Menepis Narasi 'Taliban' yang Menyerang Internal KPK

Round-Up

Menepis Narasi 'Taliban' yang Menyerang Internal KPK

Tim detikcom - detikNews
Senin, 16 Sep 2019 06:50 WIB
KPK (Foto: Faiq Hidayat/detikcom)
KPK (Foto: Faiq Hidayat/detikcom)
Jakarta - Isu 'taliban' menghiasi pusaran revisi UU KPK. Isu tersebut menyerang internal KPK yang dituding disusupi radikalisme, khususnya taliban.

Isu 'taliban' itu pun buru-buru ditepis oleh mantan Ketua KPK Busyro Muqoddas. Busyro menjelaskan bahwa taliban yang selama ini ada dalam tubuh KPK memiliki konteks yang berbeda. Dia mengatakan taliban yang dimaksud dalam KPK adalah untuk menggambarkan penyidik-penyidik KPK yang militan.

"Waktu saya masuk itu sudah ada Taliban-Taliban. 'Lha, kok Taliban to'. 'Pak ini tidak ada konotasi agama'. 'Lho kenapa?' Ini ikon Taliban itu menggambarkan militansi orang Afganistan, dan penyidik-penyidik KPK itu militan-militan. Ini ada Kristian Kristen, ini ada Kadek Hindu, ada Novel cs Islam. Jadi mereka biasa-biasa saja," kata Busyro kepada wartawan, Minggu (15/9/2019).



Busyro pun menduga isu taliban tersebut diembuskan pihak istana. "Jadi Taliban itu tidak ada konteksnya radikal. Hanya itu dipolitisasi. Dan politisasi itu ada indikasi dari istana," kata dia.

Dia menyayangkan isu radikalisme kemudian digoreng sedemikian rupa untuk melemahkan KPK. Busyro menilai isu radikalisme yang bahkan masuk dalam materi psikotes pimpinan KPK kekanak-kanakan.

"Kemudian dikembangkan oleh pansel kan. Mengapa baru kali ini pansel itu nggak punya kerjaan seolah-olah nggak punya konsep. Ada tiga guru besar, (tapi) materi psikotesnya pakai isu-isu radikalisme, tapi pertanyaan-pertanyaannya itu childish banget, misalnya kalau ada bendera Merah-Putih menghormati itu bagaimana. SMP itu," tutur Busyro.



Isu tersebut pun mendapat sorotan dari Anggota Koalisi Perempuan Antikorupsi Anita Wahid. Anita menyatakan telah melakukan tabayun dengan mendatangi KPK untuk mengetahui kebenaran isu radikalisme tersebut. Menurutnya, yang ditemukan adalah orang-orang yang, meminjam istilah populer saat ini, tengah 'hijrah'.

"Secara pribadi saya sendiri melakukan tabayun, datang ke sana (KPK) nanya-nanya. Dan yang saya temukan bukan radikalisme, tetapi hanya orang-orang yang kalau zaman sekarang sebutannya 'hijrah' lah," ungkap Anita saat ditemui di kawasan Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Minggu (15/9/2019).



"Dan kemudian saya menemukan bahwa KPK sudah melakukan langkah-langkah dengan mendatangi lembaga-lembaga tertentu, seperti datang ke BNPT untuk mempelajari radikalisme, bagaimana mengetahui ciri-ciri dan mengidentifikasi apakah memang ini terjadi di KPK atau tidak," lanjut dia.

Anita menyebut isu radikalisme di internal KPK ini kemudian menjadi pembenaran untuk segera mengesahkan revisi UU KPK dan terpilihnya Irjen Firli Bahuri sebagai Ketua KPK yang baru. Menurutnya, hal itu tidaklah tepat.

"Menurut saya inilah yang nggak bener. Kalau misalnya ada radikalisme, saya yakin masyarakat sipil kalau diajak bicara pasti mau mendukung. Siapa sekarang yang tidak mau melawan radikalisme? Tetapi melawan radikalisme dengan cara melemahkan pemberantasan korupsi, itu adalah kesalahan besar," kata Anita. (mae/imk)