detikNews
Selasa 17 September 2019, 15:55 WIB

Mendes Dorong Pengembangan Kawasan Transmigrasi Berbasis Teknologi

Akfa Nasrulhak - detikNews
Mendes Dorong Pengembangan Kawasan Transmigrasi Berbasis Teknologi Foto: Dok. Kemendes
Jakarta - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo mengatakan gross domestic product (GDP) Indonesia yang makin meningkat mendorong pemerintah untuk melakukan reformulasi program transmigrasi. Reformulasi tersebut dilakukan dengan model bisnis kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan swasta.

"Kita tidak bisa pakai paradigma lama karena zamannya berbeda. Saat program transmigrasi pertama diluncurkan, GDP per kapita Indonesia di bawah USD 10. Sekarang GDP per kapita sudah USD 4.000. Diperkirakan tahun 2045 GDP sudah USD 20.000. Kita perlu dorong model-model transmigrasi yang kolaboratif, jadi tidak dari sisi pemerintah saja," ujar Eko dalam keterangan tertulis, Selasa (17/9/2019).


Saat membuka Kongres Nasional Transmigrasi Indonesia di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta itu, Eko mengatakan pengembangan kawasan transmigrasi juga harus memanfaatkan perkembangan teknologi industri 4.0. Ia menepis anggapan ketidakmampuan transmigran bersaing di era tersebut.

"Ada yang mencibir bagaimana memulai 4.0 di daerah transmigrasi. Mereka salah. Teknologi 4.0 adalah bagaimana menggunakan teknologi tersebut agar menjadi lebih produktif dan gampang, sehingga orang yang tidak memiliki knowledge (pengetahuan) juga bisa memanfaatkannya untuk produktivitas lebih baik," terangnya.

Menurut Eko, program transmigrasi telah berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi di luar Jawa. Meski demikian, tantangan program transmigrasi saat ini lebih besar mengingat kebutuhan transmigran masa lalu dan saat ini jauh berbeda. Tak hanya rumah, lahan pertanian, dan biaya hidup sementara, transmigran juga butuh model bisnis baru yang dapat memberikan nilai tambah bagi transmigran.

"Dulu yang penting bisa dipindahkan dari daerah padat ke daerah yang membutuhkan. Transmigran diberikan sandang, pangan, papan sudah cukup. Saat ini tidak hanya cukup hanya itu. Mereka ingin anaknya sekolah sampai perguruan tinggi, hidup layak seperti masyarakat menengah di perkotaan," ujarnya.


Untuk itu, Eko meminta peserta Kongres Nasional Transmigran dapat merumuskan model yang bisa memberikan benefit lebih besar kepada transmigran. Jika tidak ada benefit lebih yang diberikan kepada transmigran, ia khawatir para transmigran pulang ke kampung halaman atau melakukan urbanisasi ke kota.

"Semoga kongres ini bisa menciptakan model bisnis baru untuk transmigrasi, untuk menjawab tantangan-tantangan besar kita di masa akan datang," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan Keuangan dan Sistem Informasi UGM Supriyadi mengatakan UGM aktif berpartisipasi membangun desa, daerah tertinggal, dan transmigrasi sejak 1970-an. Salah satu partisipasi tersebut adalah dengan mengirimkan lebih dari 8.000 mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) setiap tahunnya.

Untuk mengetahui informasi lainnya dari Kemendes PDTT, klik di sini.
(akn/prf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com