntut negara untuk mengusut dan mengadili elit-elit yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan di beberapa wilayah di Indonesia.

4. Menolak pasal-pasal bermasalah dalam RUU Ketenagakerjaan yang tidak berpihak pada pekerja.

5. Menolak pasal-pasal problematis dalam RUU Pertanahan yang merupakan bentuk penghianatan terhadap semangat reforma agraria.

6. Mendesak pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

7. Mendorong proses demokratisasi di Indonesia dan menghentikan penangkapan aktivis di berbagai sektor.


(lus/erd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com