Demo di Yogya, SBY Diplesetkan Jadi 'Sengsara Banget Yo'
Jumat, 28 Okt 2005 17:28 WIB
Yogyakarta - Memperingati hari lahir Sumpah Pemuda ke-77, sekitar 300-an massa tergabung dalam Komite Bersama Rakyat Jogja Menolak Lenga Larang (Koramell) hari ini, menggelar aksi demo menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Dalam aksi menolak mahalnya harga minyak itu juga mempelesetkan SBY menjadi 'Sengsara Banget Yo' dan 'Soyo Susah Yo' (semakin susah ya).Aksi yang digelar hari ini Jumat (28/10/2005) pukul 15.30 Wib diawali dari halaman Gedung DPRD DIY di Jl Malioboro menuju Gedung Agung di Jl Ahmad Yani Yogyakarta. Setelah massa berkumpul, langsung membentuk barisan sambil mengacung-acungkan beberapa poster yang dibawa. Poster dan spanduk itu diantaranya bertuliskan 'turunkan harga BBM, tolak liberalisasi, BBM naik rakyat sakit, JK jangan kemaki (sok kuasa/sombong - red), SBY = Soyo Bubrah Yo.'Selain itu dibentangkan pula spanduk bertuliskan 'tolak kenaikan BBM : bensin, solar, minyak tanah.' Di depan barisan, beberapa mahasiswa menggelar happening art yang menggambarkan kesengsaraan rakyat akibat kenaikan BBM. Dua orang memakai jas dan mengenakan topeng bergambar SBY-JK naik di atas gerobak sampah. Beberapa orang mengenakan pakaian compang-camping membawa kompor minyak tanah dengan susah payah menairk gerobak yang dinaiki 'SBY-JK.'Dalam aksi itu sempat mendaat pengawalan ketat dari aparat Poltabes Yogyakarta. Satu truk aparat Poltabes terus mengawal peserta aksi melewati Jalan Malioboro dan Ahmad Yani. Di sekitar Malioboro juga dijaga ketat oleh anggota Unit Reaksi Cepat (URC) Poltabes dengan mengendarai sepeda motor trail. Saat melewati kawasan Malioboro, sempat memacetkan arus lalu lintas selama lebih kurang 1,5 jam.Koordinator aksi Widhihasto dalam orasinya mengatakan satu tahun pemerintahan SBY-Kalla tidak ada perubahan seperti yang janjikan saat kampanye pilpres. Sebaliknya pemerintahan SBY terutama setelah dinaikkannya harga BBM justru semakin tidak berpihak kepada kepentingan rakyat. Pemerintahan SBY justru berusaha lebih berpihak kepada kepentingan asing."Setahun memerintah SBY malah menaikkan harga BBM dua kali. Ini jelas SBY-JK telah tunduk kepada kepentingan modal asing. Apa yang dijanjikan dulu omong kosong semua," kata Widhihasto.Menurut Widhihasto menaikkan harga BBM bukanlah sebuah cara yang baik, sebaliknya justru menyengsarakan rakyat. Untuk menghindari kenaikan BBM, SBY seharusnya lebih dulu menyita harta para koruptor, menasionalisasi aset negara yang dikuasai asing dan menolak membayar hutang. "Tapi nyatanya semua itu tidak dilakukan pemerintah, karena takut investasi asing tidak masuk ke ndonesia. Dan pemerintah malah memilih mencekik rakyat dengan menaikkan harga BBM," katanya.Selain itu, dia juga menyinggung masalah bantuan tunai langsung sebesar Rp 100 ribu kepada rakyat miskin itu, tidak ubahnya seperti permen yang dibagikan kepada anak-anak kecil. Tujuannya hanya untuk menyumbat agar rakyat tidak protes atas kenaikan BBM."Uang Rp 100 ribu tidak akan membuat rakyat keluar dari krisis. Sebaliknya mlah menimbulkan kecemburuan sosial dan konflik. Oleh karena itu tidak kata lain kecuali batalkan segera kenaikan BBM dan turunkan harga sembako," tegas Widhihasto.
(jon/)











































