"Kelompok yang rentan adalah ibu hamil, bayi, balita, dan lansia. Kelompok yang punya riwayat penyakit resiko tinggi yaitu asma, jantung, dan sebagainya," kata Direktur Kesehatan LIngkungan Kemenkes Imran Agus Nurali kepada wartawan, Senin (23/9/2019).
Soal kabut asap yang bisa menewaskan anak-anak, Imran mengatakan hal itu tengah dikaji tim Kemenkes karena bisa saja ada faktor resiko kesehatan lainnya. Imran juga menyebut saat ini ada sejumlah wilayah yang masyarakatnya tidak dianjurkan berada di luar rumah berdasarkan standar Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, isu polusi udara akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini menjadi masalah di mana-mana. Soal polusi udara, Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), Michelle Bachelet, menyoroti dampak buruknya terhadap anak-anak.
"Polusi udara membuat anak-anak rentan mati," kata Michelle Bachelet lewat akun Twitternya, @mbachelet, Minggu (22/9).
"Dalam banyak kasus, anak-anak bahkan tak bisa bernapas dengan aman di dalam rumah mereka sendiri. Udara bersih adalah hak asasi manusia dan memerangi polusi udara bisa dilakukan. Kita perlu melakukan aksi sekarang," cuitnya.
Dia menggunakan tagar #AirPollution, #CleanAir, dan #ActNow.
Di Indonesia, asap kebakaran hutan dan lahan masih menjadi masalah, utamanya di bagian Pulau Sumatera dan Kalimantan. Asap mengganggu penerbangan, sejumlah kabupaten meliburkan sekolahnya. Bahkan asap juga sampai mengganggu negara tetangga.
Terpapar Asap Pekat, Ibu Hamil dan Anak di Pekanbaru Cemas:
Halaman 2 dari 1











































