Menengok Keluarga Anak Berkebutuhan Khusus di Pusat Kota Bali

Aditya Mardiastuti - detikNews
Senin, 16 Sep 2019 17:51 WIB
Keluarga anak berkebutuhan khusus di pusat lota Bali. (Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom)
Denpasar - Rumah bercat putih di lahan milik Pemprov Bali, Jl Tantular gang Kehutanan, Denpasar menjadi tempat bernaung bagi tiga keluarga spesial. Tiga keluarga ini memiliki anak-anak berkebutuhan khusus yang menderita cerebral palsy. Total ada 8 anak yang mengalami lumpuh di rumah tersebut.

Tempat tinggal tiga keluarga ini mirip kontrakan dengan tiga pintu. Masing-masing memiliki teras dengan halaman yang ditanami pisang dan tanaman lainnya. Satu kontrakannya berukuran sekitar 5x6 meter, dicat dengan warna putih, dan ada jadwal 'jalan-jalan' bagi masing-masing anak yang ditempel di jendela rumah. Lokasi rumah mereka pun berada di dekat pusat pemerintahan di Renon, Bali.

Keluarga anak berkebutuhan khusus di pusat lota Bali.Keluarga anak berkebutuhan khusus di pusat kota Bali. (Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom)


Keluarga pertama yakni Nyoman Simpen dan Made Kari. Anak sulungnya, Ni Luh Indah (27) hanya bisa terbaring dan merespons dengan senyum atau tertawa, tanpa bisa bicara. Dia juga tersenyum semringah menyambut tamu yang hadir di rumahnya.

"Anak saya ini dari dulu lahiran memang gini nggak bisa gini, seperti lemes satu badan nggak bisa apa. Kalau diajak ke dokter dibilang polio, tapi sudah imunisasi lengkap, kandungan sudah 8 bulan, tapi tiga hari baru bisa lahir, nggak normal," kata Nyoman Simpen saat ditemui di tempat tinggalnya di Jl Tantular gang Kehutanan, Renon, Denpasar, Bali, Senin (16/9/2019).



Kelainan lainnya dirasakan Simpen saat Ni Luh berusia tiga bulan. Anak sulungnya itu mengalami sakit panas hingga kejang-kejang, peristiwa itu terjadi hingga usianya 4 tahun.

"Dia sudah umur tiga bulan lagi sakit kejang-kejang terus pagi sampai sore kejang-kejang panas luar biasa usia 3 bulan sampai dia umur 4 tahun begitu, tapi agak jarang. Langsung dicariin pengobatan Bali dia nangis sampai malam," terangnya.

Beruntung dua anaknya yang lain sehat dan bisa beraktivitas. Anak keduanya Made Sumerta (25) sekarang bekerja sebagai tukang kebun di kantor gubernur, dan adiknya Nyoman Sariasih (15) masih bersekolah di SMAN kelas X.

Simpen menyebut anak keduanya menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga. Sebab, suaminya Made Kari menderita stroke sejak 6 bulan terakhir dan hanya bisa terbaring di tempat tidur.

"Cuma anak kedua saya yang kerja, saya jaga kakaknya sama suami aja. Nggak bisa ditinggal ini belum lagi bapaknya sakit kan," terangnya.

Keluarga anak berkebutuhan khusus di pusat kota Bali.Keluarga anak berkebutuhan khusus di pusat kota Bali. (Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom)


Tak cuma Simpen di sebelah tempat tinggalnya, pasangan Nyoman Darma dan Nyoman Sarmini juga memiliki anak-anak berkebutuhan khusus. Dari enam anaknya, ada empat yang mengalami kelumpuhan bahkan keempat anaknya juga tak bisa bicara.

Keempat anaknya yaitu I Wayan Sudarma (23), Kadek Sudarsana (21), I Ketut Suartama (19), dan Luh Nanda Tebri Astari (11). Saat ditemui, ketiga anak lelakinya sedang berbaring di atas matras warna biru. Sementara, Nanda terlihat asyik bermain lego bersama adik dan tetangganya.

"Aktivitasnya cuma di kamar aja, yang bisa keluar Ketut dan Nanda. Kalau kepengin ya keluar," jelas Sarmini. Menjelang sore Ketut berjalan-jalan sore menggunakan kursi rodanya, adiknya Nanda sambil tertatih menuntun kursi roda kakaknya itu.



Sarmini menuturkan suaminya juga bekerja sebagai tukang kebun di kantor gubernur. Sarmini tak bekerja, dan menjaga keempat anaknya yang berkebutuhan khusus itu.

"Bapak kerja di kantor gubernur, di depan lapangan ya bersihin kolam, bikin pupuk kompos gitu," terangnya.

Pasangan Nengah Sumerti dan Nyoman Sadra juga senasib dengan Sarmini. Dari enam anaknya, ada tiga yang mengalami kelumpuhan. Beruntung dua anaknya yang lumpuh masih bisa berkomunikasi.

Ketiga anaknya yang berkebutuhan khusus yakni Wayan Suastika (27), I Komang Supartika (23), dan Luh Ayu Sukarini (7). Hanya Wayan yang tak bisa bicara dan cuma bisa terbaring di tempat tidurnya.

"Pas umur masih kecil masih respons kayak Komang, tapi sudah gede nggak bisa respons, nggak bisa jalan, cuma matanya gerak-gerak aja. Kakaknya tiga cewek-cewek, dua cowok ini aja gini," ujar Sumerti.

Komang bisa berbicara meski tak terlalu jelas, dia juga bisa bergerak meski dengan cara merayap. Sementara adiknya Ayu terlihat lincah dan lancar bicara meski kesulitan berjalan. Sumerti menuturkan Komang kerap membantunya untuk memahami permintaan dari Wayan jika sedang lapar ataupun kehausan.

"Yang besar kalau buang air besar di tempat nggak bisa ngomong, makanya Komang nggak mau bobok bareng, bau kan. Kalau Komang bisa bilang, dia juga yang ngartiin kalau kakaknya mau makan atau minum," ujar Sumerti yang disambut tawa dari Komang.

"Ini pas popoknya habis jadi pakai tas plastik (kresek). Jadi seadanya," sambungnya.



Ketiga keluarga ini rupanya juga masih ada hubungan saudara dari sisi ibu. Mereka berasal dari Banjar Abian Canang, Desa Ulakan, Karangasem. Ketiga keluarga ini tadinya tinggal kawasan Jl Bung Tomo, Denpasar.

Saat kontrakan habis, gubernur Bali yang kala itu dijabat Made Mangku Pastika membangun rumah yang mereka tinggali itu di lahan milik Pemprov Bali. Mereka sudah tinggal sejak 2015 di rumah tersebut.

"Hak pakai aja, tinggal nempatin kalau nanti tanahnya dibutuhin ya diminta pindah ya harus mau," tutur Simpen.

Dia menambahkan di tahun pertamanya pindah ke rumah tersebut pihaknya mendapatkan bantuan beras dari Pemprov. Setelah itu suami mereka diberi pekerjaan di kantor gubernur dan bantuan pun dihentikan.

"Biaya pengobatan paling dari BPJS aja, bantuan dari pemerintah belum. Awal ada bantuan beras 50 kg per tiga bulan, di tahun pertama aja, habis itu nggak ada lagi tapi bapak bisa kerja jadi tukang kebun," ujarnya.

Meski begitu, beberapa dermawan secara mandiri memberikan bantuan meski tidak rutin. Misalnya saja ada bantuan kursi roda atau kasur sumbangan dari warga maupun relawan yang datang sebulan sekali untuk menemani mereka yang lumpuh. Sarmini mengaku berat dengan penghasilan suaminya sekitar Rp 2,5 juta dan harus menafkahi keenam anaknya itu.

"Yang paling dibutuhkan ya sembako soalnya yang kerja cuma bapak. Paling popok dewasa untuk dipakai sehari-hari," ujar Sarmini. (ams/idn)