Tan Malaka Inisiator Rapat Raksasa Ikada yang Diperingati Jakarta?

Danu Damarjati - detikNews
Kamis, 19 Sep 2019 20:44 WIB
Foto ilustrasi: Lukisan bergambar Tan Malaka, pahlawan nasional Indonesia (Ari Saputra/detikcom))
Foto ilustrasi: Lukisan bergambar Tan Malaka, pahlawan nasional Indonesia (Ari Saputra/detikcom))
Jakarta - Rapat raksasa di Lapangan Ikada pada 19 September 1945 selalu diperingati tiap tahun oleh Pemerintah Provinsi DKI, tak terkecuali hari ini yang bertepatan dengan 74 tahun peristiwa bersejarah itu. Siapa penggagas aksi massa di awal kemerdekaan itu?

74 Tahun lalu, balatentara penjajah Jepang masih berada di mana-mana karena belum mengakui Negara Republik Indonesia. Padahal sebulan sebelumnya, Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya.



Pemuda dan situasi Jakarta

Sejarawan Robert Cribb dalam 'Gangsters and Revolutionaries' menjelaskan perihal kondisi saat itu. Ada kelompok-kelompok pemuda yang mengemuka, yakni Prapatan 10 dan Menteng 31.

Kelompok Prapatan 10 bermarkas di Jalan Prapatan 10, berisi mahasiswa-mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran. Kelompok Menteng 31 menempati markas yang saat ini dikenal sebagai Gedung Joeang '45.

Anak Menteng 31 membentuk organisasi API (Angkatan Pemuda Indonesia) pada 1 September. Ketua API adalah Wikana dari Asrama Indonesia Merdeka, Wakil Ketuanya adalah Chaerul Saleh dari Asrama Menteng 31, Bendaharanya adalah Darwis dari Prapatan 10. Pemuda-pemuda lainnya yang mengemban kepemimpinan adalah Aidit, Pardjono, Hanafi, Kusnandar, Djohar Nur, dan Chalid Rasjidi. Organisasi ini rencananya dibentuk sebagai sayap bersenjata organisasi yang lebih besar bernama Komite van Aksi.

API dengan cepat menyulut simpati anak-anak muda Jakarta yang kurang terdidik. API menyerukan Manifesto Komite van Aksi. Inti seruannya, mengajak orang-orang untuk mengambil alih persenjataan, kantor-kantor, dan bisnis yang saat itu masih dikelola Jepang. Seruan itu disiarkan lewat radio.

API mendorong orang-orang untuk mengambil alih perusahaan kereta api dan trem, radio, hingga pusat telepon. Stasiun Manggarai dan Jatinegara telah dideklarasikan sebagai milik Republik pada 3 September.



Inisiator

Benedict Anderson dalam 'Java in a Time of Revolution' menuliskan, para pemuda di Menteng 31 berencana menggelar demonstrasi besar-besaran mendukung Republik Indonesia.

Tujuan demo besar itu supaya pemerintah Presiden Sukarno lebih tegas menyatakan diri terpisah dari Mayor Jenderal Moichiro Yamamoto (Komandan Angkatan Darat Pemerintahan Militer Jepang di Hindia-Belanda) dan Jenderal Nagano Yuichiro (Komandan ke-16 Jepang).

Harry A Poeze dalam buku 'Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia' menuliskan rencana demo besar ini mengambil inspirasi dari aksi massa 11 September di Surabaya yang berhasil dilancarkan tanpa tindakan represif tentara Jepang.

Siapakah inisiator demonstrasi di Jakarta kala itu? Harry A Poeze membuka wacana, demonstrasi itu adalah gagasan Tan Malaka.

"Pada tanggal 15 September saja rasa tibalah waktunja untuk mengusulkan apa jang saja sebutkan satu udjian-kekuatan (krachtproef). Saja maksudkan, ialah mengadakan satu demonstrasi, jang dapat memisahkan Jang-kawan daripada Jang-lawan, dan dapat menentukan berapa kuatnja kawan dan berapa pula kuatnja lawan pada ketika itu. Sungguhpun pada masa itu Pemerintah Republik sudah diadakan, tetapi kekuasaan administrasi, kepolisian dan ketentaraan masih berada ditangannja Djepang. Rupanja Djepang masih belum melepaskan maksudnja hendak menjerahkan Indonesia kepada Sekutu sebagai harta pindahan (inventaris) kepada pehak Jang-Menang oleh pehak Jang-Kalah," demikian kata Tan Malaka dalam 'Dari Penjara ke Penjara' dikutip Harry A Poeze.

Gagasan itu dinilai sesuai dengan strategi politik 'Massa-Actie' yang dianut Tan Malaka 20 tahun sebelumnya. Tan menyebut tanggal 15 September. Dalam catatannya, tanggal itu cocok dengan tanggal rapat prakarsa mahasiswa di Prapatan 10, kelompok pemuda disebut di awal tulisan ini.



Rapat itu tak hanya diikuti kelompok Prapatan 10, namun juga kelompok-kelompok pemuda lainnya. Lewat rapat 15 September, mereka merencanakan demonstrasi besar akan digelar pada 17 September 1945.

Apakah Tan Malaka hadir di rapat 15 September itu? Tidak. Namun Harry meyakini gagasan Tan telah dibawa oleh pembawa pesan ke forum rapat.

"Tan malaka tidak hadir dalam pertemuan itu. Sumbangan pikirannya tentunya disampaikan melalui seorang perantara, barangkali sebagai akibat dari hubungannya dengan kelompok Menteng yang masih baru. Bisa juga terjadi karena Soebardjo (Achmad Soebardjo yang kemudian jadi Menlu -red), yang menjalin hubungan baik dengan kelompok Prapatan-bagaimanapun lebih baik dibanding dengan kelompok pemuda Menteng-atau, lebih mungkin lagi, karena pemuda dari kelompok Kaigun yang selama minggu-minggu yang lalu secara politis telah ditempa dan dididik oleh Tan Malaka," tulis Harry.

Ada pula dugaan, Tan Malaka sebenarnya hadir dalam rapat-rapat persiapan demonstrasi dengan menyamar sebagai Iljas Hussein. Akhirnya persiapan memuncak. Pemuda dari Prapatan 10 berkoalisi dengan pemuda dari Menteng 31.

"Menteng mengurusi masalah propaganda untuk demonstrasi, dan menjamin akan hasil yang sebaik-baiknya. sedangkan pada kelompok Prapatan dipercaya untuk urusan keamanan demonstrasi, dan untuk berhubungan dengan Sukarno, Hatta, dan para menteri; mereka bisa memasuki kalangan pemerintah lebih baik daripada kelompok Menteng radikal," tulis Harry.



Dipilihlah tempat demonstrasi yakni di Lapangan Ikada, di situ ada panggung yang bisa digunakan Sukarno untuk pidato. Namun karena persiapan demonstrasi ternyata butuh waktu lebih, maka jadwal demonstrasi diundur dua hari dari 17 September ke 19 September 1945.

Pendapat Asvi Warman Adam

Sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berpendapat rapat raksasa itu terselenggara berkat pemuda-pemuda Menteng 31. Meski begitu, tak dapat dipungkiri Tan Malaka ada di sisi Sukarno saat Sukarno menghadiri aksi 19 September kala itu.

"Inisiator rapat itu adalah generasi muda mahasiswa yang berkumpul di Menteng Raya 31. Harry Poeze lewat analisis foto memperlihatkan bahwa Tan Malaka berada di dekat Sukarno ketika Presiden menuju podium di Lapangan Ikada untuk berpidato. Pidato itu singkat, hanya sebentar saja," tutur Asvi kepada detikcom, Kamis (19/9/2019).



Menteng 31 adalah pusat jaringan mobilisasi di Jakarta yang menjangkau koordinasi ke tempat sekitar, seperti Cikampek, Karawang, Bekasi, Bogor, Tangerang, dan Banten. Orang-orang dari Menteng 31 sering keluar masuk kampung menemui kepala desa dan tokoh masyarakat untuk ikut aksi 19 September di Lapangan Ikada.

Asvi juga menilai rapat itu terselenggara berkat masukan dari Tan Malaka." Pemrakarsa dan pelaksana rapat akbar Ikada itu adalah para pemuda setelah mendapatkan masukan dari Tan Malaka," tuturnya.

Tan Malaka Inisiator Rapat Raksasa Ikada yang Diperingati Jakarta?Asvi Warman Adam (Ari Saputra/detikcom)



Pendapat JJ Rizal

Sejarawan lulusan Universitas Indonesia (UI) dan pendiri penerbit Komunitas Bambu, JJ Rizal, menilai keterangan Tan Malaka dalam buku 'Dari Penjara ke Penjara' adalah pernyataan sepihak oleh Tan sendiri. Maka pernyataan demikian tak bisa diterima secara langsung.

"Ini hanya pengakuan sepihak, sebab jika diperbandingkan dengan banyak sumber lainnya akan berbeda," kata Rizal.



Rizal cenderung meyakini gagasan awal Rapat Raksasa 19 September 1945 ini dipelopori oleh para kaum muda saat itu. Dua kelompok utama kembali disebut.

"Gagasan rapat itu muncul dari pikiran kolektif para pemuda Prapatan 10 dan Menteng 31 yang merasa kedaulatan RI yang baru diproklamasikan terancam oleh kedatangan tentara Sekutu dan Belanda pada pertengahan September," kata Rizal.

Tan Malaka Inisiator Rapat Raksasa Ikada yang Diperingati Jakarta?JJ Rizal (Rachman Haryanto/detikcom)
(dnu/fjp)