detikNews
Minggu 22 September 2019, 09:18 WIB

Langit Jambi Merah, BMKG: Konsentrasi Debu Polusi Sangat Tinggi

Faiq Hidayat - detikNews
Langit Jambi Merah, BMKG: Konsentrasi Debu Polusi Sangat Tinggi Langit merah di Jambi (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat warna langit di Kabupaten Muaro Jambi berubah jadi merah. BMKG menganalisis terjadinya fenomena tersebut.

BMKG menyebut warna langit berubah menjadi merah karena ada hamburan sinar matahari partikel mengapung di udara yang berukuran kecil (aerosol). Hamburan ini dikenal dalam teori fisika dengan istilah 'mie scattering'.

"Mengapa langit memerah? Jika ditinjau dari teori fisika atmosfer pada panjang gelombang sinar tampak, langit berwarna merah ini disebabkan oleh adanya hamburan sinar matahari oleh partikel mengapung di udara yang berukuran kecil (aerosol), dikenal dengan istilah hamburan 'mie' ('mie scattering'). 'Mie scattering' terjadi jika diameter aerosol dari polutan di atmosfer sama dengan panjang gelombang dari sinar tampak (visible) matahari," kata Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto kepada wartawan, Minggu (22/9/2019).

Fenomena langit merah itu terlihat sore hari ini di Muaro Jambi. Di pagi hari, warna langit menguning, lalu kian merah saat sore.

Siswanto menjelaskan panjang gelombang sinar merah pada ukuran 0,7 mikrometer atau lebih dengan konsentrasi sangat tinggi. Selain itu, sebaran partikel polutan luas untuk membuat langit berwarna merah.

"Kita mengetahui bahwa konsentrasi debu partikulat polutan berukuran kurang dari 10 mikrometer sangat tinggi di sekitar Jambi, Palembang, dan Pekanbaru. Tetapi langit yang berubah merah terjadi di Muaro Jambi ini, berarti debu polutan di daerah tersebut dominan berukuran sekitar 0,7 mikrometer atau lebih dengan konsentrasi sangat tinggi. Selain konsentrasi tinggi, tentunya sebaran partikel polutan ini juga luas untuk dapat membuat langit berwarna merah," ujar dia.

"Mengapa dikatakan ukuran partikel bisa lebih dari 0,7 mikrometer? Ini dikarenakan mata manusia hanya dapat melihat pada spektrum visibel (0,4-0,7 mikrometer)," sambung Siswanto.





Lebih lanjut, dia mengatakan, berdasarkan pantauan satelit Himawari-8 tertanggal 21 September, di sekitar Muaro Jambi terdapat banyak titik panas dan sebaran asap yang sangat tebal. Asap tersebut juga dialami wilayah lain yang tampak berwarna cokelat.

"Asap dari karhutla ini berbeda dari daerah lain yang juga mengalami kebakaran, wilayah lain pada satelit tampak berwarna cokelat. Namun di Muaro Jambi menunjukkan warna putih yang mengindikasikan bahwa lapisan asap yang sangat tebal. Hal ini dimungkinkan karena karhutla yang terjadi di wilayah tersebut, terutama pada lahan-lahan gambut," ucap dia.




(fai/zak)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com