Saksi Ahli: Munir Keracunan Arsenik Akut
Jumat, 28 Okt 2005 13:25 WIB
Jakarta - Ahli toksikologi dari Puslabfor Mabes Polri AKBP Addy Qurresman memastikan penyebab kematian pejuang HAM Munir karena keracunan arsenik akut."Munir meninggal karena keracunan arsenik akut karena hasil pemeriksaan tim di Belanda menunjukkan lambung, darah, dan urine menunjukan kadar yang tinggi," kata Addy.Kesaksian ini disampaikan dalam sidang terdakwa Pollycarpus di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada, Jumat (28/10/2005). Sidang yang diketuai majelis hakim Cicut Sutiarso rencananya akan mendengarkan keterangan dari 4 saksi. Namun tiga saksi di antaranya absen yakni dr Budi Sampurno, Avrianto, dan Rizal Aldo. Mereka tengah bertugas ke luar kota. Jadinya, hanya Addy saja yang bersaksi. Sementara terdakwa Pollycarpus terlihat mengenakan kemeja kotak-kotak merah.Menurut Addy, ditemukan 460 miligram per liter konsentrasi cairan dalam lambung Munir dan 82,8 miligram per liter adalah arsen. "82,8 ini mendekati nilai fatal bila masuk ke dalam tubuh manusia. Kita tidak tahu in take-nya berapa tetapi bisa dipastikan masuknya lewat oral, bisa makanan atau minuman.Dijelaskan dia, tim Belanda mengambil kesimpulan arsen menjadi penyebab kematian Munir karena hingga diuji ulang dua kali zat arsen lebih tinggi atau lebih menonjol dari yang lain."Tim Belanda pun tidak mengetahui asal mula senyawa itu cair atau padat. Mereka hanya mengatakan arsen tersebut sudah berbentuk cair ketika ditemukan di lambung dan darah," kata Addy.Kalau arsen bentuk aslinya apa? tanya hakim Cicut."Umumnya arsen dalam bentuk padat mirip seperti gula dalam bentuk kristal tetapi lebih padat sedikit. Bila dicampur akan cepat larut apalagi dengan yang mengandung asam seperti orange juice," ungkap Addy."Arsen paling cepat bereaksi setengah sampai satu jam. Paling lambat tiga sampai empat jam tergantung kondisi fisik dan aktivitas yang dilakukan.Bila dia bergerak, reaksi akan lebih cepat. Tetapi bila duduk tentu saja lebih lambat," lanjutnya.Gejala awal keracunan arsen reaksinya adalah nyeri perut, diikuti mual, pusing, diare, nyeri lambung, dan dehidrasi."Tim dari Belanda tidak bisa menerangkan kapan arsen mulai dikonsumsi Munir. Itu terjadi karena senyawa awalnya tidak diketahui cair atau padat. Kalau kita ketahui senyawa awalnya, dapat ditentukan kapan waktunya dan kita juga memiliki keterbatasan sampel yang dimiliki," kata Addy.Majelis hakim memutuskan melanjutkan sidang pada 10 November dengan agenda pemeriksaan saksi.
(aan/)











































