Tan Malaka Inisiator Rapat Raksasa Ikada yang Diperingati Jakarta?

Danu Damarjati - detikNews
Kamis, 19 Sep 2019 20:44 WIB
Foto ilustrasi: Lukisan bergambar Tan Malaka, pahlawan nasional Indonesia (Ari Saputra/detikcom))
Foto ilustrasi: Lukisan bergambar Tan Malaka, pahlawan nasional Indonesia (Ari Saputra/detikcom))

Siapakah inisiator demonstrasi di Jakarta kala itu? Harry A Poeze membuka wacana, demonstrasi itu adalah gagasan Tan Malaka.

"Pada tanggal 15 September saja rasa tibalah waktunja untuk mengusulkan apa jang saja sebutkan satu udjian-kekuatan (krachtproef). Saja maksudkan, ialah mengadakan satu demonstrasi, jang dapat memisahkan Jang-kawan daripada Jang-lawan, dan dapat menentukan berapa kuatnja kawan dan berapa pula kuatnja lawan pada ketika itu. Sungguhpun pada masa itu Pemerintah Republik sudah diadakan, tetapi kekuasaan administrasi, kepolisian dan ketentaraan masih berada ditangannja Djepang. Rupanja Djepang masih belum melepaskan maksudnja hendak menjerahkan Indonesia kepada Sekutu sebagai harta pindahan (inventaris) kepada pehak Jang-Menang oleh pehak Jang-Kalah," demikian kata Tan Malaka dalam 'Dari Penjara ke Penjara' dikutip Harry A Poeze.

Gagasan itu dinilai sesuai dengan strategi politik 'Massa-Actie' yang dianut Tan Malaka 20 tahun sebelumnya. Tan menyebut tanggal 15 September. Dalam catatannya, tanggal itu cocok dengan tanggal rapat prakarsa mahasiswa di Prapatan 10, kelompok pemuda disebut di awal tulisan ini.



Rapat itu tak hanya diikuti kelompok Prapatan 10, namun juga kelompok-kelompok pemuda lainnya. Lewat rapat 15 September, mereka merencanakan demonstrasi besar akan digelar pada 17 September 1945.

Apakah Tan Malaka hadir di rapat 15 September itu? Tidak. Namun Harry meyakini gagasan Tan telah dibawa oleh pembawa pesan ke forum rapat.

"Tan malaka tidak hadir dalam pertemuan itu. Sumbangan pikirannya tentunya disampaikan melalui seorang perantara, barangkali sebagai akibat dari hubungannya dengan kelompok Menteng yang masih baru. Bisa juga terjadi karena Soebardjo (Achmad Soebardjo yang kemudian jadi Menlu -red), yang menjalin hubungan baik dengan kelompok Prapatan-bagaimanapun lebih baik dibanding dengan kelompok pemuda Menteng-atau, lebih mungkin lagi, karena pemuda dari kelompok Kaigun yang selama minggu-minggu yang lalu secara politis telah ditempa dan dididik oleh Tan Malaka," tulis Harry.
Selanjutnya
Halaman
1 2 3 4 5