Terbuat dari Daun Lontar, Topi Khas Rote Bisa Tahan Setahun

ADVERTISEMENT

Terbuat dari Daun Lontar, Topi Khas Rote Bisa Tahan Setahun

Moch Prima Fauzi - detikNews
Kamis, 19 Sep 2019 16:55 WIB
Foto: (Afif Farhan/detikcom)
Jakarta -
Pulau Rote punya topi khas bernama Ti'i Langga. Topi ini terbuat dari anyaman daun pohon lontar yang masih muda. Meski demikian, Ti'i Langga bisa awet hingga satu tahun.
detikcom mengunjungi salah satu perajin Ti'i Langga yang berada di Kelurahan Mokdale, Kecamatan Lobalain, Kabupaten Rote Ndao. Ini adalah kabupaten yang berada di sisi paling selatan di Indonesia.
Markus Otto (54), sudah membuat Ti'i Langga sejak 2012. Dia awalnya melihat para warga yang membuat kerajinan ini, lantas meniru dan akhirnya terus membuatnya hingga saat ini.

Keahlian ini pun menjadi penopang ekonomi bagi keluarganya. Sebab, Markus dulunya adalah seorang pekerja di proyek. Namun kini ia sudah menjadi perajin Ti'i Langga secara full time.
Ti'i Langga dibuat dari daun lontar muda yang dianyam sedemikian rupa. Keunikan dari topi khas Rote ini adalah memiliki cula seperti unicorn. Markus mengaku bahan untuk membuat Ti'i Langga ia beli dari tetangga atau warga lainnya.
"Saya beli dari orang. Satu ikat ini (daun lontar yang sudah dipotong) harganya Rp 10 ribu," ujarnya ketika ditemui di kediamannya, beberapa waktu lalu.
Meski terbuat dari daun lontar muda, topi ini dikatakan Markus bisa bertahan hingga satu tahun. Namun ada syaratnya, agar topi Ti'i Langga bisa awet dan tahan lama.

Terbuat dari Daun Lontar, Topi Khas Rote Bisa Tahan SetahunFoto: Ari Saputra
"Asal jangan kena air biar tahan lama. Terus ambil daun hitung (musim) miting (air laut surut). Kalau surut tunasnya keluar itu yang bagus. Biasanya air laut surut itu bulan 7, bulan 8, bulan 9, pas musim panas," kata Markus.
Satu topi Ti'i Langga bisa memakan proses pembuatan hingga dua hari. Jika pesanan sudah membludak, ia juga mempekerjakan warga sekitar untuk penganyamannya. Mereka dibayar Rp 50 ribu per tiga topi.
Sementara satu topi Ti'i Langga yang sudah jadi bisa ia jual seharga Rp 150 ribu hingga Rp 175 ribu. Biasanya pembeli datang langsung ke rumahnya. Atau ada juga yang memesannya terlebih dahulu. Selain digunakan sehari-hari, Ti'i Langga juga diburu oleh wisatawan yang datang ke Kupang dan Rote sebagai cinderamata.

Dari kerajinan Ti'i Langga ini, Markus bisa memiliki penghasilan untuk kebutuhan keluarganya.
"Kalau ini dua minggu bisa dapat Rp 2 juta. Kalau satu bulan bisa dapat Rp 5 juta. Kalau satu bulan bisa buat 50 topi berarti Rp 5 juta kalau 30 Rp 3 jutaan," ungkapnya.
Dalam menjalankan usahanya itu, Markus dibantu oleh dana kredit usaha rakyat atau KUR dari Bank BRI yang membantu pengusaha mikro, kecil, dan menengah sepertinya. Dana tersebut ia gunakan sebagai tambahan modal untuk membuat Ti'i Langga.
"Pinjam sedikit. Kalau habis (modalnya), pinjam lagi. Untuk perbanyak bikin topi," pungkas Markus.
detikcom bersama Bank BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!
(prf/ega)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT