DBD Jangkiti 32 Daerah di Jateng

DBD Jangkiti 32 Daerah di Jateng

- detikNews
Jumat, 28 Okt 2005 14:09 WIB
Semarang - Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) ternyata masih menjadi momok di Jateng. Data per Oktober 2005 menunjukkan, DBD menjangkiti 32 dari 35 daerah yang ada. "Kasus DBD terjadi merata di Jateng. Hanya Purworejo, Banjarnegara, dan Wonosobo yang bebas," kata Kepala Sub Dinas (Kasubdin) Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular Dinkes Jateng Lily Herawaty di kantornya, Jalan Pierre Tendean, Semarang, Jum'at (28/10/2005).Pada Bulan Agustus-September 2005 ini, terjadi peningkatan kasus DBD di Jateng. Meski demikian jika dibandingkan tahun 2004 pada periode yang sama (Januari-Oktober), tahun ini jumlah kasus DBD lebih rendah.Pada tahun 2004 (Januari - Oktober), terjadi 8.737 kasus dengan jumlah kematian mencapai 149. Sedang pada tahun 2005, kasusnya berjumlah 3.551 dengan kematian sebanyak 80 kasus. "Ini lebih karena situasi lingkungan dan kesehatan masyarakat saja," tutur Lily.Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng Budihardja menambahkan, pihaknya belum perlu menggelar fogging secara serentak karena penyebab meningkatnya kasus DBD terus diteliti. Ada yang memang karena lingkungannya jelek, ada juga yang virusnya dibawa dari luar."Fogging itu tidak mendidik. Kita hanya memusnahkan nyamuk tapi tidak sampai jentiknya. Itu hanya memberi rasa aman semu," kata Budi.Budi menjelaskan, pemberantasan DBD akan lebih baik kalau dilakukan dengan tindakan preventif seperti 3M (Menguras, Membersihkan, dan Mengubur). "Siapa pun pasti bosan mendengar kata ini (3M), tapi demi kebaikan kita bersama, ya ini yang harus dilakukan," ungkapnya.Mengenai persiapan Lebaran, Budi menyatakan, pihaknya telah mengirim surat ke daerah agar RS atau Puskesmas di sepanjang jalur strategis buka 24 jam. Jika kemudian ada kemungkinan terburuk, tim medis diharapkan bisa langsung menangani.Selain itu, Dinkes Jateng juga membentuk posko mulai H-7 hingga H+7 Lebaran. "Kami bekerja sama dengan RAPI untuk pola komunikasinya. Tujuannya, agar keadaan mudik terpantau dengan baik. Misalnya, bencana alam," demikian Budihardja. (iy/)


Berita Terkait