detikNews
Senin 16 September 2019, 14:46 WIB

Gundala Disanksi KPI karena 'Bangsat', Kasarkah Kata Itu?

Danu Damarjati - detikNews
Gundala Disanksi KPI karena Bangsat, Kasarkah Kata Itu? Gundala (dok. Screenplay)
Jakarta - Promo film karya Joko Anwar, Gundala, kena sanksi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Joko menyatakan hal ini karena dialog yang memuat kata 'bangsat' dalam filmnya. Dia mencoba menjelaskan makna 'bangsat'.

"Promo Gundala kena sanksi @KPI_Pusat karena ada dialog bilang 'Bangsat.'," cuit Joko lewat akun Twitter-nya, @jokoanwar, Senin (16/9/2019).

Dilansir dari situs web resmi KPI, lembaga ini telah melayangkan surat teguran tertulis untuk 14 program siaran di sejumlah lembaga penyiaran, televisi dan radio, Kamis (5/9) kemarin. Ke-14 program siaran kedapatan melanggar aturan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3-SPS) KPI tahun 2012, salah satunya adalah promo film 'Gundala' di stasiun televisi swasta nasional.

Kembali ke pernyataan Joko, dia menyitir 'Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)' soal 'bangsat' yang memiliki dua arti. Pertama, 'bangsat' adalah kepinding, kutu busuk (Cimex lectularius).

Kedua, 'bangsat' adalah istilah cakapan bermakna orang yang bertabiat jahat (terutama yang suka mencuri, mencopet, dan sebagainya). Contohnya: 'dasar anak bangsat'.



Terakhir, 'bangsat' dalam Bahasa Minangkabau artinya gembel dan miskin. Ada kata kiasan 'bangsat tak tahu disukarnya' yang artinya 'orang yang tidak tahu diri'.

Apakah 'bangsat' itu kasar?

Tak dimungkiri, kata 'bangsat' memang kerap dipakai untuk memaki. Makian tersebut biasa dituturkan dengan emosi.

Dalam buku 'Bahasa Indonesia Akademik' karya Eti Setiawati dkk, ragam bahasa adalah variasi bahasa yang berbeda-beda disebabkan oleh berbagai faktor, bisa faktor usia, pendidikan, profesi, hingga budaya. Apakah 'bangsat' masuk kategori ragam bahasa yang kasar?

Entri 'bangsat' (orang bertabiat jahat) dalam 'KBBI Edisi Kelima (V)' dimasukkan ke ragam 'cakapan' atau disingkat 'cak'. Selain ragam 'cakapan', ada ragam 'kasar' atau disingkat 'kas'. Entri 'bangsat' tak digolongkan 'KBBI' dalam ragam 'kasar'.

Terlepas dari 'KBBI', tentu saja kasar atau lembutnya suatu kata juga tergantung konteks, budaya, dan kebiasaan bertutur kata tiap orang.

Bangsat adalah serangga

Bila bangku sekolah Anda dulu terbuat dari kayu dan terkadang lengan Anda mengalami ruam-ruam serta bentol merah yang ukurannya lebih besar daripada yang disebabkan oleh gigitan nyamuk, kemungkinan ruam dan bentol itu adalah ulah si bangsat.

Bangsat sama saja dengan kutu busuk. Entomologis dari Sekolah Tinggi Ilmu Hayati-Institut Teknologi Bandung, Intan Ahmad, menulis 'Fakta tentang kutu busuk (bed bugs), Cimex hemipterus (Hemiptera: Cimicidae) dan cara pengendaliannya'. Jadi boleh dikatakan, ada bangsat Cimex lecturalius dan Cimex hemipterus.



Si bangsat ini mengisap darah. Hewan ini ada di tempat tidur, kursi, atau sofa. Namun tenang, bangsat bukan vampir, bangsat bisa mengisap darah sekali saja dalam lima bulan. Umur hewan mungil ini bisa setahun sampai satu setengah tahun.
Gundala Disanksi KPI karena 'Bangsat', Kasarkah Kata Itu?Joko Anwar di depan poster film karyanya, Gundala. (Hanif/detikHOT)


Di negara Barat, 'bangsat' dikenal sebagai 'bedbug'. Dilansir Livescience, bangsat berukuran 7 milimeter. Memang ada dua bangsat yang populer, yakni Cimex hemipterus yang hidup di wilayah tropis serta Cimex lecturalius. Bentuknya gepeng, tapi menjadi agak menggembung bila baru saja mengisap darah. Bangsat mengisap darah via belalai tajamnya. Biasanya bangsat mengisap darah mamalia dan burung.

Bangsat tak bisa terbang atau loncat. Dia tak punya sayap. Namun yang membuat hewan kecil ini bisa bertahan dari kerasnya hidup adalah kemampuan menyelinap, menjadi penumpang gelap, atau penghuni rahasia. Bangsat bisa saja hidup di kasur, tas, mebel, bahkan baju, tanpa diketahui manusia. Bangsat betina bisa bertelur 200 butir sepanjang hidupnya.



Di Indonesia, pada akhir dekade '70-an, bangsat menjadi masalah umum di rumah, gedung pertunjukan, hotel, dan tempat-tempat lainnya. Hampir tak ada kabar besar soal serangan kutu busuk pada dekade '80-an sampai 2000-an. Namun akhir-akhir ini, kutu busuk beranjak menjadi masalah lagi.

Tri Winiasih dalam tesisnya di UNS tahun 2010, Purami Sarah Sita Maskur dalam jurnal 'Skriptorium UNAIR', Rachmad Rizky Putra dari Unair secara garis besar punya satu persamaan pandangan, yakni pilihan binatang tertentu yang menjadi umpatan biasanya dilatarbelakangi faktor budaya. Misalnya, diharamkan atau dianggap najis oleh agama, sifat-sifatnya buruk, atau merugikan manusia.

Dalam hal ini, bangsat adalah hewan yang merugikan manusia, makanya menjadi umpatan. Bangsat punya perilaku mengisap darah dan sering bersembunyi di tempat-tempat tertentu.

Gundala Disanksi KPI karena 'Bangsat', Kasarkah Kata Itu?Cimex lecturalius, sebut saja 'bangsat' (PHIL-CDC/Wikimedia Commons)

(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com